INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

TORPEDO, SI LONJONG YANG TIDAK REWEL
Lahannya tidak begitu luas, jumlah tanamannya pun tidak begitu banyak, hanya sekitar 1.500 tanaman, namun senyum kepuasan nampak jelas dari pasangan Mukarlan dan Yatini saat melihat semangka Torpedo yang mereka tanam itu hendak dipanen. Buah yang besar dan seragam nampak terserak di antara sulur-sulur tanaman dengan daun yang masih subur menghijau.

Mukarlan dan Yatini memang baru pertama kalinya menanam semangka hibrida tipe oblong produksi PT. BISI International Tbk itu. Hasil yang memuaskan tak ayal membuat mereka langsung yakin untuk kembali menanam semangka itu.“Musim depan pasti sudah banyak petani di sini yang akan menanam semangka ini, karena banyak yang mengutarakan keinginannya untuk ikut menanam setelah melihat tanaman saya,” ujar Mukarlan saat ditemui Abdi Tani di lahan semangkanya yang sudah diborong pedagang.


Menurut Yatini, awalnya menanam Torpedo karena tertarik dengan foto buah semangka itu yang tercantum di kemasannya. “Merahnya kok kelihatan menarik, apa benar seperti itu hasilnya nanti? Ternyata memang benar seperti itu hasilnya,” ujarnya.

Menurut pasangan dari Desa Ngebong, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini, pertumbuhan tanamannya yang bagus dan kuat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi petani. “Tebih mas kaceke (jauh bedanya-red) kalau dibandingkan semangka sejenis lainnya. Perkembangannya lebih cepat dan bagus. Apalagi kalau sudah mulai berbuah, lek disawang tandurane niku nglegakne ati (kalau dilihat tanamannya itu melegakan hati-red),” kata Yatini. Selain itu, lanjut Yatini, pembentukan dan perkembangan buahnya juga lebih cepat. “Hari ini masih pentil (calon buah-red), tidak sampai satu minggu buahnya sudah besar-besar,” terangnya.

Ukuran buahnya juga lebih besar dibanding dengan semangka sejenis lainnya yang biasa ditanam petani di kawasan itu. “Buahnya juga seragam, rata-rata sekitar empat hingga lima kiloan. Bahkan ada yang sampai tujuh kilo,” ujar Mukarlan.

Dalam satu tanaman, kata Yatini, rata-rata hanya satu buah yang dipelihara hingga panen. “Ada juga yang dua, tapi tidak begitu banyak. Yang dibuahkan dua besarnya juga sama dalam satu tanaman,” katanya.

Hanya saja, lanjut Yatini, ia dan suaminya sengaja tidak langsung melakukan seleksi 1-2 buah yang dinilai bagus untuk dipelihara hingga panen. Mereka membiarkan 4-5 buah tumbuh di atas ruas ke-11.

“Memang sengaja tidak kami pilih, maksudnya biar tumbuh dengan sendirinya. Ternyata akhirnya hanya tersisa satu atau dua buah yang bisa tumbuh hingga panen. Yang lainnya nglanas (kering) dengan sendirinya,” kata Yatini.

Perawatan enteng
Lahan di kawasan tempat Mukarlan dan Yatini bertani merupakan lahan tadah hujan. Sehingga dalam setahun hanya bisa ditanami dua kali, yaitu padi saat musim hujan dan palawija saat kemarau. Semangka merupakan salah satu tanaman alternatif yang cukup banyak diusahakan petani Pakel dan sekitarnya saat musim kemarau atau sesudah mereka mananam padi.

“Dalam setahun ya hanya dua kali tanam, padi dan palawija. Biasanya sesudah tanam padi, kalau tidak tanam jagung ya semangka atau melon,” ujar Yatini. Seperti saat Abdi Tani mengunjungi lahannya, selain menanam semangka Torpedo, Mukarlan dan Yatini juga menanam melon Action yang ditanam bersebelahan. “Melonnya mboten kathah, namung 40 ru, menawi sekitar 200-an taneman (melonnya tidak banyak, hanya seluas 40 ru, kira-kira sekitar 200-an tanaman-red),” terang Yatini.

Menurut Mukarlan, merawat semangka Torpedo di lahan tadah hujan tanpa mulsa dengan kondisi air yang terbatas bukan suatu hal yang sulit. Pasalnya, semangka ini pertumbuhannya bagus dan mudah beradaptasi.

“Semangka (Torpedo) ini tidak rewel, sehingga lebih mudah perawatannya. Bahkan bisa lebih irit biaya perawatannya,” kata Mukarlan.

Mukarlan mengatakan, apabila tanaman semangka pertumbuhannya bagus, biaya perawatannya pasti bisa lebih murah. Karena bisa menghemat biaya pengobatan dan pemupukan. “Ini saja saya jarang ngobat dan pupuknya juga tidak banyak, NPK-nya tidak lebih dari dua setengah zak,” imbuhnya.

Hingga panen, lanjut Mukarlan, biayanya tidak lebih dari dua juta rupiah. “Karena perawatannya lebih enteng (ringan-red), sehingga biayanya juga enteng,” katanya.

Pasar tidak masalah
Saat mengetahui ukuran buah yang dihasilkan semangka Torpedo lebih besar dari semangka tipe oblong lainnya yang biasa ditanam, Yatini mengaku sempat khawatir kalau tidak laku di pasaran.

“Katanya rata-rata di pasaran hanya dua kiloan. Tapi setelah dilihat oleh pedagangnya nggak masalah. Bahkan pedagangnya malah kagum dan bilang kalau baru kali ini menemukan semangka lonjong yang besar-besar seperti ini,” ungkap Yatini.

Lantaran harga jual semangka yang terus menurun, semangkanya hanya diborong Rp. 5,5 juta oleh pedagang. “Semangka saya dibeli Rp. 5,5 juta. Tapi nggak apa-apa, karena saya juga sudah merasa untung,” ujar Yatini.

Juga bagus dengan sistem ajir
Lain halnya dengan Sri Utami, pemilik kios pertanian di Dusun Menang, Desa Kras, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Ia menanam semangka Torpedo dengan sistem tanam yang berbeda dari yang biasa diterapkan petani, yakni dengan menggunakan sistem ajir layaknya menanam melon.

Jarak tanamnya juga mirip dengan menanam melon, yaitu sekitar 50 cm x 50 cm. Hanya saja, di antara dua baris ajir diberi tambahan beberapa bilah bambu (para-para) yang memanjang sepanjang bedengan untuk meletakkan buah semangka agar tidak menggantung. Pasalnya, dengan ukuran dan bobot buah yang lebih besar dibandingkan melon, tentu akan berisiko jatuh apabila digantung pada ajir.

Menurut Sri, sistem tanam itu sengaja ia terapkan karena lahan yang ada di sekitar rumah cukup sempit, sementara biasanya untuk menanam semangka dengan sistem hamparan memerlukan lahan yang cukup luas.

“Saya memang ingin memiliki tanaman semangka yang banyak di sekitar rumah dan bisa dipanen sewaktu-waktu bersama keluarga. Akhirnya setelah mendapat informasi dan masukan dari salah seorang petugas lapang dari Tanindo (PT. Tanindo Intertraco-red), saya menanam semangka dengan sistem ajir seperti ini. Dengan sistem ini kan kita masih tetap bisa menanam semangka dalam jumlah banyak di lahan yang sempit,” terangnya.

Memang benar, saat Abdi Tani berkunjung ke rumahnya, lahan yang ditanami semangka Torpedo itu cukup sempit, hanya sekitar 150 m2, dan berada persis di belakang rumah. “Populasinya sekitar 250 tanaman, buahnya juga cukup memuaskan. Sekarang ini umurnya sekitar 50 hari,” kata Sri.

Semangka Torpedo berumur 50-an hari itu nampak cukup subur, buah yang diletakkan di atas para-para bambu juga bagus dan seragam. Hanya saja ukuran dan berat buahnya relatif lebih kecil dibandingkan yang ada di hamparan. “Rata-rata bobotnya sekitar tiga kilogram per buah,” ujar Ali Mashari, Market Development Pesticide PT. Tanindo Intertraco Jawa Timur yang menyertai Abdi Tani.

Untuk menanam semangka Torpedo dengan sistem ajir itu, Sri mengaku mengeluarkan biaya sekitar Rp. 1,5 juta. “Sebagian besar biaya itu untuk ajir, tenaga kerja, dan mulsa. Sedangkan untuk pupuk dan lainnya tidak terlalu banyak. Intinya sama saja dengan tanam semangka biasa (hamparan-red), hanya ini tanamannya dirambatkan seperti melon gitu aja,” papar Sri. (AT : Vol. 12 No. 3 Edisi XLIII, Oktober - Desember 2011)

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).