INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MUMMY, SI TAHAN LAYU YANG MULAI MENGGOYANG PANTURA JAWA BARAT
Kegemaran melahap sayuran mentah (lalapan) menjadikan Jawa Barat sebagai salah satu daerah potensial pengembangan sayuran, termasuk di antaranya adalah timun. Kini telah hadir varietas baru dengan nama Mummy yang mulai mewarnai pasar timun di kawasan Pantura Jawa Barat.

Jawa Barat merupakan salah satu pasar timun yang potensial, terutama untuk jenis timun dengan ukuran buah yang tidak terlalu besar atau lebih dikenal dengan tipe mini atau tipe asian green small. Mengingat konsumsi timun di Jawa Barat lebih banyak untuk lalapan, sehingga lebih menyukai timun tipe ini.

Menurut Market Development Vegetable Seed PT. Tanindo Intertraco (distributor tunggal produk benih Cap Kapal Terbang) Jawa Barat Chairul Huda Nachrowi, untuk kebutuhan benih saja, potensinya sekitar enam ton atau setara dengan 7.500 ha. “Untuk benih yang hibrida potensinya sekitar empat hingga lima ton,” ujarnya. Dari total potensi itu, lanjutnya, sekitar 60 persennya untuk kebutuhan kawasan pantai utara (Pantura) Jawa Barat, mulai dari Cirebon, Karawang, hingga Bekasi.

Hingga saat ini sudah banyak varietas timun hibrida keluaran sejumlah produsen benih yang mewarnai pasar Jawa Barat, terutama di kawasan Pantura. Salah satu di antaranya adalah Mummy, varietas timun hibrida terbaru produksi PT. BISI International Tbk yang terkenal dengan merek dagang Cap Kapal Terbang.

Meskipun masih terbilang varietas baru, namun performanya sudah mulai memikat petani timun di Jawa Barat, terutama di kawasan Pantura. Salah satu di antaranya adalah Mituk, petani asal Desa Gadel, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Mituk merupakan salah satu dari sekian banyak petani asal Indramayu yang menyewa lahan di daerah Karawang untuk usaha tani sayuran, seperti timun dan paria.

Mituk sendiri bersama dengan ayah dan kakaknya telah belasan tahun menyewa lahan seluas 2,8 hektar di Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. “Saya sendiri menyewa lima petak (7.500 m2) dan semuanya saya tanami Mummy. Sisanya dikelola bapak dan kakak saya, juga dengan menanam Mummy. Hanya saja Mummy-nya hanya separo, sedangkan separonya lagi ditanami varietas lain,” ujarnya.

Tahan layu
Menurut Mituk, salah satu keunggulan yang dimiliki Mummy adalah ketahanannya terhadap layu. Hal itu dibuktikan sendiri olehnya saat menanam Mummy untuk pertama kalinya. Dalam kondisi iklim yang panas, timun ini mampu bertahan dan berproduksi normal.

“Dalam kondisi cuaca panas seperti ini, Mummy lebih unggul, lebih tahan layu. Bisa dilihat sendiri, tanaman Mummy masih bisa tumbuh sampai melebihi turus (ajir-red), sementara jenis yang lain masih di bawah turus karena layu,” ujarnya.

Saat Abdi Tani berkunjung di lahannya, memang terlihat jelas bagaimana perbedaan timun Mummy dengan timun hibrida lain yang selama ini sudah biasa ditanam para petani setempat. Seperti pengamatan yang dilakukan oleh Zainuri, Market Development Vegetable Seeds Manager PT. Tanindo Intertraco, dari sekitar 1,8 hektar Mummy yang ditanam Mintuk dan kerabatnya, tidak lebih dari 10 persen yang layu. Sementara varietas lain seluas satu hektar yang ditanam berdampingan dengan Mummy, yang terkena layu mencapai 40 persen.

Selain lebih tahan layu, menurut Mituk, timun ini juga lebih tahan kresek (Downey mildew) atau petani setempat menyebutnya dengan istilah lepra. “Timun ini juga lebih tahan lepra. Penyakit ini juga sering dihadapi petani di sini,” katanya.

Buah seragam, warna menarik
Ketertarikan petani terhadap Mummy juga didasarkan pada keseragaman dan warna buahnya. Mituk mengatakan, ukuran buah timun ini sudah cukup seragam. “Dalam satu pohon atau antar tanaman, bentuk dan ukurannya sudah seragam,” katanya.

Hal itu juga dibenarkan Warkam, petani penanam Mummy di Desa Parungsari, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Karawang. Selain seragam, jumlah buah dalam satu pohonnya juga lebih banyak dan lebih bobot.

“Jumlah buahnya lebih banyak, satu pohon bisa sampai tujuh buah. Buahnya juga lebih bobot, dalam satu karung selisihnya bisa 2,5 kilo lebih berat dibanding timun yang biasa saya tanam,” ujar Warkam.

Lantaran jumlah buah yang lebih banyak itulah, Warkam ingin kembali menanam Mummy dalam luasan yang lebih luas. “Warna hijaunya juga bagus, makanya saya ingin menanam lagi,” katanya.

Warkam mengatakan, dari hasil tanam Mummy sekitar 6.000 m2, ia mendapatkan hasil tidak kurang dari 30 ton. “Dari 30 kali petik, puncaknya bisa dapat 35 karung (± 1,4 ton) sekali petik,” terangnya.

Menurut Mintuk, jika ditanam di lahan yang baru dan dalam kondisi cuaca normal, Mummy memang bisa dipanen hingga 30 kali. “Tapi kalau tanahnya seperti ini (terus menerus ditanami tanpa jeda-red.) dan cuacanya sangat panas seperti sekarang ini, paling hanya 20 kali panen,” ucapnya.

Meski demikian, lanjut Mintuk, kemampuan Mummy bertahan dan berproduksi dalam kondisi lingkungan yang kurang ideal patut diacungi jempol. “Karena varietas lain yang saya tanam bersamaan banyak yang tidak tahan dengan kondisi cuaca yang sangat panas seperti ini,” katanya.  

Lebih cepat laku

Lantas bagaimana dengan pasarnya? Inilah pertanyaan klasik yang akan selalu dilontarkan terhadap varietas yang masih tergolong baru. Menurut Mintuk, timun produksi PT. BISI ini tidak mengalami masalah dalam pemasarannya. “Pasar sudah sangat menerima,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Mintuk, apabila barangnya masih segar atau baru dipanen di lahan, bandar akan lebih memilih Mummy. Pasalnya, buahnya lebih bagus dan tahan simpan.

“Kata pedagang di Cibitung, kalau ada barang datang bersamaan antara Mummy dan jenis lain, centengnya akan mengambil Mummy dulu. Karena buahnya masih bagus dan segar meskipun lama di perjalanan. Sehingga meskipun harganya sama, Mummy lebih cepat lakunya, karena peminatnya banyak,” terang Mintuk.
Sementara itu, Warkam juga tidak khawatir dengan pasar Mummy. Karena timun ini juga disukai para bandar yang biasa memasok pasaran luar Jawa. “Menurut mereka barangnya sudah oke. Bandar lebih memilih Mummy karena daya simpannya lebih baik,” katanya.

Menurut Imam Mashuri, Agronomis PT. Tanindo Intertraco wilayah Karawang, tanggapan pasar terhadap timun Mummy sudah cukup baik. Bahkan ada salah satu pedagang di Pasar Induk Cibitung yang menyuruh semua petani mitranya untuk menanam Mummy. “Karena dia sudah tahu pergerakan barang Mummy lebih cepat,” ujarnya. (AT : Vol. 12 No. 3 Edisi XLIII, Oktober - Desember 2011)

Deskripsi Mummy:
- Pertumbuhan tanaman kuat, seragam, bercabang banyak, dan hampir di setiap ruas muncul calon buah.
- Toleran terhadap penyakit kresek (Downey mildew).
- Buah seragam, berwarna hijau, dan tidak pahit.
- Panjang buah ± 15,5 cm, diameter ± 4,2 cm, dengan berat ± 170 g/buah.
- Umur panen ± 30 hari setelah pindah tanam dengan potensi hasil ± 3,5 kg/tanaman.
- Kebutuhan benih 750-800 g/ha.
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).