INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

PENTINGNYA MENGANTISIPASI SERANGAN LAYU PADA SI ORANYE

Bercocok tanam squash atau labu kuning memang boleh dibilang sangat mudah, bahkan tanaman ini bisa ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun demikian, serangan penyakit tetap harus diantisipasi sejak dini, khususnya serangan layu yang bisa membuat gagal panen.

Squash atau kabocha alias labu kuning pada dasarnya mampu ditanam di berbagai kondisi dan ketinggian. Hanya saja, untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman bernama latin Cucurbita maxima ini akan sangat “nyaman” jika ditanam di kawasan dataran tinggi.

“Sebenarnya squash itu ditanam di mana saja bisa. Hanya saja yang paling bagus itu di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl. Karena, beda suhu siang dan malamnya itu sangat optimal untuk mendukung perkembangan tanaman,” terang Muhammad Fuad, staf riset dan pengembangan tanaman Cucurbitaceae PT BISI International, Tbk.

Pada ketinggian yang optimal, yaitu di atas 1.000 mdpl, buah yang dihasilkan bisa menunjukkan potensi optimalnya. “Ukuran buahnya yang pasti akan lebih besar hingga dua kali lipat jika dibandingkan saat ditanam di dataran rendah. Bentuk buahnya juga bisa lebih bulat, sementara kalau di dataran rendah bentuknya cenderung gepeng,” lanjut Fuad.

Menurut Fuad, dalam hal budidaya, bercocok tanam squash boleh dibilang sangat mudah. Bahkan, yang belum pernah menanamnya pun pasti bisa. Karena, tanamannya sendiri termasuk mudah untuk dibudidayakan dan tidak memerlukan perawatan yang terlalu intensif dan rumit.

“Hanya saja kita perlu memperhatikan aspek serangan hama dan penyakitnya. Biasanya hal ini terkait erat dengan ketinggian tempat dan lokasi tanamnya. Kalau di dataran rendah, biasanya intensitas serangan penyakitnya lebih banyak, mulai dari serangan downy mildew atau kresek sampai serangan virus keriting. Sementara di dataran tinggi relatif lebih aman, hanya perlu mengantisipasi serangan layu,” ungkap Fuad.

Hal itu juga diakui Rebiyanto, petani squash Golden Mama 35 di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Magetan, Jawa Timur. Menurutnya, dalam bercocok tanam squash, ia hanya mengantisipasi serangan layu yang biasa menyerang tanaman keluarga labu-labuan ini saat ditanam di dataran tinggi.

Rebi mengatakan, untuk mencegah serangan layu itu, media tanamnya harus bagus dan disiapkan dengan baik. Pada prinsipnya, media tanah yang akan digunakan harus memiliki kadar keasaman tanah (pH) yang netral, yaitu antara 6,5 hingga 7. Oleh karena itu, sewaktu olah tanah, selain pupuk dasar berupa pupuk NPK dan organik, kapur pertanian atau dolomit juga harus ditambahkan untuk menjaga pH tanah agar tetap optimal.

“Intinya kalau medianya asal-asalan, maka tanaman pasti akan mudah terserang layu. Oleh karena itu dasarannya harus bagus. Untuk 850 tanaman squash ini, pupuk dasarnya saya menggunakan TSP sebanyak 1 sak, Phonska 2 sak, dan KCl 1 sak. Kemudian saya campur dengan pupuk organik sebanyak 2,4 kuintal, dan saya tambahkan dolomit sebanyak 4 sak. Sebelum ditambahkan dolomit, media tersebut juga saya semprot dengan mikroba penjaga kesuburan tanah. Baru kemudian ditutup mulsa,” terang Rebi saat ditemui Abdi Tani di lahan squash Golden Mama 35 miliknya.

Selain itu, kata Rebi, guludan yang dibuat harus tinggi dan parit antar guludannya juga harus bagus agar begitu air mengalir bisa langsung habis terbuang dan tidak sampai menggenang.

Lantas untuk memberikan perlindungan ekstra pada tanaman squash yang akan ditanam, Rebi menyemprotkan fungisida sistemik di masing-masing lubang tanam. “Tujuannya untuk mencegah jamur di akar. Baru empat hari kemudian saya tanami bibit squash yang telah berumur delapan hari setelah semai ,” ujar Rebi.
Kemudian, setelah tanaman mulai tumbuh optimal setelah pindah tanam, Rebi juga menambahkan perlakuan ekstra berupa pemberian larutan fungisida sistemik dengan cara disapukan merata pada pangkal batang squash.

“Biar tanamannya lebih aman lagi dari serangan jamur. Tanaman saya ini kalau tidak saya leleti (lumuri-red.) dengan fungisida sistemik pasti sudah banyak yang nyenyet (busuk-red.) kena jamur,” ucap Rebi.

Yang menarik, sebagai bagian antisipasi layu, Rebi lebih memilih memasang ajir terlebih dulu sebelum pindah tanam. Tujuannya adalah untuk menghindari luka pada akar squash. “Karena menurut saya tanaman seperti ini akarnya dangkal, sehingga cukup sensitif kalau terjadi luka. Luka sedikit saja sudah beresiko layu,” terangnya.

Doping unsur hara
Meskipun sangat mudah dibudidayakan dan tidak memerlukan perawatan ekstra, namun untuk mendapatkan hasil yang optimal asupan nutrisi juga harus tetap menjadi perhatian, di samping masalah hama dan penyakit. Hal ini pula yang dilakukan petani squash seperti Rebi. Untuk mencukupi asupan nutrisi tanamannya, Rebi memberikan empat kali pemupukan susulan dengan cara dikocor pada lubang tanam, yaitu saat tanaman squash berumur 15, 25, 40, dan 50 hst.

“Kocor pertama dengan unsur N yang tinggi agar daunnya bisa segar dan lebat. Kemudian kocor kedua dengan kandungan unsur seimbang, N, P, dan K. Kocor ketiga selain unsur NPK seimbang, unsur Kalium porsinya lebih banyak untuk mendukung perkembangan bunga dan buah. Sementara kocor yang terakhir saya hanya fokus untuk pembesaran dan kualitas buah. Untuk itu selain NPK, juga ditambahkan unsur mikro seperti Kalsium dan Boron biar buahnya bagus dan tidak mudah rontok,” papar Rebi.

Selain itu, penyemprotan tanaman juga tetap dilakukan Rebi untuk mengantisipasi serangan hama penyakit. Kombinasi antara insektisida, fungisida, dan pupuk mikro menjadi menu wajib yang ia semprotkan sebanyak lima kali dengan interval 10 hari sekali atau sesuai kondisi tanaman.

Antisipasi dengan varietas yang tahan
Sementara itu, pemilihan varietas yang tepat juga sangat menentukan keberhasilan usaha tani squash. Dengan menanam varietas yang secara genetis memiliki keunggulan berupa produktivitas tinggi dan daya adaptasi serta ketahanan terhadap serangan penyakit yang bagus akan sangat menunjang keberhasilan petani.

Termasuk dalam mengantisipasi serangan layu pada dataran tinggi maupun serangan virus keriting dan kresek yang banyak terjadi pada dataran rendah. Dengan varietas yang tahan, maka para petani akan sangat terbantu menekan resiko kegagalan akibat serangan penyakit tersebut.

“Seperti Golden Mama 35 ini, dia secara fisik memiliki tipe pertumbuhan yang kuat dan cepat. Daya adaptasinya juga bagus. Secara genetis varietas ini juga lebih tahan serangan penyakit downy mildew. Sehingga petani bisa lebih mudah dalam merawat tanamannya,” ujar Fuad.

Selain itu, lanjut Fuad, squash hibrida Golden Mama 35 itu juga bisa dibuahkan hingga dua kali. Bahkan pada buah kedua atau second harvest itu ukuran buahnya bisa lebih besar dari yang pertama. “Kalau dirawat terus dengan baik, buah kedua itu akan muncul setelah 1,5 bulan kemudian dengan ukuran yang lebih besar,” terangnya.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).