INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MEMBUDIDAYAKAN SQUASH GOLDEN MAMA 35 SEBAGAI SUMBER NUTRISI SEKALIGUS MESIN UANG KELUARGA

Squash atau disebut juga kabocha kini mulai banyak dibudidayakan di Indonesia. Bukan hanya di kawasan Lembang, Bandung Barat saja yang memang sudah terkenal dengan kabochanya, kini buah tersebut juga mulai banyak ditanam di beberapa wilayah, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bukan hanya mudah ditanam, komoditas ini juga memiliki nilai manfaat yang tinggi sekaligus bisa dijadikan mesin penghasil uang tambahan bagi keluarga.

Di lereng timur Gunung Lawu, tepatnya di wilayah Kecamatan Plaosan dan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, beberapa sudut lahan milik petani setempat tampak berbeda. Di situ sejumlah tanaman kabocha ditanam dengan menggunakan ajir dan dirambatkan di atas para-para bambu yang kuat. Buahnya yang cukup lebat dengan warna merah oranye semakin menambah daya tarik siapapun yang melintas.

Memang, beberapa tahun terakhir ini, tanaman kerabat labu-labuan (Cucurbitaceae) itu mulai banyak ditanam para petani Magetan, terutama di dua kecamatan tersebut. Komoditas dengan nama latin Cucurbita maxima ini mampu menarik minat para petani karena bentuk fisik dan warna buah yang lebih menarik. Selain itu, pasar yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk juga menjadi alasan utama bagi mereka untuk mengembangkannya.

Dalam hal budidaya sendiri, menanam squash pada dasarnya tidaklah sulit. Bahkan, petani sendiri menyebutnya sangat mudah, tidak rumit, dan tidak memerlukan penanganan khusus layaknya kerabat Cucurbitaceae lainnya, seperti melon dan semangka.

“Tanamannya sendiri termasuk sangat mudah ditanam. Di luar kepala saja bisa,” terang Rebiyanto, salah seorang petani yang memiliki kebun squash jenis Golden Mama 35 sebanyak 850 tanaman di Dusun Ngrobyong, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Magetan.

Rebiyanto atau biasa disapa Rebi sendiri sudah dua kali menanam squash di kebunnya tersebut, dan semuanya menggunakan varietas hibrida Golden Mama 35 produksi PT BISI International, Tbk.. Bahkan setelah panen nanti, ia berencana untuk menanaminya lagi dengan Golden Mama 35.

“Karena prospeknya bagus, perawatannya sangat mudah, dan potensi hasilnya lebih tinggi jika dibanding tanaman horti yang lain seperti melon,” ujar Rebi.

Menurut Rebi, dari satu tanaman squash, bisa menghasilkan 3 buah dengan berat rata-rata 1,5 kilogram. “Kalau per kilonya Rp7.000, berarti per tanaman minimal sudah bisa menghasilkan Rp31.500,” terangnya.

Kebun squash Golden Mama 35 milik Rebi yang berisi 850 tanaman itu sendiri sudah diborong pedagang seharga Rp20 juta. “Ini memang sudah dibeli Rp20 juta oleh pedagang di sini,” kata Rebi yang mengaku hanya menghabiskan Rp2,3 juta untuk biaya tanam dan perawatan. Biaya itu, katanya, dua hingga tiga kali lebih ringan jika dibanding biaya tanam cabai atau tomat.

Sementara itu, Adib, salah seorang pedagang squash asal Desa Sumberagung, Kecamatan Plaosan mengatakan, pasar buah squash sendiri saat ini memang belum begitu besar. Namun, dengan melihat dinamika yang terjadi di pasar dan juga respon positif para petani, ia merasa sangat yakin potensi pasar squash akan semakin besar nantinya.

“Sekarang ini pasarnya memang belum besar, nggak sebesar melon. Sekarang ini mungkin masyarakat kenalnya hanya di supermarket saja, tapi nanti saya yakin perlahan-lahan di toko-toko buah dan pasar-pasar tradisional juga akan ada, seperti waluh-waluh biasa itu. Karena mulai banyak petani yang menanam, yang berarti barangnya juga akan semakin banyak di pasar,” terang Adib.

Adib sendiri selama ini rutin memasok squash ke sejumlah pasar di luar Magetan. Seperti: Malang, Surabaya, Klaten, dan Jogja. Untuk pasar di Surabaya, Adib biasa kirim sebanyak 1,5 kuintal tiap 2 minggu sekali, sedangkan Klaten lebih banyak, yaitu sekitar 7 kuintal per minggu.

“Kalau Yogya itu sekitar 3 ton per bulan. Itu permintaan yang melalui saya saja, belum dari suplier lain,” terang Adib.

Sementara untuk pasar lokal Magetan, saat ini hanya ada di kawasan wisata Telaga Sarangan. Tentunya dengan harga jual yang cukup mahal. “Per kilonya bisa Rp15 ribu sampai Rp20 ribu. Karena memang barangnya terbatas dan tidak banyak,” ujar Wagimin, petani sekaligus pedagang squash dari Dusun Nggeyong, Desa Ngancar, Plaosan.

Di lahan bekas melon
Lantaran begitu mudahnya membudidayakan tanaman squash tersebut, maka areal tanamnya pun bisa di mana saja. Salah satunya di lahan bekas tanaman melon. Dengan memanfaatkan sisa “sumber daya” dari tanaman melon, seperti: mulsa, ajir, dan sisa pupuk yang terkandung di dalam tanah, maka budidaya squash menjadi lebih mudah dan murah.

“Banyak hal yang bisa dimanfaatkan jika menanam squash di lahan bekas melon. Yang pasti lanjaran atau ajirnya masih bisa dimanfaatkan lagi. Kemudian, mulsanya pun juga bisa digunakan. Yang penting lagi adalah kandungan unsur hara di dalam tanah dari sisa-sisa pemupukan melon yang terkenal sangat intensif sudah pasti akan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan squash,” papar Muhammad Fuad, staf riset dan pengembangan tanaman Cucurbitaceae PT BISI International, Tbk.

Hal itu juga sudah diterapkan sendiri oleh beberapa petani melon di Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo. Secara umum mereka mengaku puas dengan hasil yang bisa mereka peroleh dari bercocok tanam squash di lahan bekas tanaman melon milik mereka.

“Semuanya mencoba tanam dengan menggunakan varietas Golden Mama 35, dan hasilnya rata-rata cukup bagus. Dari para petani yang saya amati di Ngawi, Magetan, Madiun, dan Ponorogo, hasilnya cukup optimal. Per tanaman rata-rata bisa menghasilkan 3 hingga 4 buah dengan bobot rata-rata 1,5 kilogram per buah,” terang Suherman Effendi, Agronomis PT BISI untuk wilayah karesidenan Madiun.

Kaya manfaat
Peluang pasar squash yang pelan-pelan semakin terbuka tentu memberikan angin segar bagi para petani sendiri yang berminat dengan salah satu komoditas hortikultura ini. Entah hanya sekedar sebagai pengisi dan pemanis halaman rumah ataupun sebagai salah satu sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

Terlepas dari itu semua, squash berkulit buah merah-oranye seperti varietas Golden Mama 35 tersebut juga memiliki segudang manfaat sebagai sumber nutrisi, vitamin, sekaligus mineral yang komplit bagi kesehatan tubuh.

Kandungan β-karoten (beta karoten) yang tinggi berperan sebagai antioksidan yang sangat bermanfaat bagi ketahanan tubuh. Beta karoten yang setelah dicerna tubuh akan menjadi vitamin A juga berguna bagi kesehatan mata dan kulit. Warna kuningnya atau oranye dipercaya dapat melindungi paru-paru dari resiko serangan kanker dan penyakit jantung.

Mengutip artikel dari Nutrition Research Review, squash atau labu kuning mampu mencegah peradangan yang menjadi penyebab gangguan kesehatan kronis, termasuk di antaranya adalah kanker, penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan penyakit arthritis.

Selain itu, di dalam squash juga ditemukan 14 macam kandungan fitonutrien atau kandungan nutrisi alami dari bahan makanan. Kandungan serat pangannya yang cukup, membuat buah ini sangat handal untuk digunakan sebagai penjaga sistem pencernaan agar tetap sehat. Pasalnya, serat pangan sangat membantu dalam mencerna makanan secara efisien, sehingga tubuh dapat menyerap nutrisi dari makanan dengan baik.

Julukan sebagai “sang suplier” nutrisi alami sepertinya memang pantas disematkan untuk squash alias kabocha alias labu kuning ini. Deretan vitamin dan mineral alami yang dikandungnya antara lain: Folat, Niasin, Pyridoxine, Pantothenic acid, Riboflavin, Thiamin, Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E, Vitamin K, Elektrolit, Sodium, Potasium, Mineral, Kalsium (Ca), Tembaga (Cu), Besi (Fe), Magnesium, Mangan, Pospor, Selenium, Seng, Phyto-nutrisi, Carotene-α, Carotene-ß, Crypto-xanthin-ß, dan Lutein-zeaxanthin.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).