INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

KEPERKASAAN ORIENT DI TENGAH PRAHARA KELUD

Erupsi Gunung Kelud yang terjadi pada medio Februari lalu telah menimbulkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan petani di sekitarnya. Termasuk salah satunya petani bunga kol Orient di Kabupaten Kediri yang tanamannya tertimbun material vulkanik. Namun berkat usaha keras petani dan ketangguhan varietasnya, hasil manis masih bisa dipetik di tengah dampak bencana.

Adalah Basori, petani dari Desa Padangan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Jawa Timur yang merasa beruntung sekaligus puas saat tanaman bunga kol miliknya masih bisa dipanen sempurna setelah sebelumnya tertimbun pasir vulkanik dari letusan Gunung Kelud pada 13 Februari 2014 lalu.

Memang, saat Gunung Kelud erupsi, bunga kol Orient yang ditanam Basori itu baru saja pindah tanam. Umurnya baru 15 hari setelah pindah tanam. Jadi, memang masih sangat muda dan cukup rentan dari pengaruh lingkungan.

“Tanamannya masih kecil waktu itu, masih baru berumur 15 hari (setelah pindah tanam). Totalnya sekitar 16 ribu tanaman, semuanya tertutup pasir,” ujar Basori.

Basori mengisahkan, begitu malamnya terkena dampak letusan Kelud, esok paginya ia langsung mengerahkan tidak kurang dari 35 orang untuk sesegera mungkin membebaskan tanaman bunga kolnya dari timbunan pasir Kelud.

“Prinsip saya, sebelum siang, semua harus sudah bersih dan tidak tertimbun pasir lagi. Karena kalau sampai siang masih tertimbun, saya yakin tanaman pasti akan mati, karena pasirnya sudah panas terkena sinar matahari,” terang Basori.

Jerih payah Basori itu pun akhirnya berbuah manis. Meskipun harus merelakan sekitar 1.500 tanaman yang tidak bisa diselamatkan, ia masih bisa memetik tidak kurang dari 14.000 tanaman bunga kol Orient dengan hasil yang menurutnya sangat memuaskan.

“Alhamdulillah, meskipun kena bencana seperti itu masih bisa panen sebanyak ini,” katanya saat tengah memanen bunga kol Orient untuk yang pertama kalinya. Saat itu, tanamannya tersebut memasuki umur 42 HST.

Panen hari pertamanya itu pun di luar perkiraan Bastomi dan juga pedagang yang mengambilnya. Dari 14.000 tanaman Orient tersebut, awalnya ia hanya memperkirakan memanen satu karung saja di hari pertama, tapi ternyata setelah dilihat di lahan bisa hingga tujuh karung (lebih dari 3 kuintal).

“Kulo kinten namung sekedik, tapi ternyata kathah ingkang siap panen (saya kira hanya sedikit, tapi ternyata banyak yang siap panen-red.),” ujar Basori saat ditemui Abdi Tani di tengah-tengah lahan Orient miliknya.

Aman di lahan, nyaman di pasar
Meskipun kali pertama menanam Orient harus mengeluarkan biaya ekstra lantaran terkena bencana Gunung Kelud, Basori mengaku sangat puas dengan performa tanaman sekaligus hasil yang bisa ia dapatkan saat ini.

“Alhamdulillah tanemane sae. Perawatane normal. Niki wite mung sak menten, tapi wohe saget ageng sak menten (Alhamdulillah tanamannya bagus. Perawatannya normal. Ini tanamannya hanya segini (tampak kecil-red.), tapi buahnya (krop) bisa besar-red.),” katanya.

Basori juga mengatakan bahwa sebelum menanam Orient tersebut, ia sempat menyemaikan 11.000 tanaman bunga kol varietas lain yang sebelumnya memang menjadi pilihan favorit di daerahnya. Namun begitu mendapat masukan dari petani yang sudah pengalaman bertanam bunga kol, ia akhirnya tidak jadi menanam bunga kol yang sudah disemaikannya tersebut dan menggantinya dengan bunga kol Orient.

“Varietas yang lain itu tidak jadi saya tanam di sini, tapi di tempat lain. Dan ternyata hasilnya memang benar-benar lebih bagus Orient. Saya bersyukur masih diingatkan untuk menanam Orient, karena memang lebih tahan jamur dan kuat di musim hujan. Kalau varietas yang lain itu meski awalnya bagus, tapi begitu masuk umur 40 hari mulai banyak keluhan, daunnya tidak kuat,” terang Basori.

Bunga kol Orient yang dimiliki dan dipanen Basori tersebut memang telah memunculkan sebuah kepuasan tersendiri bagi petani sepertinya. Performa tanaman dan hasil yang bisa diperoleh seakan memberikan harapan yang lebih baik bagi mereka. Lantas, bagaimana dengan pasarnya sendiri? Apakah varietas baru dari PT BISI International, Tbk. ini juga sudah sesuai dengan selera pasar?

Menurut Basori, yang juga merupakan mantan pedagang sayuran yang rutin memasok beragam jenis sayuran ke sejumlah pasar besar di Kediri hingga Purwokerto, Jawa Tengah, karakter bunga kol Orient sudah sesuai dengan standar pasar yang ada, yaitu ukuran bunga (krop) yang tidak terlalu besar dengan tekstur bunga yang padat.

“Orient ini menurut saya umurnya lebih genjah dibanding yang lain. Jadi panennya jangan sampai terlambat. Bentuk bunganya sudah bagus dan padat, gampang masuk pasarnya. Bobotnya juga ideal, rata-rata sekitar setengah kilogram,” terang Basori.

Hal itu juga dibenarkan Sugendon, pedagang sayuran di Kecamatan Kayen Kidul yang memborong bunga kol Orient milik Basori tersebut. Menurutnya, fisik tanamannya memang bagus dan lebih kuat meskipun ditanam di musim hujan, hanya saja lantaran umurnya lebih genjah, maka panennya tidak boleh terlambat agar ukurannya tidak terlalu besar.

“Ini umur 40 harian sudah mulai bisa dipetik. Sing penting pun telat panen, masalahe menawi telat sedinten mawon pun kagengen wohe (yang penting jangan telat panennya, masalahnya kalau telat sehari saja sudah kebesaran buahnya-red.),” kata Sugendon.

Menurut Basori, bunga kol Orient miliknya itu diborong dengan harga berkisar Rp5.500 hingga Rp9.000 per kilogram. Ia sendiri memperkirakan, tanamannya itu bisa menghasilkan 5 ton bunga kol segar.

“Insyaallah bisa keluar lima ton dari sekitar 14.000 tanaman,” kata Basori.

Meskipun Basori harus mengeluarkan biaya tanam yang lebih banyak, hingga Rp12 juta, lantaran bencana Kelud, dengan harga jual saat panen sekitar Rp5.500 hingga Rp9.000/kg, ia masih bisa meraup untung lebih antara Rp15 juta hingga Rp33 juta.

“Kalau dalam kondisi normal, biaya tanam itu rata-rata sekitar Rp9 juta. Tapi karena ini ada faktor alam yang tidak bisa dihindari, maka mau tidak mau biaya membengkak sampai Rp12 juta. Karena, obatnya harus lebih, pupuknya juga lebih, dan yang pasti tenaga kerjanya juga lebih. Tapi saya sangat senang, meskipun terkena bencana seperti itu masih bisa panen sebanyak ini,” terang Basori.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).