INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

KHARISMA, MERAHNYA MENGGODA
Kesan pertama begitu meyakinkan, dan selanjutnya semakin memikat. Mungkin itu yang dirasakan oleh para petani penanam tomat hibrida baru bernama Kharisma. Bukan hanya petani, pedagang pun juga langsung menyukainya.

Pangalengan memang terkenal sebagai salah satu sentra pertanian dan perkebunan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Berada pada ketinggian 1.000 – 1.500 mdpl, kecamatan yang berada sekitar 45 km sebelah selatan Kota Bandung ini terkenal sebagai penghasil teh dan kina berkualitas. Selain itu, produksi sayurannya juga melimpah, terutama tomat, cabai, dan kentang.
“Sepanjang musim, petani di sini selalu menanam sayur, jadi setiap hari selalu ada petani yang panen,” ujar Dede, salah satu pengepul sayur asal Pangalengan, Bandung, yang setiap harinya biasa memasok sayuran ke pasar induk Caringin dan Gede Bage ini.

Hal itu juga dibenarkan Asep Wawan, petani sayuran asal Kampung Cinangsi, Desa Pulosari, Pangalengan. Sepanjang musim ia tidak pernah jeda menanam sayuran. “Biasanya saya tanam kentang, cabai, dan tomat. Sekarang ini karena tomat sedang bagus, saya tanam tomat,” ucapnya saat ditemui Abdi Tani di salah satu lahan yang ia sewa untuk ditanami tomat hibrida varietas baru Kharisma.

Wawan mengatakan, dalam dua kali tanam terakhir ini, ia lebih memilih untuk menanam tomat varietas baru keluaran PT. BISI International Tbk ini. Alasannya, tanaman tomat spesialis dataran tinggi ini menurutnya memiliki karakter yang lebih baik dibanding tanaman tomat sejenis lainnya.

“Mulai dari bekong (persemaian-red), Kharisma sudah lebih (baik) dari bibit yang lain. Pertumbuhannya cepat dan tahan Alternaria (penyakit akibat serangan jamur Alternaria solani yang biasa menyerang daun, batang, dan buah tomat),” terang Wawan sembari menunjukkan tanaman Kharisma-nya yang 10 hari lagi panen.  “Kalau daunnya rusak terkena Alternaria, buahnya pasti tidak bisa bagus dan seragam mulai dari batang bawah hingga atas seperti ini.”

Wawan sendiri saat ini menanam Kharisma sebanyak 1.600 batang setelah sebelumnya berhasil memanen tidak kurang dari lima ton dari sekitar 3.000 batang. Keberhasilan panen perdana membuatnya tertarik untuk kembali menanamnya. “Hasilnya bagus, makanya saya tanam lagi. Per pohon rata-rata bisa menghasilkan dua kilogram. Padahal waktu itu kondisi cuacanya tidak begitu baik, hujannya terus menerus tidak seperti biasanya,” ucap Wawan. Dari hasil panen perdana Kharisma tersebut, Wawan berhasil meraup untung bersih tidak kurang dari Rp. 7 juta.

Selain tahan Alternaria, tomat ini menurut Agus juga lebih tahan busuk daun Phytophtora. “Dari awal tanam sampai panen saya tidak pernah menggunakan pestisida, karena tanamannya lebih tahan Phytophtora. Sehingga biaya produksinya lebih irit,” ujar petani Kharisma asal Wangunharja, Kecamatan Lembang, Bandung Barat ini. “Tanamannya juga nggak ada yang terkena pecah batang. Padahal tanaman tomat lain yang saya tanam bersebelahan dengan Kharisma habis semua, karena pecah batangnya,” papar Wawan.

Menurut Ajang, petani penanam Kharisma di Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Sukabumi, Jawa Barat, karena daunnya lebih tebal sehingga tomat ini lebih tahan penyakit Phytophtora.

Merah menyala
Karakter fisik tanaman dan penampilan buah yang dihasilkan menjadi daya tarik utama tomat hibrida Kharisma bagi petani dan juga pedagang. “Kharisma ini kalau sudah merah semua sangat menarik. Bukan hanya petani yang tertarik, saya sebagai pedagang juga senang melihatnya,” ujar Dede.

“Saya sudah sepuluh tahun tanam tomat tapi baru kali ini menemukan varietas yang benar-benar berbeda. Merahnya bagus, mengkilap,” kata Agus. Iwan, petani asal Desa Margamekar, Pangalengan, yang juga menanam Kharisma sebanyak 14.000 batang mengatakan, selain bentuk dan warnanya menarik, buahnya juga lebih bobot dibanding tomat sekelasnya. Sehingga lebih menguntungkan jika dijual.

Hal itu juga dibenarkan Dede. Menurutnya, dalam satu karung, apabila dibandingkan dengan tomat lain selisihnya bisa 3 – 6 kilogram lebih berat. “Karena buahnya lebih padat, dan kulitnya lebih tebal serta kuat,” terangnya.

Jago pengangkutan jarak jauh
Lantaran buahnya lebih tebal, padat, dan kuat, menjadikannya lebih tahan simpan dan juga tangguh untuk pengangkutan jarak jauh sekalipun. “Untuk pengangkutan, tomat ini (Kharisma-red) jagonya. Karena kulitnya lebih keras sehingga tahan goresan. Kalau tomat lain saat dimasukkan keranjang dan dipacking mudah lecet, tapi ini nggak,” ujar Dede.

“Musim lalu saya pernah kelupaan menyimpan sebagian buah Kharisma yang baru saya panen. Bahkan sampai 20 hari nyimpennya. Tetapi buahnya nggak ada yang busuk atau pecah,” terang Agus.

Wawan, petani sekaligus pedagang asal Desa Margamekar, Pangalengan, juga membenarkannya. Hal ini menurutnya lebih menguntungkan, lantaran kondisi buahnya tetap bagus hingga di tangan konsumen.

Menurut Dede, masalah pengangkutan menjadi suatu hal yang penting. “Transportasi itu bukan hanya dari lahan ke pasar, tapi juga dari pasar hingga ke konsumen. Sehingga kalau buahnya bisa tetap bagus hingga di tangan konsumen tentu akan sangat disukai dan lebih dipilih,” terang Dede yang biasa memasok tomat ke pasar induk Caringin hingga dua truk atau sekitar 16 ton per hari.

Selain ke pasar induk, Dede juga pernah mencoba memasukkan Kharisma ke supermarket. Hasilnya, tomat yang sudah bisa dipanen mulai umur 90 HST ini bisa langsung diterima. “Karena kualitasnya bagus akhirnya bisa langsung diterima. terutama pada warna buahnya, warnanya harus lebih menarik seperti ini,” ujarnya. “Saat diwrapping (dibungkus-red) dengan plastik kedap udara, kulitnya tidak mudah kisut karena lebih keras dan kencang.”

Demikian pula dengan Engkus Kuswana, petani sekaligus pemasok sayuran asal Lembang, Bandung Barat, menurutnya Kharisma lebih mudah diterima pasar lantaran warna buahnya menarik dan dihargai lebih mahal. “Selisih Rp. 500 per kilonya. Karena warnanya menarik dan bagus di pengepakan,” ujar pria paruh baya yang biasa disapa Pak Aki ini. (AT : Vol. 12 No. 3 Edisi XLIII, Oktober - Desember 2011)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).