INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

RAHASIA DI BALIK ‘SI LILIN’ YANG PULEN

Sebagian dari kita mungkin masih asing dengan jagung putih atau jagung pulut atau jagung berlilin alias waxy corn. Memang, jagung yang satu ini sangat berbeda dengan jagung lain yang selama ini sudah biasa dikenal, semacam jagung pipil ataupun jagung manis. Lantas, apa yang membuatnya berbeda?

Keberadaan jagung putih atau biasa disebut jagung pulut ataupun jagung ketan memang tidak setenar kerabatnya yang lain, yakni jagung pipil (field corn) dan jagung manis (sweet corn). Namun jika dilihat dari karakter spesial yang dimiliki, maka cukup disayangkan jika potensinya sebagai sumber pangan alternatif dilewatkan begitu saja.

Di Indonesia sendiri, sebaran jagung yang pertama kali ditemukan di daratan China pada tahun 1908 ini banyak dijumpai di Jawa Tengah (Grobogan, Blora, Temanggung), Yogyakarta (Gunung Kidul), Jawa Timur (Kediri, Probolinggo, Banyuwangi), Nusa Tenggara Timur (Flores, Sumba), Nusa Tenggara Barat (Sandubaya), Sulawesi Selatan (Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, Selayar), Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo.

Seperti namanya, yaitu jagung pulut atau jagung ketan, varietas jagung dengan nama latin Zea mays ceritina Kulesh ini memang memiliki karakter khusus berupa tekstur yang pulen dan lengket layaknya ketan setelah direbus. Hal itu disebabkan oleh kandungan amilopektin, salah satu senyawa penyusun pati, dalam tiap bijinya yang tinggi.
Secara fisik, biji jagung ketan memiliki warna endosperm yang cenderung kusam dan ada kesan mengkilat seperti lilin (waxy). Oleh karena itu, jagung ini juga dikenal dengan istilah waxy corn atau jagung berlilin.

Menurut Azis Rifianto, staf Research & Development Special Corn PT BISI International, Tbk., karakter waxy tersebut muncul karena adanya gen tunggal atau homozigot waxy (wx) yang bersifat resesif epistasis dan terletak pada kromosom sembilan.

“Gen tunggal waxy atau wx itu akan memunculkan penampilan fenotip endosperm yang berwarna kusam, dan hal ini dapat dibedakan dengan jelas jika dibandingkan dengan jagung jenis lain pada saat kadar air bijinya 16% atau kurang dari itu,” ujar Azis.

Lantaran mengandung gen wx itu pula susunan pati dalam endosperm jagung ketan bisa terdiri dari 100% amilopektin. Hal ini jelas berbeda dengan susunan pati dari jagung jenis lain yang terdiri dari komposisi amilopektin (± 70%) dan amilosa (± 30%).

“Jika endosperm jagung waxy itu dilukai dan diberi larutan iodine, maka warnanya akan menjadi merah kecoklatan. Sementara pada jagung lain yang nonwaxy, warna endosperm yang dilukai dan diberi larutan iodine akan menjadi biru sampai hitam,” terang Azis.

Dengan kandungan tepung atau pati yang tinggi tersebut, dikabarkan menyamai kandungan tepung tapioka yang dihasilkan oleh tanaman ketela pohon (Manihot utilissima), maka pada masa perang dunia kedua, komoditas jagung ketan juga dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif.

Bahkan, kandungan nutrisi jagung ketan juga mirip dengan yang dimiliki sumber karbohidrat utama penduduk Indonesia, yaitu beras. Jika beras yang pulen mengandung rata-rata 79% karbohidrat, 7,13% protein, dan 0,66% lemak, maka jagung ketan mengandung 74,76% karbohidrat, 8,93% protein, dan 4,92% lemak. Selain itu, jagung ketan juga mengandung serat kasar sebanyak 2,08% (Agrina, Juni 2013).

Menurut Azis, selain dikonsumsi langsung sebagai bahan pangan (jagung rebus, bakar, campuran nasi, atau camilan), beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa jagung ketan juga digunakan sebagai campuran bahan baku kertas, tekstil, dan industri perekat, serta untuk memperbaiki kehalusan atau creaminess pada makanan kaleng.

Sementara bagi kesehatan, pati jagung yang terkandung dalam jagung ketan dinilai sangat sesuai bagi para diabeti yang pada dasarnya memerlukan asupan karbohidrat yang tidak tercerna sempurna menjadi glukosa. Namun begitu, lantaran jagung ketan memiliki kandungan amilopektin yang tinggi, maka tidak disarankan bagi para penderita masalah lambung.

Lain halnya bagi hewan ternak, seperti: sapi, kambing, kerbau, dan babi, kandungan amilopektin yang tinggi tersebut justru sangat bermanfaat untuk meningkatkan bobot hewan ternak hingga 20%.

Perlu isolasi
Sementara dari segi fisik, penampilan fenotip tanaman jagung ketan itu sendiri tidak jauh berbeda dengan jagung yang lain. Pun demikian dengan teknis budidayanya.
“Secara umum teknik budidayanya tidak berbeda dengan jagung biasa. Hanya saja dibutuhkan isolasi jarak dan atau waktu untuk mendapatkan hasil yang optimal dan murni,” terang Azis.

Menurut Azis, isolasi jarak dan atau waktu itu sangat diperlukan karena performa jagung ini dikendalikan oleh gen resesif homozigot wx. Untuk isolasi jarak, minimal diperlukan jarak 200 m dengan tanaman jagung jenis lain (jagung pipil maupun jagung manis).

“Kalau isolasi waktu, penanaman jagung ketan harus dilakukan minimal tiga minggu lebih awal dibanding tanaman jagung pipil atau jagung selain jagung ketan. Penanaman tersebut sebaiknya juga dilakukan pada lokasi yang lebih dekat dengan arah angin,” ujar Azis.

Sedangkan untuk pemanenannya, kata Azis, sama dengan jagung manis, yaitu dipetik waktu muda. “Umur panennya berkisar 60 sampai 70 hari setelah tanam. Tapi tergantung ketinggian tempat dan kesuburan tanahnya juga. Semakin tinggi tempatnya maka umurnya semakin panjang,” terangnya.

Hingga saat ini, varietas jagung ketan yang ada di Indonesia masih didominasi varietas bersari bebas atau open pollinated (OP) dan varietas lokal yang memiliki produktivitas rendah. Sementara untuk jagung ketan varietas hibrida yang memiliki produktivitas jauh lebih tinggi masih belum begitu banyak dikenal petani, karena memang belum banyak yang mengembangkannya.

Salah satu contoh jagung ketan hibrida yang saat ini sudah mulai dikembangkan adalah Victoria yang diproduksi oleh PT BISI International, Tbk. Menurut Azis, varietas ini selain memiliki produktivitas yang tinggi, hingga 11 ton/ha, juga lebih toleran terhadap serangan penyakit bulai dan hawar daun. Rasanya pun lebih enak dan manis dibanding varietas lokal, karena memiliki kadar gula hingga 10,1% Brix.

“Tongkolnya besar dan panjang, warna bijinya putih. Tanamannya kuat, seragam, dan tahan rebah. Sangat cocok ditanam di dataran rendah sampai menengah,” ujar Azis.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).