INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SAAT PETANI DAN PEDAGANG JAGUNG MANIS GROBOGAN MENGENAL NEW MASTER SWEET

Jagung manis New Master Sweet kini juga mulai merambah sentra jagung manis di Grobogan, Jawa Tengah. Bagaimana respon para petani sekaligus pedagangnya?

Memiliki topografi yang berada di lembah dan diapit dua pegunungan kapur di sisi utara dan selatan, menjadikan Kecamatan Purwodadi sebagai salah satu daerah pertanian utama di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Meskipun masih didominasi lahan tadah hujan, produktivitas pertaniannya tetap menjadi salah satu pilar penyangga perekonomian sebagian besar warganya.

Seperti di Desa Ngraji, hampir semua penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian tanaman pangan dan juga hortikultura. Lantaran kepemilikan lahannya tidak luas dan musim tanamnya hanya di saat musim hujan, para petani di Ngraji dalam bercocok tanam umumnya lebih memilih untuk menerapkan sistem tanam tumpangsari dengan menanam minimal dua komoditas dalam satuan luas lahan.

“Sekarang ini, jagung manis menjadi komoditas favorit bagi para petani di Ngraji. Karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan umur panen yang pendek. Jadi bisa lebih cepat dipanen dan bisa ditumpangsari dengan tanaman lain, biasanya dengan tanaman sawi,” ujar Kepala Desa Ngraji Djoko S..

Tumpangsari antara jagung manis dengan sawi memang tengah ‘populer’ di Ngraji. Petani biasanya menanam sawi terlebih dahulu, lantas setelah mulai tumbuh sekitar umur satu minggu, benih jagung manisnya baru ditanam di sela-selanya.

“Mergine lahane terbatas, dadose petani mriki menawi tanem nggih pasti tumpangsari. Hasile kersane langkung kathah. Biasane mantun pari, taneme jagung manis tumpangsari kaliyan sawi (karena lahannya terbatas, jadinya petani di sini kalau tanam pasti dengan sistem tumpangsari. Hasilnya biar lebih banyak. Biasanya setelah tanam padi, petani tanam jagung manis yang ditumpangsari dengan sawi-red.),” Suwanto, petani di Dusun Ngablak, Desa Ngraji.

Lantaran itu pula di Desa Ngraji, terutama di Dusun Ngablak, juga banyak pedagang jagung manis yang rutin memasok jagung manis ke sejumlah pasar di sekitar Grobogan.

Menurut Nur Mukhlisin, salah seorang pedagang jagung manis dari Dusun Ngablak, volume jagung manis yang dikirim dari dusunnya itu bisa mencapai tujuh ton setiap harinya. “Ngablak itu memang sentranya bakul (pedagang-red.) jagung manis. Setiap hari bisa sampai tujuh ton,” tuturnya.

Jagung manis tersebut, kata Nur, kebanyakan disuplai untuk memenuhi pasar lokal di sekitar Grobogan dan Blora. Permintaannya pun cukup besar dan tidak pernah sepi, kecuali saat hari-hari tertentu, seperti hari raya kurban dan bulan suro (Muharram).

“Saya sendiri setiap harinya selalu kirim jagung manis ke pasar Blora sebanyak 3,5 ton hingga 4 ton. Pasar paling ramai biasanya pada saat puasa dan lebaran Idul Fitri. Sepinya kalau pas hari raya kurban dan bulan Muharram (suroan),” terang Nur.

Untuk pasar jagung manis di Grobogan dan sekitarnya, faktor ukuran dan daya simpan menjadi salah satu pertimbangan tersendiri bagi pedagang. Nur mengatakan, jagung manis dengan ukuran tongkol sedang dan seragam akan lebih diminati, terlebih yang memiliki daya simpan bagus.

“Di sini, jagung manis yang ukurannya disukai itu yang satu kilogram berisi tiga tongkol. Karena, bagi pedagang sendiri itu sudah menguntungkan dan cukup ideal juga bagi pembeli. Selain itu, yang juga penting adalah daya simpannya juga harus bagus, minimal klobotnya tidak cepat menguning,” ujar Nur.

Terkait daya simpan, Nur menceritakan pengalamannya saat membawa varietas jagung manis baru yang dari ukurannya sudah ideal untuk dijual di pasar. Hanya saja daya simpannya ternyata kurang bagus. Alhasil, jagung manis itu pun kurang laku di pasar.

“Klobotnya itu ternyata cepat kuning, jadi begitu sampai di pasar warnanya sudah nggak hijau segar lagi. Kalau sudah begitu pastinya pembeli pun juga nggak mau ambil, karena dikiranya itu barang sudah lama,” terangnya.

New Master Sweet
Mengingat ukuran tongkol dan daya simpan sudah menjadi syarat yang umum di kalangan pedagang jagung manis di Grobogan, maka tidak semua varietas jagung manis yang ada di pasaran bisa memenuhinya. Terlebih bagi para petani sendiri, selain dua syarat tersebut, faktor ketahanan penyakit, khususnya bulai dan hawar daun, juga turut menjadi penentu utama.

“Kalau bagi pedagang sendiri yang penting ukuran tongkolnya sesuai dan tahan simpan itu sudah cukup. Hanya saja kalau bagi petani kan juga pasti membutuhkan tanaman yang lebih tahan penyakit, agar hasilnya lebih optimal,” terang Nur.

Beberapa waktu lalu, bertempat di lahan milik Suwarto, salah seorang petani jagung manis di Dusun Ngablak, Desa Ngraji, Purwodadi, sejumlah petani di Dusun tersebut diperkenalkan sebuah varietas jagung manis baru dari PT BISI International, Tbk.. Varietas baru yang bernama New Master Sweet itu ditanam sendiri oleh Suwarto.

“Saya tanam (New) Master Sweet ini memang atas saran dari Mas Nur (Nur Mukhlisin-red.). Tapi saya sendiri juga ingin mencoba dan melihat seperti apa tanamannya dan bagaimana hasilnya,” terang Suwarto.

Hasilnya, kata Suwarto, ternyata memang memuaskan dan sesuai dengan harapannya. Tanamannya kokoh, tahan penyakit bulai dan hawar daun, tongkolnya besar, dan ukurannya seragam.

“Padahal kulo taneme niki mung angger mawon lho mas. Mupuke nggih namung ping tigo, pokoke mboten kados biasane. Tapi ternyata hasile lha kok sae (padahal saya tanamnya ini hanya sekedarnya saja lho mas. Pemupukannya juga hanya tiga kali, pokoknya tidak seperti biasanya. Tapi ternyata hasilnya kok ya bagus-red.),” kata Suwarto sembari tersenyum.

Tongkol ideal dan tahan roboh
New Master Sweet yang ditanam oleh Suwarto tersebut memang tidaklah banyak, namun hasil yang memuaskan telah membuat Suwarto sendiri dan juga petani di Ngablak begitu yakin dengan jagung manis yang memiliki potensi hasil hingga 17,8 ton per hektar itu.

Menurut Sumarmo, salah satu petani jagung manis di Ngablak yang turut serta melihat langsung tanaman New Master Sweet tersebut mengatakan, performa tanaman jagung manis ini sangat bagus, tanamannya kokoh, tongkolnya besar, dan bijinya bisa terisi penuh sampai ujung tongkol (muput-Jawa).

“Tanamannya lebih tinggi, tapi saya lihat akarnya itu juga lebih banyak dan kuat, jadi pasti tidak mudah roboh kena angin. Jagung manis ini kelihatannya sangat menjanjikan, karena tanamannya bagus, buahnya juga besar, dan yang membuat saya tertarik adalah bijinya bisa muput sampai ujung,” kata Sumarmo.

Suwarto sendiri juga mengakui kalau tongkol jagung manis New Master Sweet yang ditanamnya itu lebih baik dibanding jagung manis lain yang biasa ia tanam. Selain ukurannya cukup besar dan seragam, hampir semuanya berbiji muput hingga ujung tongkol.

“Yang jelas tongkolnya muput kabeh (muput semuanya-red.), kalau seperti ini petani seperti saya bisa senang, pedagang juga pasti suka,” ujar Suwarto.

Sementara itu M. Sofyan, Market Development Vegetables Seed PT BISI area Jawa Tengah-DIY mengungkapkan, biji tongkol jagung manis yang muput tersebut memang akan lebih menguntungkan, bukan hanya bagi petani, tapi juga bagi pedagang. Pasalnya, pedagang jagung manis di Ngablak menjual jagung manis ke pasar dalam bentuk kupasan dan dikemas dalam plastik, biasanya satu kantong plastik berisi tiga tongkol. Sehingga apabila bijinya tidak penuh sampai ujung tongkol, maka akan langsung dipotong dan dibuang, agar kelihatan tetap bagus dan menarik bagi pembeli.

“Dengan biji yang muput, pedagang tidak perlu membuang sisa tongkol yang tidak ada bijinya tersebut. Sekarang kalau dihitung-hitung, sisa tongkol yang dibuang itu sudah berapa gram beratnya, dikalikan sejumlah banyak jagung yang dibeli pedagang dari petani. Artinya akan ada kehilangan berat timbangan yang harus ditanggung pedagang dari jagung manis yang tidak muput itu. Oleh karena itu, dengan New Master Sweet, maka petani untung, pedagang pun juga untung,” terang Sofyan.

Hal itu juga dibenarkan oleh Nur Mukhlisin. Sebagai seorang pedagang jagung manis, dirinya pada dasarnya tidaklah terlalu pilih-pilih terhadap jenis jagung manis yang hendak ia beli dari para petani. Namun, jika ada yang ukuran tongkolnya ideal dengan biji yang muput dan lebih tahan simpan, maka sebagai pedagang ia tentu saja merasa lebih diuntungkan.

“Di pasar sendiri (New) Master Sweet tidak ada masalah, tongkolnya sudah oke dan mudah masuk pasar. Harganya pun nggak beda dengan yang lain. Yang penting petani sudah mau menanam gitu pasar tidak ada masalah,” terang Nur.

Menurut Nur, usaha tani jagung manis sendiri memang lebih menguntungkan bagi petani. Pasalnya, masa panennya lebih cepat dan harga jualnya juga relatif stabil.

“Intinya dalam usaha tani jagung manis, asalkan tiap satu bungkus benihnya bisa menghasilkan empat kuintal, meskipun harga jualnya rendah, misalnya sampai Rp1.500 per kilogram, apapun yang terjadi petani tetap untung. Kalau melihat performanya, jagung manis (New) Master Sweet untuk menghasilkan empat kuintal itu mudah. Ya seperti yang di tempatnya Pak Warto (Suwarto-red.) itu, meskipun nanamnya angger tapi hasilnya cukup bagus. Bagaimana kalau dirawat dengan baik, pasti lebih bagus lagi,” ujar Nur.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).