INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MENGOPTIMALKAN MUSIM KERING DENGAN BERCOCOK TANAM JAGUNG

Datangnya musim kemarau di beberapa tempat, khususnya di lahan tadah hujan, acapkali memberikan tantangan tersendiri bagi para petani terkait komoditas yang hendak mereka tanam. Komoditas yang memiliki adaptasi bagus di musim kemarau, seperti jagung, menjadi salah satu pilihan yang rasional bagi petani. Hanya saja bercocok tanam jagung dalam kondisi lingkungan yang kering juga tetap memerlukan perhatian khusus agar hasilnya optimal.

Jagung pada dasarnya merupakan golongan tanaman yang sangat cocok ditanam di musim kemarau. Pasalnya, tanaman yang memiliki nama latin Zea mays ini memerlukan sinar matahari penuh selama masa hidupnya. Selain itu, tingkat penggunaan airnya juga tergolong sedang. Dari catatan Food and Agriculture Organization (FAO), kebutuhan air tanaman jagung berkisar antara 400 hingga 500 mm.

Meski begitu, komoditas pangan satu ini juga sensitif terhadap kondisi kekurangan maupun kelebihan air. Biasanya, jika mengalami kelebihan air, tanaman jagung akan menunjukkan respon berupa warna daun yang menguning dengan pertumbuhan yang terhambat dan hasil yang menurun. Sementara jika mengalami kekurangan air, tanaman akan menggulung daunnya untuk mengurangi laju penguapan.

“Selama pertumbuhannya, tanaman jagung memiliki juga fase-fase kritis terhadap kondisi kekurangan air. Fase-fase itu antara lain: fase perkecambahan, pembungaan, dan pengisian biji,” terang Yustiana, staf Riset dan Pengembangan Tanaman Jagung PT BISI International, Tbk..

Oleh karena itu, fase-fase kritis tersebut harus tetap menjadi perhatian para petani. Pasalnya, hal itu akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Misalnya, jika pada saat masa perkecambahan tidak mendapat pasokan air atau tingkat kelembaban tanahnya kurang, maka pertumbuhan benih yang telah ditanam akan terhambat, bahkan bisa tidak tumbuh sama sekali.

Kemudian, jika pada masa pembungaan terjadi kekurangan air, maka perkembangan organ bunga jagung akan terganggu. Dampaknya adalah jumlah polen pada bunga jantan menjadi lebih sedikit dan masa viabilitas polennya menjadi lebih pendek. Sedangkan pada bunga betina akan mengakibatkan insersi (daya lekat) rambut tongkol menjadi kurang maksimal, masa reseptif silking (penerimaan polen oleh bunga betina) berkurang, dan rambut menjadi lebih cepat kering.

“Hal ini secara umum akan berdampak pada pembentukan biji jagung yang tidak optimal,” ujar Yustiana.

Sementara jika kekurangan air terjadi pada masa pengisian biji, maka akan mengakibatkan penurunan bobot biji. Kualitas bijinya pun menjadi kurang baik lantaran pengisiannya tidak sempurna.

Faktor pembatas
Musim kemarau memang musim yang dinilai cocok untuk budidaya jagung. Pasalnya, ada beberapa kelebihan yang bisa diperoleh petani jagung saat bercocok tanam di musim kemarau. Menurut Yustiana, kelebihan bercocok tanam jagung di musim kemarau itu antara lain: tanaman dapat tumbuh optimal karena mendapat penyinaran penuh selama masa pertumbuhannya, kegiatan penyerbukan bunga dan pembentukan biji dapat lebih maksimal selama kebutuhan airnya tercukupi, dan serangan penyakit, seperti bulai dan busuk tongkol, relatif sangat rendah.

Meski demikian, dalam bercocok tanam jagung di musim kemarau terdapat faktor pembatas yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Faktor pembatas itu antara lain: ketersediaan air, kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi saat pembungaan, kelembaban tanah yang rendah, dan serangan hama yang cenderung lebih tinggi dibanding musim hujan.

Oleh karena itu, pola dan teknis budidaya, mulai dari pemilihan varietas tanaman, pengolahan lahan, pengairan, hingga pengendalian hama dan penyakit, selama musim kemarau sebaiknya juga mengacu pada faktor pembatas tersebut. Sehingga performa dan produktivitas tanaman bisa terus terjaga hingga masa panen tiba.

Pola yang tepat jamin hasil optimal
Sebagai langkah awal, memilih varietas tanaman jagung yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan bercocok tanam di saat kemarau. Daya adaptasi yang baik sekaligus keunggulan genetis lain, seperti: produktivitas yang tinggi dan ketahanan terhadap hama penyakit, menjadi beberapa kriteria yang harus dipenuhi saat memilih varietas yang tepat.

“Tentunya banyak pilihan varietas di pasaran. Ada yang adaptif di musim kemarau namun rentan terkena penyakit bulai. Ada pula yang tahan penyakit namun kurang adaptif di musim kemarau. Petani tentunya harus bisa memilih varietas jagung yang adaptif di musim kemarau sekaligus tahan terhadap serangan hama penyakit,” ujar Doddy Wiratmoko, Market Development Corn Seed Manager PT BISI.

Dari beberapa varietas jagung yang diproduksi PT BISI, varietas hibrida BISI 18 disebut Doddy sebagai salah satu varietas yang sangat layak untuk ditanam para petani. Karena, varietas ini cukup adaptif di musim kering sekaligus memiliki produktivitas yang tinggi hingga 12 ton/ha dan tahan terhadap serangan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis) yang sering menjadi momok bagi para petani jagung.

Kemudian untuk pengolahan lahan, kondisi tanah dan kecukupan air patut menjadi pertimbangannya. Menurut Yustiana, pada kondisi air yang sangat terbatas, pengolahan dan persiapan lahannya diupayakan agar sifat konservasi tanah terhadap air tidak berkurang.

“Pada tanah ringan dan sedang sebaiknya dilakukan olah tanah minimum. Dimana barisan tanam diolah dan dibuat alur-alur untuk mempermudah kegiatan pengairan,” terang Yustiana.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan air, Yustiana menganjurkan untuk melihat tanda-tanda yang ditunjukkan oleh tanaman jagung itu sendiri. “Saat kekurangan air, tanaman jagung memiliki mekanisme menggulung daun atau leaf rolling untuk mengurangi laju penguapan. Selain itu, lapisan olah tanah juga pasti tampak kering. Saat inilah perlu dilakukan pengairan,” terangnya.

Patokan pemberian kebutuhan air selanjutnya menurut Yustiana bisa mengacu pada fase-fase kritis tanaman, yaitu: fase perkecambahan, pembungaan, dan pengisian biji. Yang penting, pada fase-fase tersebut kebutuhan air tanaman jagung harus terpenuhi dengan baik agar pertumbuhan dan hasil akhir tanaman bisa tetap optimal.

Pengairan juga diperlukan sesaat setelah dilakukan pemupukan susulan. Menurut Yustiana, hal ini dimaksudkan untuk melarutkan pupuk yang diberikan, sehingga nutrisinya bisa lebih  mudah diserap tanaman.

“Di beberapa daerah, seperti di Tuban dan Jember, para petani banyak yang melarutkan pupuknya terlebih dahulu dengan air, kemudian baru disiramkan pada pangkal tanaman. Namun ini masih perlu dikaji lagi tentang keefektifan dan efisiensinya,” terang Yustiana.

Yang juga perlu diantisipasi saat bercocok tanam jagung di musim kemarau adalah keberadaan gulma yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Karena, pertumbuhan gulma di musim kemarau relatif lebih cepat.

“Sebaiknya menggunakan herbisida kontak saat tanaman sudah berumur 30 hari setelah tanam atau saat tinggi tanaman mencapai sekitar 50 cm. Penyemprotannya pun juga harus hati-hati, jangan sampai terlalu tinggi agar tidak mengenai pucuk tanaman yang menjadi titik tumbuhnya,” jelas Yustiana.

Sementara untuk serangan hama dan penyakit, intensitas serangan hama biasanya cenderung lebih tinggi dibandingkan serangan penyakit. Hanya saja, kata Yustiana, keberadaan penyakit bulai yang notabene merupakan penyakit “khas” pada tanaman jagung tetap harus diwaspadai. Penggunaan varietas yang tahan seperti jagung hibrida BISI 18 akan sangat membantu. “Kalau hamanya yang umum menyerang di musim kemarau adalah ulat, belalang, dan tikus,” lanjut Yustiana.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).