INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

TIGA SASARAN BESAR DALAM KONSEP KETAHANAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN INDONESIA

Laju pertumbuhan penduduk dunia akan selalu terkait dengan ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan pangan dan energi penduduk itu sendiri. Oleh karena itu, masing-masing negara di dunia akan selalu disibukkan dengan dua hal penting tersebut. Lantas, bagaimana dengan Indonesia sendiri?

Mengutip data yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan yang berjudul “Prospek Populasi Dunia: Revisi 2012”, disebutkan, penduduk dunia pada tahun 2025 akan tumbuh menjadi 8,1 miliar jiwa dari jumlah saat ini yang tercatat 7,2 miliar jiwa. Kemudian pada tahun 2050, populasi tersebut akan terus berkembang menjadi 9,6 miliar jiwa, atau lebih besar dari prediksi sebelumnya yang diramalkan pada angka 9,3 miliar jiwa.

Pertumbuhan populasi yang melebihi perkiraan itu tentunya menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait daya dukung sumber daya yang dimiliki bumi ini. Populasi yang besar, tentunya juga akan membutuhkan sumber daya yang lebih besar pula, mulai dari pangan, energi, dan ketersediaan lahan untuk pertanian.

Hal ini pula yang kembali ditekankan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) XIV di Komplek Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur (7/6).

Menurut Presiden, dengan pertambahan penduduk dari 7 miliar menjadi lebih dari 9 miliar jiwa, maka manusia di dunia akan membutuhkan tambahan pangan dan energi antara 60 hingga 70 persen.

“Artinya, ke depan, kebutuhan pangan dan energi akan meningkat tajam. Oleh karena itu, agar dunia tidak kelaparan, agar Indonesia juga tidak kekurangan pangan, maka tugas kita adalah meningkatkan produksi pangan di Indonesia dan tentunya produksi pangan di seluruh dunia dengan cara-cara yang tepat, cerdas, dan tidak merusak lingkungan,” ujar Presiden.

Terkait dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan kemandirian pangan, Presiden menyebut tiga sasaran besar yang harus dicapai Indonesia jika ingin menjadi negara yang benar-benar berswasembada dan mandiri dalam hal pangan. Tiga sasaran besar itu antara lain: kecukupan pangan dan mampu berswasembada serta memiliki ketahanan pangan yang kuat, penghasilan para petani, nelayan, dan petani hutan yang semakin meningkat, dan rakyat Indonesia mampu membeli kebutuhan pangannya sendiri dengan harga yang terjangkau.

“Itulah tiga sasaran besar yang harus dicapai di masa-masa yang akan datang,” tegas Presiden di hadapan lebih dari 35.000 peserta Penas yang datang dari seluruh pelosok Indonesia.

Lima pihak yang paling berkepentingan
Lantas, bagaimana caranya mencapai tiga sasaran besar tersebut? Menurut Presiden SBY, ada lima pihak yang disebut paling berkepentingan dan harus bekerja keras untuk mencapai tiga sasaran besar itu, yaitu: pemerintah, para pakar, dunia usaha, para petani nelayan, dan masyarakat luas.

Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, disebut pertama kali karena merupakan pembuat kebijakan dan regulasi yang menentukan arah pembangunan dan pengelolaan negara yang berpihak pada kepentingan nasional dan kesejahteraan petani nelayan.

Presiden mengatakan, pemerintah harus mampu membuat kebijakan dan regulasi yang tepat, menciptakan iklim pertanian, perikanan, dan kehutanan yang tepat, serta iklim investasi usaha yang juga tepat.

“Kebijakan pemerintah dalam era globalisasi haruslah tetap untuk kepentingan nasional kita, haruslah tetap melindungi petani, nelayan, dan petani hutan. Itu tugas dan kewajiban pemerintah,” papar Presiden.

Kemudian pihak kedua yang disebut sangat berperan adalah kalangan pakar, peneliti, dan inovator di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan. Menurut Presiden, kalangan ini harus terus bekerja keras dan bertanggung jawab dalam hal peningkatan produksi dan produktivitas pangan di Indonesia.

Sementara itu, pihak ketiga yang disebut Presiden juga memegang peran penting adalah dunia usaha. Keberadaan dunia usaha dalam konsep ketahanan pangan dianggap penting, karena merupakan salah satu mediator dalam hal peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani dan nelayan.

“Dunia usaha penting, agar apa yang dihasilkan oleh para petani, nelayan, dan petani hutan dengan perdagangan dan industri yang adil, itu juga bisa dikembangkan untuk kepentingan kita semua,” papar Presiden.

Lebih lanjut Presiden mengingatkan, meskipun kalangan dunia usaha harus mendapatkan keuntungan lebih, tapi mereka juga harus memperhatikan kepentingan para petani, nelayan, dan petani hutan yang juga memerlukan keuntungan dan penghasilan yang lebih baik.

“Ingatlah, kalau melakukan perdagangan, baik itu produk-produk pertanian, perikanan, maupun kehutanan, jangan sampai mengesampingkan kepentingan para petani, nelayan, dan petani hutan yang memerlukan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraannya,” ujar Presiden.

Berikutnya, komunitas petani, nelayan, dan petani hutan sendiri disebut sebagai pihak keempat yang turut bertanggung jawab dan berperan penting dalam konsep ketahanan dan kemandirian pangan. Presiden mengungkapkan, kalangan petani, nelayan, dan petani hutan juga harus tetap rajin, produktif, memiliki pengetahuan lebih, trampil, menguasai teknologi seputar budidaya yang tepat sesuai kondisi iklim, dan hal lain yang terkait erat dengan peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan mereka sendiri.

“Demikian juga dengan koperasi, usaha kecil menengah, dan usaha yang dilakukan oleh para petani, nelayan, dan petani hutan juga harus berkembang. Artinya, mereka sendiri juga harus bisa berbuat banyak untuk meningkatkan produksi pangan dan meningkatkan kesejahteraannya masing-masing,” terang Presiden.

Kemudian, pihak kelima yang menurut Presiden tidak boleh dilupakan adalah peran dari masyarakat luas. “Bumi kita tidak berkembang, bahkan sebagian lahan kita sudah tidak subur lagi karena kesalahan manusia sedunia selama berabad-abad. Oleh karena itu, manusia dan rakyat Indonesia, janganlah kita rakus, boros, janganlah kita mengkonsumsi pangan melebihi kepatutannya. Kita harus efisien dan hemat, dengan demikian kita turut memikirkan anak cucu kita, memikirkan generasi mendatang yang juga memerlukan kecukupan pangan,” tegas Presiden.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).