INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

OPTIMUS 200SL, HERBISIDA SISTEMIK AMAN STANDAR RSPO

Keberadaan gulma di tengah kebun kelapa sawit memang suatu hal yang wajar. Meski demikian, kehadirannya juga tetap harus dikendalikan agar produktivitas kelapa sawit tidak terganggu. Kini sudah ada produk herbisida Optimus 200SL yang efektif mengendalikan gulma kelapa sawit sekaligus lebih aman bagi lingkungan dan aplikatornya.

Indonesia telah menjadi negara penghasil minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terbesar di dunia, menggeser Malaysia yang sejak 2006 menempati urutan pertama. Menurut Ketua Umum Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joefly J. Bahroeny, tahun lalu (2013), dari kebun seluas lebih dari 9 juta hektar yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, produksi CPO Indonesia telah mencapai 25 juta ton.


Tingginya produktivitas kebun kelapa sawit itu sendiri juga tidak lepas dari aspek on farm dengan segala atributnya. Salah satunya adalah dalam hal pengendalian gulma yang selalu setia hadir di tengah-tengah perkebunan sawit.
 
“Keberadaan gulma, di manapun tempatnya pasti selalu mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya. Termasuk di perkebunan sawit. Oleh karena itu, keberadaannya harus segera dikendalikan agar tidak sampai menimbulkan kerugian,” ujar Mudjahiddin, Pesticides Product Development General Manager PT Tanindo Intertraco.
 
Menurut Mudjahiddin, dalam pengendalian gulma pada kelapa sawit, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika upaya pengendalian tersebut menggunakan herbisida. Salah satunya adalah terjadinya partenokarpi pada buah kelapa sawit sebagai dampak penggunaan herbisida dengan bahan aktif tertentu.
 
Partenokarpi merupakan gejala terbentuknya buah tanpa melalui proses polinasi atau pembuahan sel telur oleh inti generatif. Jika hal ini terjadi, maka buah kelapa sawit yang terbentuk tidak akan memiliki inti sawit yang dalam industri kelapa sawit memiliki nilai ekonomis tinggi, bahkan lebih tinggi dibanding CPO. Oleh karena itu, terjadinya partenokarpi akan sangat merugikan industri sawit.

Bahan aktif Glufosinat yang aman
Sejumlah literatur dan penelitian menyebutkan bahwa tidak semua bahan aktif herbisida menyebabkan partenokarpi, dan salah satu bahan aktif yang relatif aman adalah glufosinat. Cara kerja glufosinat dengan menghambat aktivitas enzim glutamin sintetase yang ada pada tanaman (gulma). Enzim tersebut dibutuhkan untuk pembuatan asam amino glutamin sekaligus berperan dalam detoksifikasi amonia. Dengan adanya glufosinat, maka kandungan glutamin pada gulma akan berkurang dan amonia akan meningkat, hingga akhirnya fotosintesis gulma akan terhenti dan kemudian mati.
 
“Contoh herbisida yang berbahan aktif glufosinat adalah Optimus 200SL. Herbisida ini berbahan aktif glufosinat 182,7 g/L yang setara dengan ammonium glufosinat 200 g/L,” terang Mudjahiddin. Herbisida Optimus 200SL, lanjut Mudjahiddin, sangat sesuai untuk memberantas gulma yang ada di kebun kelapa sawit. Selain efektif dan cepat memberantas gulma, herbisida ini juga aman untuk kelapa sawit TBM (Tanaman Belum Menghasilkan).
 
Gulma yang menjadi sasaran herbisida tersebut meliputi gulma berdaun lebar, seperti Borreria alata (kentang-kentangan), dan gulma berdaun sempit, seperti: Ischaemum timorense (lamur), Setaria plicata (pahitan lanang), dan Paspalum conjugatum (pahitan).
 
Keefektifan herbisida sistemik Optimus 200SL tersebut juga telah memiliki standar aman seperti yang ditetapkan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Dalam standar RSPO, herbisida yang berbahan aktif glufosinat, seperti Optimus 200SL, dinilai lebih aman bagi operator yang melakukan penyemprotan herbisida dan bagi lingkungan dibandingkan ba-han aktif her-bisida lainnya.
 
Selain itu, meskipun kandungan bahan aktifnya lebih rendah dibanding glifosat, efektifitas Optimus 200SL sama dengan herbisida glifosat yang kandungan bahan aktifnya lebih tinggi.
 
“Dengan bahan aktif yang lebih rendah tapi efektifitasnya sama dengan bahan aktif lain yang lebih tinggi, maka herbisida Optimus 200SL ini juga lebih aman bagi lingkungan,” lanjut Mudjahiddin.
 
Dosis penggunaannya pun, kata Mudjahiddin, juga lebih rendah dibanding herbisida berbahan aktif glifosat. Untuk lahan seluas satu hektar, dosis anjurannya cukup 3-4 liter. Sementara yang glifosat bisa sampai 6 liter per hektar. “Dengan catatan, bahan aktifnya setara,” sambungnya.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).