INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MEWASPADAI HAWAR DAUN JAGUNG YANG MENYUKAI LINGKUNGAN LEMBAB

Datangnya musim hujan kerap kali membawa konsekuensi tersendiri bagi petani. Pasalnya, kondisi lingkungan yang basah dan lembab menjadi pemicu berkembangnya sejumlah patogen pemicu penyakit yang merugikan tanaman. Misalnya saja adalah penyakit hawar daun yang kerap menyapa pertanaman jagung di saat musim basah. Kehadiran penyakit utama tanaman jagung itu tidak bisa dianggap remeh, karena mampu menimbulkan kerusakan berat hingga gagal panen.

Cendawan atau jamur Helminthosporium maydis merupakan biang kerok utama dibalik serangan penyakit hawar daun atau di kalangan petani Jawa menyebutnya dengan istilah kresek pada pertanaman jagung manis maupun jagung pakan. Cendawan yang menyukai lingkungan lembab dan basah ini memang dikenal memiliki daya rusak yang cukup tinggi, terlebih pada tanaman jagung yang ditanam di awal musim hujan.


Dari sejumlah penelitian disebutkan bahwa tingginya potensi merusak penyakit tersebut disebabkan oleh intensitas perkembangan dan penyebaran spora cendawan H. maydis yang cukup tinggi melalui perantaraan angin. Seperti ditulis Syahrir Pakki dari Balai Penelitian Tanaman Serealia dalam “Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun (Helminthosporium sp.) pada Tanaman Jagung”, proses perkembangan spora itu sendiri terjadi pada bagian permukaan tanaman yang terinfeksi. Setelah itu, spora akan lepas dan terbawa angin serta hinggap pada permukaan tanaman yang lain.
 
Spora tersebut selanjutnya akan beradhesi dan melakukan penetrasi awal, kemudian membentuk bercak dan berkembang. Siklus hidup cendawan H. maydis berlangsung selama 2-3 hari, dan dalam 72 jam, satu bercak yang timbul mampu menghasilkan 100-300 spora baru. Dengan demikian, wajar kiranya kalau penyakit ini mampu berkembang dan menyebar dengan cepat hingga menimbulkan kehilangan hasil yang cukup signifikan, sekitar 59%, terutama jika infeksinya terjadi sebelum bunga betina keluar.
 
“Penyakit hawar daun itu memiliki sifat berbunga majemuk kontinyu, sehingga perkembangan dan pemencarannya sangat cepat melalui perantaraan angin,” ujar Dr. Ir. Andi Khaeruni, MSi., Koordinator Laboratorium Proteksi Tanaman Departemen Bioteknologi PT BISI International, Tbk..

Lebih menyukai tanaman jagung
Di Indonesia, seperti ditulis Syahrir, H. maydis merupakan satu di antara dua spesies cendawan yang telah dilaporkan menyerang pertanaman jagung. Satu spesies cendawan lainnya adalah H. turcicum.
 
Secara umum, cendawan H. maydis banyak ditemukan di dataran rendah yang memiliki suhu optimum berkisar 20-300C, dan kondisi tersebut ternyata banyak ditemukan di areal pertanaman jagung. Dengan demikian, secara tidak langsung cendawan ini akan lebih menyukai kondisi lingkungan yang ada di areal pertanaman jagung dibandingkan spesies tanaman lain.
 
Selain itu, seperti yang ditulis Syahrir, pertumbuhan dan perkembangan cendawan H. maydis itu sendiri juga sangat dipengaruhi oleh media tumbuhnya. Pada media yang mengandung karbohidrat tinggi, pertumbuhan dan perkembangan spora cendawan tersebut akan lebih banyak dibandingkan pada media yang miskin karbohidrat
 
Keberadaan cendawan patogen tersebut sebenarnya tidak hanya banyak ditemui di musim-musim basah dan lembab saja, namun hampir selalu bisa ditemukan di setiap musim tanam dan di berbagai umur tanaman. Pasalnya, patogen dalam bentuk miselium dorman juga mampu bertahan hingga satu tahun pada sisa tanaman jagung. Sehingga serangan penyakit ini bersifat laten dan sporadis terutama pada varietas yang rentan.
 
Meski demikian, intensitas serangan penyakit ini paling tinggi tetap terjadi di musim hujan. Hal itu terkait erat dengan suhu dan kelembaban ideal yang dikehendaki cendawan H. maydis. Pada musim hujan dengan intensitas curah hujan 210-480 mm/bulan, suhu siang hari biasanya lebih rendah dan stabil, sedangkan kelembabannya cenderung lebih tinggi dengan variasi yang tidak ekstrim. Kondisi ini mengakibatkan sporulasi cendawan tersebut meningkat dan keberadaan spora di udara cukup tersedia, sehingga peluang terjadinya infeksi lebih besar.
 
“Penyakit ini bisa berkembang secara sporadis pada kelembaban tinggi dalam periode yang lama,” terang Andi.

Muncul gejala setelah 13 jam infeksi
Menurut Syahrir, gejala visual yang menunjukkan ciri khas serangan cendawan H. maydis adalah berupa bercak agak memanjang dengan bagian tengahnya agak melebar, dan makin ke tepi makin kecil. Warnanya cokelat keabuan dan dikelilingi oleh warna kekuningan yang sejajar tulang daun. Panjang hawarnya berkisar 2,5-15 cm.
 
Pada varietas jagung yang peka, gejala awal serangan akan terlihat setelah 13 jam pascainfeksi. Gejala tersebut berupa titik transparan agak basah yang kemudian makin membesar dan warnanya akan berubah menjadi cokelat kekuningan setelah 5-6 hari kemudian.
 
Munculnya bercak tersebut selalu dimulai pada bagian daun yang paling bawah, kemudian akan terus berkembang pada bagian daun di atasnya. Infeksi yang berat bisa mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering. Meski demikian, cendawan H. maydis tidak menginfeksi bagian tongkol ataupun klobotnya.
 
“Jika serangan itu terjadi pada fase vegetatif, maka akan sangat mempengaruhi hasil. Tapi kalau serangannya terjadi setelah pembentukan tongkol, hanya akan menimbulkan kerugian yang tidak terlalu banyak,” ujar Andi.

Varietas tahan
Sejauh ini, penggunaan varietas jagung yang memiliki gen ketahanan terhadap patogen H. maydis menjadi salah satu cara yang paling efektif dan efisien untuk mencegah kerusakan tanaman akibat serangan cendawan patogen tersebut. Menurut Andi Khaeruni, penggunaan varietas tanaman yang tahan merupakan cara pengendalian penyakit tanaman yang: murah, mudah, aman, dan efektif.
 
“Murah, karena tidak membutuhkan biaya penyemprotan. Mudah, karena tidak diperlukan teknik khusus. Aman, karena tidak mempunyai efek residu kimia. Efektif, karena dapat mengendalikan penyakit-penyakit yang tidak bisa diatasi menggunakan cara lain,” terang Andi.
 
Dari tulisan Syahrir, pada varietas yang tahan, tanaman akan mempunyai enzim yang dikeluarkan oleh dinding sel daun yang mampu melawan sifat agresifitas dari spora cendawan patogen. Dengan demikian, meskipun masih ada bercak pada tanaman yang tahan, jumlahnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan varietas tanaman yang rentan.
 
Beberapa contoh varietas jagung yang memiliki gen tahan terhadap serangan cendawan Helminthosporium maydis adalah jagung super hibrida BISI 18 dan BISI 816. Sementara untuk jagung manis, beberapa varietas yang tahan antara lain: jagung manis hibrida New Master Sweet, Sweet Lady, Jaguar, dan Sweet Boy.

Penanaman lebih awal
Menurut Andi, untuk menyiasati perkembangan cendawan H. maydis, juga diperlukan pengaturan waktu tanam yang tepat dengan mempertimbangkan faktor iklim, terutama curah hujan. Pasalnya, cendawan tersebut menghendaki kondisi lingkungan yang lembab dan tidak banyak sinar matahari.
 
“Jika penanaman jagung tetap dilakukan di musim hujan, akan lebih baik kalau penanamannya dilakukan lebih awal. Yaitu di saat curah hujan belum tinggi dan penyinaran matahari masih banyak, sehingga bisa menekan perkembangan cendawan,” terang Andi.
 
Sanitasi lingkungan, lanjut Andi, juga penting dilakukan untuk menekan perkembangan sumber inokulum. Sanitasi bisa dilakukan dengan memangkas daun-daun bagian pangkal yang terinfeksi dan kemudian dibakar untuk memusnahkan patogen yang masih bisa bertahan pada sisa-sisa daun tersebut.

“Selain pada tanaman jagung itu sendiri, sanitasi juga dilakukan pada rumput di sekitar tanaman jagung yang menjadi inang alternatif dari patogen ini,” ungkap Andi.

Fungisida tepat
Sementara untuk pencegahan dan perlindungan secara kimiawi bisa dilakukan dengan menyemprotkan pestisida sistemik yang dimulai saat muncul gejala serangan sampai tanaman jagung memasuki masa generatif, yaitu munculnya bunga jantan.
 
“Hawar daun biasanya banyak menyerang pada saat tanaman memasuki fase generatif. Oleh karena itu penyemprotan pestisida dilakukan saat mulai ada gejala serangan sampai munculnya bunga jantan,” terang Mudjahiddin, Pesticides Product Development General Manager PT Tanindo Intertraco.
 
Menurut Mudjahiddin, fungisida sistemik yang bisa digunakan untuk melindungi tanaman jagung dari serangan H. maydis di antaranya adalah Azoxa 280SC dan Recor Plus 300EC. Dua fungisida sistemik tersebut, lanjut Mudjahiddin, bisa diaplikasikan secara bersamaan atau dicampur sekaligus dengan dosis masing-masing 1-1,5 ml/L air atau 1-1,5 tutup per tangki (17 L).
 
“Interval penyemprotannya antara 7-10 hari, dan daya bunuh pestisida tersebut bisa bertahan hingga dua minggu. Untuk memberikan perlindungan ekstra, sebaiknya larutan semprot tersebut juga dimasukkan ke dalam pucuk daun yang masih belum membuka sempurna,” ujar Mudjahiddin.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).