INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MENGOPTIMALKAN LAHAN TADAH HUJAN DENGAN VARIETAS JAGUNG YANG TEPAT DAN TANGGUH

Mengelola lahan tadah hujan di kawasan perbukitan untuk pengembangan tanaman jagung tentu memerlukan siasat tersendiri agar berhasil. Salah satunya dengan memilih varietas jagung yang tepat, yang memiliki daya adaptasi kuat pada kondisi lingkungan tumbuh yang terbatas tersebut.

Meskipun sebagian besar wilayah di Indonesia masih turun hujan, tapi tidak demikian dengan di Enrekang. Hampir seluruh wilayahnya sudah mulai kering lantaran hujan sudah sangat jarang sekali turun. Dampaknya, petani jagung yang saat tanam sebelumnya berharap masih bisa mendapat pasokan air hujan yang cukup melimpah, akhirnya hanya bisa gigit jari lantaran air hujan yang diharapkan tidak kunjung turun. Sementara tanaman jagungnya sudah mulai tumbuh dan membutuhkan pengairan.


“Sudah sangat jarang turun hujan. Sebulan belum tentu turun hujan,” terang Sardi alias Hebron, petani di Desa Tuara, Kecamatan Enrekang Selatan, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
 
Kondisi seperti itu, kata Hebron, memang sangat berpengaruh bagi petani dalam bercocok tanam. Pasalnya, lahan yang mereka tanami merupakan lahan tadah hujan yang berada di perbukitan. Sehingga, pola tanam mereka memang sangat tergantung pada air hujan.
 
“Musim hujan sangat ditunggu di sini, karena kami sangat bergantung pada air hujan untuk mengairi tanaman. Hanya pasa saat musim hujan saja kami bisa bertani. Kalau kemarau lahan kami kosong dan petani di sini lebih memilih untuk merawat kebun coklat,” ujar Hebron yang selalu bertanam sayuran dan juga jagung di lahan perbukitan Desa Tuara.
 
Menjelang datangnya musim hujan, biasanya petani di Enrekang mulai menanami lahan mereka dengan beragam komoditas, terutama jagung. Jika musim tanam itu tiba, sepanjang mata memandang, tiap jengkal lahan perbukitan di kabupaten tersebut akan penuh dengan hamparan tanaman jagung yang menghijau.

Varietas yang tepat
Bercocok tanam jagung di perbukitan dengan tipe lahan tadah hujan tentu memerlukan siasat tersendiri agar berhasil. Dengan hanya mengandalkan curahan air hujan untuk kebutuhan pengairan, diperlukan pengelolaan tanaman yang tepat agar bisa mengoptimalkan sumber daya yang terbatas itu.
 
Di saat menjelang musim hujan, petani jagung di lahan tadah hujan Enrekang biasanya mulai menanam benih jagung mereka dengan sistem tanpa olah tanah (TOT). Artinya, lahan yang hendak mereka tanami jagung cukup dibersihkan dari gulma dengan menggunakan herbisida lantas benih ditanam mengikuti arah kontur lahan yang sebagian besar berupa perbukitan.
 
Bagi petani jagung di Enrekang, varietas jagung yang akan ditanam juga menjadi faktor penentu utama keberhasilan usaha tani mereka. Dengan sistem TOT di lahan tadah hujan dan kondisi tanah agak berkerikil, tentu dibutuhkan varietas jagung yang mampu beradaptasi dengan baik. Bukan hanya mampu tumbuh dengan baik, tapi juga harus mampu memberikan hasil optimal bagi para petani penanamnya.
 
“Lahan di sini memang agak berkerikil dan selalu ditanam dengan sistem tanpa olah tanah. Jadi memang dibutuhkan varietas jagung yang mumpuni untuk ditanam dalam kondisi seperti itu, sekaligus mampu memberikan hasil yang menguntungkan bagi para petani,” ucap Hebron.
 
Seperti dua musim tanam terakhir ini, para petani di Enrekang banyak yang mencoba untuk menanam varietas jagung hibrida baru di lahan mereka. Varietas itu adalah BISI 18, salah satu jagung super hibrida yang diproduksi oleh PT BISI International, Tbk..
 
Berbekal keyakinan akan performa dan karakteristik tanamannya, para petani jagung di perbukitan Enrekang itu pun sukses bercocok tanam BISI 18 di musim hujan tahun lalu.
 
“Hasilnya lebih bagus dari jagung yang lain, terutama hasil jagung pipilnya. Tanamannya juga lebih tahan dari penyakit bulai yang biasa menyerang di daerah sini,” ungkap Abdurrahman, petani jagung di Desa Tungka, Kecamatan Enrekang.
 
Menurut Abdurrahman, hasil panen BISI 18 berbeda dengan jagung hibrida lainnya. Yang utama adalah memiliki bobot yang lebih berat dan tidak banyak mengalami kerusakan saat disimpan di penampungan sebelum dipipil dan diangkut ke gudang milik pengepul.
 
“Daya simpannya memang lebih bagus, karena kadar airnya itu rendah. Kalau jagung lain selama disimpan di penampungan sebelum didos (dipipil dengan mesin-red.) ada yang tumbuh. Jemurnya juga tidak perlu lama, karena lebih cepat kering,” terang Syaifudin, petani jagung BISI 18 yang juga tetangga Abdurrahman.
 
Hebron menambahkan, hasil panen jagung super hibrida BISI 18 di lahan tadah hujan perbukitan Enrekang rata-rata mencapai 400 kilogram pipil kering tiap kilogram benih. “Hasil itu sudah sangat bagus. Dengan tanamannya yang mampu beradaptasi baik, klobotnya tertutup rapat sehingga aman dari busuk tongkol, dan bijinya yang keras sehingga lebih disukai pedagang, maka jagung ini menurut saya sangat ideal bagi petani di sini,” terangnya.
 
Ketangguhan BISI 18 di lahan tadah hujan kawasan perbukitan Enrekang pada musim hujan itu pun membuat jagung hibrida ini menjadi idola baru para petani di sana. “Petani di daerah sini sudah 90 persen tanam BISI 18,” ujar Hebron.

Meski kekeringan tapi hasilnya tidak bikin galau
Jagung super hibrida BISI 18 memang sukses ditanam para petani di saat musim hujan datang di kawasan punggung bukit Enrekang. Namun ada juga pengalaman petani yang mengalami kekurangan air lantaran saat tanaman jagung BISI 18 sudah usai ditanam dan mulai tumbuh serta memasuki masa berbunga, pasokan air hujan sudah tidak datang lagi.
 
Alhasil, mereka pun menjadi harap-harap cemas dengan kondisi tanaman jagung yang sudah terlanjur mereka tanam. Ternyata, meskipun sempat mengalami ‘defisit’ air hujan, pertumbuhan dan hasil BISI 18 masih tetap optimal dan sesuai harapan para petani.
 
“Jagung BISI 18 memang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi cuaca. Jagung BISI 18 yang saya tanam ini sudah sebulan lebih tidak kena hujan, tapi masih bisa memberikan hasil yang maksimal,” ujar Tuti, petani jagung sekaligus Ketua Kelompok Wanita Tani di Desa Maroangin, Kecamatan Maiwa, Enrekang.
 
Beberapa petani juga mengatakan hal yang sama terkait ‘defisit’ atau kekurangan air di tengah-tengah bercocok tanam BISI 18. Khaerul dan Hebron misalnya, petani yang sama-sama dari Kecamatan Enrekang Selatan ini mengaku sangat kagum dengan performa jagung tersebut.
 
“Ternyata BISI 18 memang tangguh di segala musim. Dan itu terbukti di musim ini. Meskipun mengalami kekeringan di tengah jalan, tapi hasilnya tetap luar biasa. Kualitas bijinya bagus dan daunnya tetap hijau meskipun sudah dipanen, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak kami,” urai Hebron.
 
Bahkan, lantaran begitu senangnya dengan hasil yang mereka dapatkan itu, Hebron dan juga Khaerul pun memiliki ungkapan tersendiri dengan jagung hibrida tersebut, yaitu: “BISI 18 ini juga sebagai jagung kemarau yang hasilnya tidak bikin galau”.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).