INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MENGINTIP GELARAN PF2N 2013 DI YOGYAKARTA

Acara PF2N yang digagas oleh Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian telah memasuki tahun keenam sejak pertama kalinya digelar pada tahun 2008 di Tomohon, Sulawesi Utara, dan kali ini giliran Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dipilih sebagai tuan rumah. Seperti apa kemeriahan agenda tahunan itu digelar di kota budaya dan pelajar?

Pekan Flori dan Flora Nasional atau yang lebih dikenal dengan singkatan PF2N kembali digelar oleh Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI. Agenda tahunan tersebut kali ini diselenggarakan di kota budaya sekaligus kota pelajar Yogyakarta.

Menteri Pertanian Suswono yang didampingi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Direktur Jenderal Hortikultura Hasanudin Ibrahim membuka langsung acara yang digelar selama sepekan penuh itu, 2-8 Oktober 2013. Selain itu, juga tampak hadir dalam pembukaan antara lain: Direktur Perkotaan Kementerian Pekerjaan Umum, Deputi Koperasi Kementerian Koperasi, Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia Mufida Jusuf Kalla, Duta Besar Pakistan, sejumlah Gubernur, Bupati, Walikota, dan pejabat eselon I Kementan.

Dalam laporannya, Dirjen Hortikultura Hasanudin Ibrahim mengatakan, PF2N 2013 kali ini diisi dengan berbagai macam kegiatan, antara lain: pameran, jambore varietas, bursa, aneka lomba, kursus, workshop, seminar, talkshow, perijinan terpadu, kontak bisnis, temu investasi, agrowisata, pawai kendaraan hias dan dimeriahkan berbagai kesenian tradisional.

“Untuk jambore varietas, ada 173 varietas dari 19 jenis tanaman hortikultura dan diikuti oleh 19 produsen benih. Selain itu juga ada beragam info teknik budidaya beserta analisis usaha taninya, sehingga cocok untuk seluruh lapisan masyarakat yang mau berinvestasi di bidang hortikultura,” terang Hasanudin.

Sementara itu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya mengharapkan, gelaran acara PF2N tersebut bisa menjadi pendorong kemajuan buah lokal, sayuran khas, dan bunga eksotik domestik yang memiliki keunggulan.

“Kita prihatin masih ada buah tropis yang masih diimpor, seperti durian dan nangka,” ujar Sultan.

Lebih lanjut Sultan mengungkapkan, Provinsi DIY siap mendukung pengembangan hortikultura Indonesia. “Oleh karena itu kami mengajak pimpinan fakultas pertanian dan Pemerintah Daerah untuk membuat master plan pembangunan pertanian hortikultura di Yogyakarta,” terangnya.

Dengan mengusung tema “Hortikultura Nusantara sebagai Gaya Hidup Sehat”, Mentan Suswono berharap hal itu menjadi titik tolak kebangkitan hortikultura nusantara dalam mewujudkan sasaran Indonesia Sehat 2020.

“Sesuai dengan visinya, PF2N kali ini akan menjadi pencetus keinginan berinvestasi dalam agribisnis hortikultura di Indonesia. Hal ini sangat mungkin karena PF2N adalah acara nasional yang bertaraf internasional,” ujar Suswono.

Suswono mengungkapkan, agenda rutin tahunan tersebut diselenggarakan juga sebagai upaya untuk mempromosikan segenap potensi hortikultura dan juga kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.

“Potensi hortikultura, baik buah-buahan, sayuran, florikultura, dan tanaman obat, maupun keragaman budaya dan alam Indonesia sangat besar, sehingga layak untuk kita kembangkan bersama, baik untuk pasar domestik, ekspor, pariwisata, maupun untuk mengangkat citra baik Indonesia di dunia internasional,” papar Suswono saat membuka acara.

Suswono menambahkan, dalam hitung-hitungan bisnis, sebenarnya bisnis hortikultura itu lebih menguntungkan dibandingkan dengan tanaman pangan. Hal tersebut bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor untuk berinvestasi di sektor hortikultura.

“Tapi jangan lantas karena hortikultura lebih menarik dibandingkan dengan tanaman pangan kemudian menjadikan sawah-sawah yang produktif dialihkan ke hortikultura. Tentu kita harus atur tata ruangnya, karena pangan pokok kita adalah beras. Meskipun saat ini kita surplus, tahun lalu surplus 5,6 juta ton beras, tapi itu masih sangat rawan. Karena kebutuhan beras kita per bulan masih sangat besar, sekitar 3 juta ton,” terang Suswono.

Dipilihnya DIY sebagai provinsi penyelenggara keenam PF2N tidak lepas dari kekayaan budaya yang sudah mendunia hingga mendapatkan predikat sebagai kota pelajar dan budaya. “Topografinya yang lengkap, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang sejuk, bisa menjadi modal untuk menjadi percontohan atau show window bagi pengembangan hortikultura nasional,” ujar Suswono.

Di samping itu, julukan sebagai kota pelajar dan budaya bisa menjadi modal untuk menebar gaya hidup atau life style baru, yaitu gaya hidup sehat dengan hortikultura. “Sebagai kota pelajar dan budaya, maka hal ini bisa menjadi pasar yang potensial untuk hortikultura Indonesia, dan mudah-mudahan Yogya bisa menjadi contoh gaya hidup sehat seperti yang kita canangkan tadi,” terang Suswono.

Sebagai provinsi yang kaya budaya, acara pembukaan PF2N 2013 tersebut juga didahului dengan gelaran tari “Karya Tani” hasil karya para koreografer muda Yogyakarta. Tari tersebut menggambarkan hortikultura sebagai sumber hidup yang harus ditingkatkan dengan menghadapi segala tantangan, terutama masalah hama penyakit.

Seusai membuka acara, Mentan yang didampingi Gubernur DIY dan Dirjen Hortikultura mengunjungi stan pameran yang diikuti Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia, lembaga penelitian, perguruan tinggi, pelaku industri hortikultura, perbankan/asuransi, dan Usaha Kecil Menengah Hortikultura.

Bukan hanya para pegiat dan pelaku bisnis hortikultura saja, kemeriahan PF2N 2013 di Yogyakarta itu pun juga berhasil menarik minat masyarakat sekitar untuk hadir langsung ke lokasi yang berada di Jalan Kenari, Timoho, Yogyakarta itu. Bahkan setiap harinya, ratusan pelajar mulai dari TK sampai mahasiswa hilir mudik menghabiskan waktu di lokasi acara untuk menggali informasi seputar dunia agribisnis hortikultura dan beragam teknologi budidaya yang selama ini tidak mereka dapatkan langsung di tempat mereka belajar.

Sementara itu, sebagai salah satu produsen benih terbesar di Indonesia, PT. BISI International, Tbk juga turut serta meramaikan acara tahunan tersebut. Bahkan, salah satu varietas cabai hibrida unggulan PT. BISI berhasil meraih juara II dalam ajang lomba jambore varietas PF2N 2013. Performa tanamannya yang bagus dan hasilnya yang melimpah menjadi daya tarik utama dari cabai tipe sedang tersebut.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).