INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

HERBISIDA TEPAT DI LAHAN RAWA  E-mail

Lahan rawa memiliki karakteristik dan permasalahan tersendiri yang berbeda dengan tipe lahan lainnya. Salah satunya adalah terkait gulma yang selalu tumbuh cepat dan subur. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang tepat, termasuk dalam penggunaan herbisida, sehingga dapat mendukung kelangsungan usaha tani di lahan rawa tersebut.

Dengan kondisi lahan yang hampir selalu tergenang dan hanya pada saat-saat tertentu saja surut untuk kemudian menjadi lebih kering, keberadaan gulma akan menjadi faktor pembatas utama bagi kelangsungan budidaya tanaman di lahan rawa. Oleh karenanya diperlukan pengelolaan yang baik agar tidak sampai mengganggu pertumbuhan dan produktivitas, tapi justru memberikan manfaat dan pengaruh positif bagi tanaman.

Kebanyakan lahan pertanian di kawasan rawa diolah dengan sistem TOT atau tanpa olah tanah. Pasalnya, dengan sistem tersebut, baik langsung maupun tidak langsung, bisa mengurangi resiko keracunan besi akibat dari teroksidasinya lapisan pirit atau besi sulfida (FeS2) yang berada di kedalaman kurang dari 50 cm.

Seperti umumnya sistem TOT, maka sistem tanam di lahan rawa tersebut tidak akan terpisahkan dengan pestisida pengendali gulma atau herbisida. Penggunaan herbisida sudah pasti akan selalu ada setiap kali melakukan olah tanah di kawasan rawa.

“Sudah pasti petani di sini selalu pakai herbisida saat mau tanam. Karena lebih hemat tenaga dan biaya dibandingkan dengan cara manual. Hasilnya pun juga lebih bersih jika menggunakan herbisida,” terang Arsyani Kaderi, petani di kawasan rawa sekaligus pemilik usaha pembibitan di Desa Muning Baru, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Dari sekian banyak herbisida yang digunakan, hampir semuanya berbahan aktif glifosat dan parakuat. Menurut Arsyani, penggunaan herbisida biasanya dilakukan dua kali. Pertama, saat sebelum tanam dengan menggunakan herbisida sistemik berbahan aktif glifosat, dan kedua saat tanaman berumur 15-20 HST dengan menggunakan herbisida kontak berbahan aktif parakuat.

“Untuk yang kontak parakuat itu penyemprotannya saat masih pagi, sekitar jam enam, dan kondisinya tidak berangin,” terang Arsyani.

Menurut Mudjahiddin, General Manager Product Development Pesticide PT. Tanindo Intertraco, kebanyakan herbisida yang digunakan dalam sistem TOT merupakan herbisida purna tumbuh. Kesesuaian masing-masing bahan aktif herbisida tersebut menurutnya sangat dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: jenis gulmanya, kondisi air, dan waktu tanam. “Jika waktu tanamnya sangat pendek, bisa menggunakan herbisida kontak parakuat seperti Noxone 297SL atau NoxoneMix 308SL. Sementara kalau waktu tanamnya cukup lama, bisa menggunakan herbisida sistemik glifosat seperti Rambo 480SL atau Roger 480SL atau Ranger 240AS,” ujar Mudjahiddin. Lebih lanjut Mudjahiddin mengatakan, masing-masing herbisida memiliki kelebihan sendiri-sendiri dalam memberantas gulma untuk keperluan pertanian di kawasan rawa.
 
NoxoneMix 480SL misalnya, karena sifatnya kontak, maka bagian gulma yang terkena langsung semprotannya akan langsung kering dan mati. Bukan hanya itu, karena herbisida ini memiliki bahan aktif ganda, yaitu parakuat diklorida 297 g/L dan metil metsulfuron 11 g/L, maka bagian gulma yang tidak terkena secara langsung pun juga akan mati.

“Jadi kalau menggunakan NoxoneMix 308SL, meskipun yang disemprot itu hanya sebagian yang kena, misalkan hanya bagian yang di atas permukaan air, maka bagian gulma lain yang di dalam air pun juga akan mati. Karena, ada bahan aktif metil metsulfuronnya, yang juga efektif untuk memberantas gulma kayu-kayuan,” terang Mudjahiddin.

Sementara untuk Roger 480SL atau Ranger 240AS yang berbahan aktif isopropyl amina glifosat, Mudjahiddin mengungkapkan, selain mampu memberantas gulma di lahan rawa hingga akar-akarnya lantaran bekerja secara sistemik, kedua herbisida tersebut juga sangat cocok dengan kondisi air rawa yang tidak sebagus air sungai biasa.

“Roger 480SL dan Ranger 240AS sudah diformulasikan khusus sehingga bisa langsung dicampurkan dengan air rawa yang tidak jernih. Khasiat glifosatnya tetap bagus dan efek mematikannya juga lebih cepat,” kata Mudjahiddin.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dalam sistem TOT lahan rawa, gulma yang telah mati tersebut sangat bermanfaat sebagai mulsa alami yang mampu mengurangi laju evaporasi atau penguapan di saat kemarau panjang, sehingga tanaman tidak lekas mengalami kekeringan.

Selain itu, gulma tersebut juga menghasilkan biomassa yang banyak dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Dengan demikian, maka produktivitas lahan akan meningkat dengan sendirinya.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).