INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MEWASPADAI HISAPAN SI PUNGGUNG PUTIH  E-mail

Meskipun pada awalnya bukan sebagai hama yang berbahaya, namun melihat tren serangannya yang semakin meluas membuat wereng punggung putih patut dimasukkan dalam daftar hama yang harus diperhitungkan keberadaannya di areal persawahan padi.

Bagi para petani padi, mungkin tidak akan kesulitan untuk mengenali dampak serangan yang ditimbulkan oleh hama wereng, khususnya wereng coklat. Biasanya serangan awal ditandai dengan tanaman padi yang menguning dan cepat sekali mengering, dan pada umumnya gejala ini mengumpul pada satu lokasi melingkar atau biasa disebut dengan istilah hopperburn.

Namun, akhir-akhir ini, gejala kerusakan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh serangan wereng coklat, namun wereng punggung putih juga ikut berperan di dalamnya. Lantas, bagaimana bisa si penghisap punggung putih ini “ikut-ikutan” mengganas seperti saudaranya si wereng coklat?

Menurut hasil kajian yang dilakukan oleh Prof. Baehaki. S. E., peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Jawa Barat, di Indonesia sendiri ‘tabiat’ wereng dengan nama latin Sogatella furcifera (Horvarth) ini mulai berubah sejak tahun 2000. Dimana populasinya mulai meningkat tidak seperti biasanya.

Berdasarkan riwayatnya sendiri, si punggung putih ini pada awalnya bukanlah hama yang tergolong potensial untuk menyerang tanaman padi. Menurut Baehaki, hama tersebut termasuk tipe serangga k-strategik yang memiliki perkembangbiakan yang sangat lamban dengan jumlah populasi yang stabil rendah, tujuannya adalah untuk mempertahankan makanan agar tetap tersedia bagi kelangsungan hidup si punggung putih.

Namun kini perkembangan populasi wereng punggung putih juga mengarah ke tipe serangga r-strategik seperti halnya wereng coklat. Baehaki menjelaskan, di antara ciri serangga r-strategik adalah mampu berkembang biak dengan cepat dan mampu menggunakan sumber makanan dengan baik, sebelum serangga lain ikut berkompetisi. Selain itu juga memiliki karakter cepat menyebar ke habitat yang baru, sebelum habitat lamanya tidak berguna lagi.

Gelagat perubahan sifat si punggung putih itu mulai terlihat di kawasan pantai utara Jawa pada tahun 2000, dimana jumlah populasinya mampu mendominasi populasi wereng coklat. Kemudian di tahun 2009, tingkat serangannya semakin parah hingga menimbulkan efek kekeringan seperti terbakar (hopperburn) pada tanaman padi hibrida SL-8.

Tren tersebut juga sejalan dengan laporan data spot hopperburn dari Provinsi Yunan, China pada tahun 2009. Di provinsi tersebut, khususnya Yunan bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Thailand, Vietnam, dan Laos, lokasi yang terserang si punggung putih mencapai 400.000 hektar dengan kepadatan populasi 10-30 ekor/rumpun dan kepadatan tertinggi mencapai 525 ekor/rumpun.

Mengutip data dari International Rice Research Institute (IRRI), hama wereng punggung putih pernah mengalami outbreak serangan dengan populasi mencapai 400-500 nimfa per rumpun. Outbreak tersebut dilaporkan terjadi di Pakistan pada tahun 1978, kemudian di Malaysia pada tahun 1979, dan di India pada tahun 1982, 1984, dan 1985. Namun demian, tidak ada laporan yang menyebutkan bahwa si punggung putih ini juga menjadi vektor bagi penyakit virus seperti wereng coklat.

Mendominasi di pusat serangan
Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Baehaki juga mengungkap fakta menarik dari wereng punggung putih. Keberadaan hama ini ternyata selalu mendominasi di kawasan yang menjadi pusat serangan wereng. Hal ini seperti serangan yang terjadi pada tanaman padi hibrida di kawasan pantura Jawa tersebut, dimana populasinya lebih banyak dibanding populasi wereng coklat.

Menurut Baehaki, dominasi populasi si punggung putih itu akan semakin turun seiring dengan semakin jauhnya jarak dengan pusat serangan. Hal ini berbanding terbalik dengan dominasi populasi wereng coklat yang semakin meningkat seiring dengan semakin jauhnya jarak dari pusat ledakan serangan.

Misalnya, pada jarak 50 m dari pusat ledakan serangan, tercatat populasi wereng coklatnya sebanyak 344 ekor/10 rumpun, sementara populasi wereng punggung putih sebanyak 606 ekor/10 rumpun, hampir dua kali lipatnya. Hal ini berbeda pada jarak 1.000 m dari pusat ledakan serangan, dimana populasi wereng coklatnya meningkat menjadi 636 ekor/10 rumpun dan wereng punggung putihnya turun menjadi 238 ekor/10 rumpun.

Lebih lanjut, penelitian Baehaki tersebut juga menunjukkan keberadaan populasi serangga predator di kawasan serangan wereng. Pergerakan serangga predator tersebut memang mengikuti pergerakan dari wereng, namun tidak berpengaruh apa-apa terhadap keberadaan wereng itu sendiri.

Hal itu menurut Baehaki bisa dikarenakan oleh jumlah populasi yang sedikit dan cenderung stagnan pada masing-masing lokasi. Jika dilihat lebih rinci, keberadaan predator seperti laba-laba pada jarak 50 m dari pusat serangan wereng, jumlah populasinya tidak berbeda nyata dibandingkan pada jarak 1.000 m dari pusat serangan.

Bisa menyerang semua stadia tanaman
Layaknya kerabat wereng lainnya, si punggung putih menyerang tanaman juga dengan cara menghisap sari pati yang ada di dalam jaringan tanaman, baik itu di batang maupun di bulir padi yang masih muda. Nimfa ataupun wereng dewasa akan memasukkan mulut penghisapnya ke dalam jaringan tanaman untuk mengambil sari pati yang ada di dalam floem.

Selama menghisap sari pati itu, hama ini akan mengeluarkan eksudat ke dalam jaringan tanaman. Dari beberapa literatur menyebutkan bahwa eksudat yang dikeluarkan oleh wereng ini mengandung gula, hingga disebut juga sebagai embun madu. Eksudat atau istilah gampangnya adalah air liur inilah yang menimbulkan bercak-bercak coklat hingga menyebabkan seluruh bagian tanaman padi mengering atau dikenal dengan istilah hopperburn.

Secara umum, si punggung putih ini bisa menyerang semua stadia tanaman padi. Namun yang paling rawan adalah 30 hari pertama setelah tanam hingga tanaman padi memasuki stadia generatif.

Menurut catatan dari IRRI, perkembangan serangga hama ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, antara lain: lingkungan yang lembab akibat jarak tanam yang terlalu rapat, penggunaan pupuk N yang berlebihan pada tanaman padi, tersedianya sumber makanan berupa tanaman padi muda, dan penggunaan pestisida yang tidak tepat.

Tuntaskan pengendalian pada generasi ke-1
Menurut Prof. Baehaki, untuk mengendalikan serangan hama wereng, termasuk si punggung putih, diperlukan langkah-langkah yang tepat dan komprehensif. Mulai dari pengaturan pola tanam, penggunaan alat perangkap serangga, hingga penggunaan pestisida yang tepat.

Untuk mengatur pola tanam, Baehaki menekankan pentingnya penanaman serentak dalam areal yang luas dan tidak dibatasi oleh batas administrasi wilayah. Pasalnya, wereng coklat dan juga wereng punggung putih mampu terbang bermigrasi tanpa batasan apapun. Di saat terjadi puso pada suatu daerah, maka wereng makroptera yang bersayap panjang akan terbang bermigrasi untuk mencari tanaman muda dalam populasi tinggi dan kemudian berkembang biak di areal tersebut. Oleh karena itu, jika penanaman padi bisa serempak, maka dapat memutus rantai makanan wereng.

Kemudian, penggunaan lampu perangkap (light trap) juga bermanfaat untuk menangkap wereng makroptera yang sedang bermigrasi. Menurut Baehaki, dengan menggunakan lampu perangkap berdaya 100 watt, bisa menangkap hingga 400.000 ekor per malam, dan 1 unit light trap bisa menjangkau hingga luasan 50 ha. Alat ini juga bisa digunakan untuk menentukan puncak kedatangan dari para wereng imigran tersebut, caranya dengan menghitung dan mengamati jumlah wereng terbanyak yang tertangkap tiap malamnya.

Dengan mengetahui puncak wereng imigran itu, maka akan lebih mudah untuk menentukan waktu semai padi yang tepat. Menurut Baehaki, bila datangnya wereng tidak tumpang tindih antara generasi, maka persemaian sebaiknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran tersebut. Tapi jika terjadi tumpang tindih generasi, maka akan terjadi bimodal atau dua puncak. Sehingga waktu persemaiannya lebih baik dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran ke-2.

Baehaki juga menegaskan pentingnya memahami siklus hidup dari wereng itu sendiri. Karena, dengan mengetahui siklus hidupnya maka akan lebih mudah dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida.

Menurut Baehaki, di saat terjadi puncak populasi imigran awal, maka hal ini dicatat sebagai generasi nol (G0). Oleh karena itu, pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng generasi ke-1 (G1). Kemudian 25-30 hari berikutnya akan menjadi imago wereng generasi ke-2 (G2), dan 25-30 hari berikutnya akan menjadi imago wereng generasi ke-3 (G3).

Dengan hasil identifikasi seperti itu, maka pengendalian wereng sebaiknya dilakukan pada saat ada imigran makroptera G0 dan saat G1, yaitu nimfa-nimfa yang muncul dari wereng imigran. Baehaki menekankan untuk menuntaskan pengendalian itu pada G1, atau paling lambat hingga G2. Karena, jika pengendalian dilakukan pada G3, maka tidak akan berhasil.

Pengendalian tersebut lebih dianjurkan dengan menggunakan insektisida yang berbahan aktif imidakloprid, fipronil, theametoxan, buprofezin, dan insektisida butiran. Sedangkan untuk teknisnya, Baehaki menyarankan untuk melakukan pengeringan lahan terlebih dahulu sebelum aplikasi insektisida. Waktu aplikasinya pun lebih baik dilakukan saat tidak ada embun pada pagi hari antara pukul 08.00 hingga 11.00 dan dilanjutkan sore hari.

Selain itu, hal teknis lain yang penting untuk diperhatikan adalah cara aplikasinya. Penyemprotan insektisida harus mengenai seluruh bagian tanaman, terutama batang padi. Karena, di situlah banyak berkumpul hama wereng.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).