INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MENGOPTIMALKAN LAHAN RAWA DENGAN SI MERAH PEMBANGKIT GAIRAH

Indonesia memiliki potensi lahan rawa yang cukup luas dan prospektif untuk lahan pertanian. Selain tanaman pangan, lahan rawa yang tersebar di tiga pulau besar, Sumatera, Kalimantan, dan Papua itu juga bisa dimanfaatkan untuk usaha tani tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Seperti yang sudah dilakukan oleh banyak petani di kawasan rawa Nagara, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan dengan tanaman semangka sebagai komoditas andalan sekaligus sumber pendapatan mereka.

Saat mendengar kata rawa, pastinya akan langsung terbayang sebuah lahan yang selalu tergenang oleh air. Memang betul, lahan rawa pada dasarnya adalah sebuah lahan yang secara terus menerus sering tergenang oleh air akibat buruknya drainase.

Tipologi lahan rawa sendiri ada dua macam, yaitu rawa pasang surut dan rawa lebak. Seperti namanya, lahan rawa pasang surut atau tidal swamp merupakan lahan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Sementara lahan rawa lebak atau non tidal swamp sering diartikan sebagai daerah yang secara tidak langsung dipengaruhi pasang surut air laut tapi tidak mengalami genangan minimal tiga bulan dalam satu tahun dengan tinggi genangan minimal 50 cm.
 
Mengutip data dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Banjarbaru, Kalimantan Selatan, total luas lahan rawa di Indonesia mencapai 33,43 juta hektar (ha), yang terdiri dari lahan rawa pasang surut seluas 20,14 juta ha dan lahan rawa lebak seluas 13,30 juta ha. Namun, dari sekian luas lahan rawa yang ada, baru sekitar 1,53 juta ha yang ditanami, dimana 0,8 juta hektar berupa sawah pasang surut dan 0,73 ha berupa sawah lebak.

Sementara itu dari total luas lahan lebak yang ada di Indonesia, yang berpotensi untuk dijadikan areal pertanian diperkirakan seluas 10,19 juta ha, tapi yang baru dibuka seluas 1,55 juta ha dan yang telah dimanfaatkan untuk pertanian sekitar 0,73 juta ha.

Sebagian besar lahan rawa yang telah dibuka dan dimanfaatkan untuk pertanian tersebut pada umumnya lebih banyak ditanami komoditas pangan, khususnya padi yang adaptif untuk lahan rawa. Namun tidak sedikit pula yang dimanfaatkan untuk komoditas lain seperti semangka yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi.
 
Seperti yang sudah diusahakan para petani di kawasan rawa Nagara, Kecamatan Daha, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kawasan tersebut sekarang ini sudah terkenal sebagai salah satu sentra semangka di Kalimantan Selatan. Saat musim kering tiba, sejauh mata memandang kawasan rawa yang sangat luas itu hampir semuanya ditanami buah pembangkit gairah ini.

“Tiap tahun selalu tanam semangka sekali. Saat air mulai surut kita mulai semai bibitnya,” kata Muhtar, petani semangka sekaligus pemilik usaha pembibitan semangka di Desa Tambangan, Kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.

Mengingat sebagian besar kawasan rawa di Nagara merupakan lahan rawa lebak, maka di saat surut dan kering para petani biasanya memanfaatkannya untuk bercocok tanam palawija, khususnya semangka. Untuk menjangkau lahan itu pun hanya bisa dengan satu cara, yaitu dengan menggunakan perahu kecil berkapasitas tiga orang yang dikenal dengan sebutan ces. Pasalnya, masing-masing petakan lahan tersebut dipisahkan oleh ray atau kanal atau sungai kecil yang hanya bisa dilalui perahu kecil sejenis ces tersebut.

Mulsa alami
Di saat surut atau memasuki musim kemarau, lahan rawa lebak yang sedemikian luas itu masih berupa kumpai (padang rumput yang tebal) dan semak belukar. Oleh karena itu, petani setempat biasanya akan membersihkannya terlebih dahulu dengan menggunakan herbisida sebelum diolah lebih lanjut. Begitu mati mengering, rumput dan semak belukar tersebut akan dibiarkan tetap di lahan, tujuannya adalah untuk dimanfaatkan sebagai mulsa alami yang bermanfaat bagi tanaman semangka.

Kemudian, petani akan membuat tukungan atau lajur pematang dengan cara memotong gulma yang kering tersebut dengan lebar sekitar 1 m dengan panjang sesuai ukuran lahan yang hendak ditanami. Potongan memanjang gulma itu kemudian digulung dan dibiarkan beberapa hari.

“Tujuannya biar akar-akar rumput itu benar-benar mati,” terang Suhaimi, petani semangka di kawasan rawa Nagara.

Setelah dianggap benar-benar mati, gulungan gulma kering tersebut dihamparkan kembali di lahan semula dan dibuat lubang tanam dengan jarak tanam sesuai kebutuhan. Untuk petani semangka di Nagara, jarak tanam yang dipakai cukup lebar, 2,5 m x 2,5 m atau dalam satu hektar lahan terdapat sekitar 2.000 pohon semangka.

Terkait mulsa alami sebagai selimut atau penutup lahan rawa, ada juga petani yang sengaja menaburkan bibit gulma air, yaitu kiambang atau kayu apu (Salvinia onesta) saat air belum surut. Kiambang tersebut akan dengan cept tumbuh dan menutupi permukaan air. Di saat surut, gulma air itu akan turun dan menjadi mulsa alami yang bermanfaat untuk mencegah kekeringan, sumber hara, dan pengendali gulma.

Pengolahan minimal, hasil maksimal
Meskipun pengolahan lahan untuk budidaya semangka di kawasan rawa lebak Nagara tergolong olah tanah minimum atau minimum tillage, namun hasil yang diperoleh cukup optimal. Dari hamparan satu hektar lahan rawa di Nagara, rata-rata bisa menghasilkan hingga 15 ton semangka.

“Pengolahan semangka di sini hanya seperlunya saja, setelah tanam ya dibiarkan sejadi-jadinya, paling hanya pupuk dan semprot seperlunya saja. Setelah itu ditinggal pulang,” kata Suhaimi.

Oleh karena itu, tidak heran kalau ongkos tanam semangka di daerah ini cukup ringan, tidak lebih dari Rp. 3 juta untuk 1.000 pohon semangka. “Modal segitu sudah terbilang paling banyak,” imbuh Suhaimi.

Menurut Suhaimi, modal tersebut lebih banyak digunakan untuk menyiapkan lahan dan pemupukan. Penyiapan lahan itu dimulai dengan pembersihan lahan dari gulma dengan menggunakan herbisida dan pemberian pupuk kandang sebagai dasaran sebelum ditanami semangka.

“Setelah rumputnya mati dan dipotong-potong, di masing-masing lubang tanam diberi pupuk kandang secukupnya saja. Biasanya hanya 10 karung untuk satu hektar,” terang Suhaimi.

Setelah pindah tanam, kata Suhaimi, pemupukan susulan dilakukan sebanyak empat kali, yaitu saat tanaman berumur 10 HST, 20 HST, 30 HST, dan 40 HST. Kesemua tahap pemupukan itu diberikan dengan cara ditugal, kecuali pada pemupukan susulan pertama (10 HST) yang dilakukan dengan cara ditaburkan.

Pupuk yang diberikan pun berbeda untuk masing-masing tahapan. Suhaimi mengatakan, pada saat pemupukan susulan pertama pupuk yang digunakan adalah Urea, kemudian susulan kedua campuran Urea dan SP-36 dengan perbandingan 1:2. Sementara untuk pemupukan susulan ketiga hanya menggunakan SP-36 sebanyak 20 kg untuk seribu tanaman. Sedangkan saat pemupukan terakhir (40 HST) digunakan pupuk NPK.

“Pemupukan terakhir ini diberikan sebanyak tiga sendok makan per tanaman pada tiga lubang yang berbeda. Jadi untuk satu tanaman dibuatkan tiga lubang pupuk yang mengelilingi tanaman dan masing-masing diisi pupuk NPK sebanyak satu sendok makan,” terang Suhaimi.

Suhaimi mengatakan, selain pemupukan, perawatan lain hanya berupa pengairan dan penyemprotan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit. “Penyemprotan pun jarang, paling kalau ada serangan saja. Biasanya yang sering itu serangan hama ulat hijau,” ujarnya.

Lantaran itulah, lanjut Suhaimi, menanam semangka di lahan rawa cukup ringan biayanya dan mudah dilakukan. Bagaimana tidak, dengan hanya bermodal maksimal Rp. 3 juta/1.000 pohon dan tanpa perawatan yang rumit, hasil yang diperoleh sudah berlipat-lipat.

“Asalkan tidak terkena banjir pasti untung banyak. Tanpa seleksi buah sama sekali, dari satu pohon rata-rata berbuah dua. Kalau satu pohon dapat 10 kilogram saja, dengan harga jual misalnya Rp. 3.000 per kilogram, maka dari seribu pohon saja sudah bisa dapat hasil Rp. 30 juta,” ungkap Suhaimi.  

Tiga kunci lahan rawa
Lahan rawa memang memiliki karakteristik tersendiri dibanding tipe lahan lainnya, terutama dalam hal sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang sangat labil. Untuk itu diperlukan pengelolaan khusus untuk mengambil manfaat dari lahan ini.

Menurut Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr., Kepala Balittra, terdapat tiga komponen atau pilar utama yang dijadikan patokan dalam mengembangkan pertanian di lahan rawa, yaitu: pengelolaan air, penataan lahan, dan pemilihan komoditas yang adaptif.

“Bila tiga pilar itu diterapkan, lahan rawa yang memiliki beragam problem dapat disulap menjadi lahan pertanian subur yang tak kalah dengan lahan kering,” kata Dedi.
Untuk pengelolaan air, Balittra menerapkan sistem tata air satu arah. Artinya, dalam satu lahan rawa terdapat pintu masuk dan pintu keluar air. Dengan begitu maka racun-racun berbahaya yang biasa ditemui di kawasan rawa, seperti: besi, sulfat, aluminium, dan garam lainnya bisa tercuci ke luar lahan.

Sementara untuk penataan lahan, Balittra memperkenalkan sistem surjan, yaitu lahan yang semula tergenang ditata ulang dengan meninggikan sebagian lahan membentuk sebuah galangan selebar 2 m dan tinggi 0,5 m. Di atas galangan inilah beragam tanaman buah dan palawija ditanam. Sedangkan bekas tanah yang digali untuk membuat galangan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai embung untuk cadangan air.

“Sementara lahan di bawahnya yang tidak digali tapi berada di bawah surjan akan menjadi sawah,” terang Dedi.

Kemudian komponen terakhir yang tidak kalah penting menurut Dedi adalah penggunaan varietas tanaman yang adaptif dan kompetitif di lahan rawa. Pasalnya, jika tanaman yang digunakan kurang sesuai maka akan memerlukan perlakuan ekstra yang tentu saja akan menambah biaya hingga pada akhirnya komoditas yang ditanam tersebut tidak kompetitif sekaligus tidak ekonomis lagi.

Selain tiga kunci tersebut, pemberian amelioran atau bahan pembenah tanah juga memegang peran penting untuk memperbaiki kondisi tanah rawa. Bahan tersebut bisa berupa kapur atau dolomit maupun berupa abu sekam atau serbuk gergaji. Berdasarkan data dari Balittra, pemberian kapur sebanyak 0,5-3,0 ton per hektar sudah cukup memadai untuk memperbaiki pH tanah rawa yang cenderung masam.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).