INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

JAMINAN KUALITAS MENJADI PENENTU DAYA SAING

Secara perlahan tapi pasti, sektor hortikultura Indonesia mulai menggeliat dan menunjukkan jati dirinya. Sejumlah komoditas telah berhasil menembus pasar ekspor. Namun itu semua tidak akan ada artinya kalau tanpa ada jaminan kuantitas dan kualitas yang prima bagi konsumen luar negeri.

Pada pembukaan Pekan Flori dan Flora Nasional 2013 di Yogyakarta, Menteri Pertanian Suswono menegaskan pentingnya para pelaku bisnis hortikultura untuk menjaga kualitas produk yang mereka tawarkan kepada para konsumen, baik itu konsumen domestik maupun konsumen ekspor.

“Oleh karena itu saya pesan kepada petani kita, ketika produk itu sudah diterima oleh pasar internasional, tolong dijaga kualitasnya. Jangan mentang-mentang pasar lagi bagus dan banyak pesanan, kemudian ceroboh, kualitasnya diabaikan,” ungkap Suswono.

Hal itu diungkapkan Suswono sebagai upaya untuk tetap menjaga daya saing produk hortikultura nusantara di pasar dunia. “Karena begitu produknya ditolak, maka konsumen tidak akan percaya lagi. Oleh karena itu sekali lagi jaga betul kualitasnya,” lanjutnya.

Seperti diketahui, hingga saat ini sejumlah produk hortikultura nusantara telah berhasil memasuki pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Buah salak dari Kabupaten Sleman misalnya, komoditas andalan salah satu kabupaten di Yogyakarta itu telah menembus pasar Amerika.

“Permintaan kripik salak ke Amerika mencapai satu ton per bulan dengan nilai sekitar Rp. 150 juta per ton,” ujar salah seorang anggota Asosiasi Petani Salak Sleman saat berdialog dengan Mentan Suswono dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ada lagi mangga kedung gincu yang banyak dipasok ke kawasan Timur Tengah. “Buah manggis juga sudah banyak yang kita ekspor. Neraca perdagangan tanaman hias kita juga selalu surplus dan senantiasa meningkat setiap tahun. Kita juga telah memiliki industri jamu yang juga disegani di dunia. Sementara itu juga sudah mulai ada hasil dari investasi sayur-sayuran bernilai tinggi, baik untuk ekspatriat dalam negeri maupun untuk ekspor, utamanya ke Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah,” terang Suswono.

Menurut Suswono, untuk menjaga kontinuitas produk dan jaminan kualitas yang prima, Kementan melalui Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) aktif melakukan pembinaan Good Agriculture Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), dan Good Manufacturing Practices (GMP).

“Bagi para petani dan juga pelaku bisnis hortikultura yang masih menemui kendala kualitas, kita dukung melalui P2HP. Dinas akan membantu membina bagaimana menerapkan Good Agriculture Practices, Good Handling Practices, dan Good Manufacturing Practices,” ujar Suswono.

Perlu langkah nyata
Selain melakukan pembinaan langsung kepada para petani hortikultura, khususnya yang berorientasi ekspor, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pembatasan impor terhadap sejumlah komoditas hortikultura (kentang, kubis, wortel, cabai, nanas, pisang, melon, mangga, papaya, durian, krisan, anggrek, dan heliconia). Hal itu menurut Suswono dilakukan sebagai upaya untuk melindungi petani sekaligus menjaga daya saing produk hortikultura para petani di pasar domestik.

Penduduk Indonesia yang jumlahnya mencapai seperempat miliar tentu merupakan pasar yang menggiurkan bagi negara-negara lain produsen komoditas hortikultura. “Itulah yang menjadikan kenapa negara-negara lain yang selama ini banyak mengimportasi ke negara kita banyak yang geram, banyak yang tidak senang karena pasar domestik yang menggiurkan ini dalam tanda kutip agak dipersulit,” ungkap Suswono.

Padahal, lanjut Suswono, pembatasan impor produk hortikultura tersebut tidak untuk mempersulit negara lain, tapi hanya untuk melindungi konsumen dalam negeri agar bisa mendapatkan produk pangan yang sehat dan tidak asal murah.

“Kami tetap membuka diri untuk produk-produk yang tidak bisa dihasilkan di dalam negeri. Katakanlah kalau ada yang sejenis (dengan produk-produk yang diproduksi petani dalam negeri) pun, kepentingan kami adalah melindungi konsumen kami agar produk-produk pangan yang datang ke Indonesia adalah produk-produk pangan yang sehat, bukan asal murah,” tegas Suswono.

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga mengapresiasi kebijakan pembatasan impor 13 komoditas hortikultura tersebut. Namun, hal itu tidak akan berdampak nyata bagi kesejahteraan para petani hortikultura jika tidak ada langkah nyata di lapangan.

“Misalnya, perlu diwujudkan pembiayaan bagi para petani hortikultura. Demikian juga dengan Kementerian Perdagangan untuk mengatur skema pembayaran pelaku usaha retain dan supermarket kepada para petani perlu dipercepat, bahkan kalau mungkin diwajibkan pembayaran secara tunai,” ujar Sultan.

Memutus rantai tataniaga yang panjang
Untuk mendongkrak produktivitas hortikultura sekaligus meningkatkan pendapatan para petani sendiri, pembenahan dan pemberdayaan kelembagaan petani menjadi begitu penting untuk segera dilakukan. Menurut Suswono, hal itu menjadi salah satu kunci untuk memutus mata rantai tata niaga yang panjang, yang selama ini cenderung tidak menguntungkan petani dan juga memberatkan konsumen.

Menurut Suswono, bentuk pemberdayaan kelembagaan petani itu bisa berupa pembentukan koperasi tani yang benar-benar dikelola dengan baik oleh para petani sendiri, tidak dikuasai para tengkulak. Sehingga petani bisa mendapatkan harga jual yang lebih bagus.

“Koperasi-koperasi tani ini diharapkan bisa bersentuhan langsung dengan para konsumen akhir, tidak melalui para tengkulak lagi. Sehingga para petani bisa mendapat harga yang lebih bagus dan konsumen sendiri bisa mendapat barang yang lebih fresh dengan harga yang lebih murah,” ujar Suswono.

Suswono juga berharap pasar-pasar tani, seperti yang digelar di Kementan setiap hari Jumat, bisa dihidupkan juga di berbagai daerah. “Agar rantai tataniaga yang panjang itu bisa diputus melalui pasar tani. Karena di pasar tani itu petani melalui koperasi atau gapoktannya bisa langsung bertemu dengan para konsumen akhir,” jelasnya.

Dengan mata rantai tataniaga yang pendek itu, lanjut Suswono, juga bisa mencegah gejolak harga yang selama ini dimainkan oleh para pedagang. “Dulu sewaktu harga cabai Rp. 100 ribu di Jakarta, saya langsung ke petani di Sukabumi. Di tingkat petani di Sukabumi harga cabai hanya Rp. 20 ribu. Padahal jarak antara Jakarta dan Sukabumi tidaklah jauh. Oleh karena itulah sering konsumen diberatkan oleh ulah pedagang yang tidak punya etika dalam berbisnis,” ungkap Suswono.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).