INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

BERGAYA HIDUP SEHAT DENGAN HORTIKULTURA NUSANTARA

Kekayaan hortikultura Indonesia yang sangat melimpah sudah saatnya untuk lebih dalam digali dan dioptimalkan potensinya. Menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup sehat akan memberikan nilai tambah sekaligus mendongkrak gengsi hortikultura nusantara sebagai raja di negeri sendiri.

Terletak di bentangan garis khatulistiwa, Indonesia dikarunia limpahan sumber daya alam yang sangat besar. Tidak terkecuali kekayaan ragam buah, sayuran, produk biofarmaka, dan juga florikultura yang tersebar luas di seluruh pelosok negeri.

Sayangnya, kekayaan hortikultura nusantara itu belumlah cukup terkespose dengan baik ke permukaan. Sehingga lebih cenderung dan terkesan ‘sembunyi’ serta ‘tiarap’ di tengah-tengah produk hortikultura negara lain yang dilihat dan dinilai banyak media ‘membanjiri’ pasar dalam negeri.

Hal itu disayangkan Menteri Pertanian Suswono saat membuka Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) 2013 di Yogyakarta (2/10). “Kadang-kadang orang berpikir bahwa kita dibanjiri produk buah-buahan dari luar negeri, padahal kalau kita lihat prosentase buah-buahan yang kita impor dibandingkan dengan produksi dalam negeri tidak lebih dari 10 persen,” ungkapnya.

Menurut Suswono, produk-produk hortikultura impor itu memang menguasai gerai-gerai di pasar moderen dan banyak terekspose media, sehingga lebih menguatkan kesan bahwa negara ini sedang dibanjiri produk-produk dari negara lain.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanudin Ibrahim juga membenarkan hal itu. “Sebenarnya buah rakyat itu memang ada kalau kita mau terjun langsung ke bawah, ke pasar-pasar tradisional, ke tukang rujak, atau ke pedagang buah potong. Jadi data BPS yang menyatakan impor hanya lima persen itu memang benar adanya, karena buah rakyat kita memang jumlah dan konsumsinya sangat besar dibandingkan impor. Inilah yang sering luput dari perhatian media, karena media mainnya hanya di supermarket, tidak langsung turun ke bawah,” ujarnya.

Selain melimpahnya produk-produk hortikultura nusantara, Indonesia juga telah berhasil menjadi negara pengekspor buah nanas olahan terbesar di dunia. Kemudian juga berhasil melakukan ekspor produk buah-buahan, seperti salak, manggis, dan mangga, ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah.

“Kita juga menjadi negara pengembang terbesar tanaman hias Saintpaulia di dunia, pusatnya ada di puncak Bogor. Neraca perdagangan tanaman hias kita juga selalu surplus dan senantiasa meningkat setiap tahun. Kita juga memiliki industri jamu yang disegani dunia,” terang Suswono.

Kesemua fakta itu, lanjut Suswono, diharapkan bisa menjadi pendorong semangat dalam mengembangkan hortikultura Indonesia berskala nasional dan dunia sekaligus.

Hortikultura nusantara sebagai gaya hidup sehat
Dalam PF2N 2013 di Yogyakarta pada 2-8 Oktober 2013 lalu, gaya hidup sehat memang diambil sebagai bahan tema utama gelaran acara tahunan itu. Banyak hal yang mendasari pengambilan tema tersebut, salah satunya adalah terkait dengan pertumbuhan kelompok kelas menengah di Indonesia yang cukup tinggi.

Menurut Suswono, penduduk kelas menengah Indonesia yang berpenghasilan lebih dari USD 3.000 per tahun jumlahnya mencapai 50 juta orang. Kelompok tersebut memiliki income perkapita yang lebih tinggi, sehingga memiliki gaya hidup atau life style sendiri.

“Dengan meningkatnya income perkapita masyarakat Indonesia, tentu saja kita berharap gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat, yaitu dengan mengurangi karbohidrat. Mudah-mudahan pengurangan karbohidrat itu diikuti dengan peningkatan konsumsi hortikultura seperti sayur mayur dan buah-buahan,” kata Suswono.

Hal itu menurut Suswono merupakan sebuah peluang pasar yang besar bagi industri hortikultura nusantara. “Peluang pasarnya akan semakin besar dan terbuka di domestik,” lanjutnya.

Di samping gaya hidup sehat, upaya ‘membumikan’ potensi hortikultura nusantara yang demikian besar juga penting untuk terus dilakukan, lantaran tingkat konsumsi buah dan sayur di Indonesia masih jauh di bawah standar yang ditetapkan oleh FAO, yaitu 73 kg/kapita/tahun.

Berdasarkan hasil kajian Litbang Kementerian Pertanian yang dilakukan pada bulan Maret 2013, tingkat konsumsi buah kita hanya 34,55 kg/kapita/tahun, sedangkan tingkat konsumsi sayurnya baru 40,35 kg/kapita/tahun.

Yang menarik, tingkat konsumsi buah dan sayur penduduk Indonesia itu masih jauh di bawah negara tetangga, seperti Vietnam dan Singapura. Konsumsi buah dan sayuran di kedua negara tersebut sudah lebih dari 100 kg/kapita/tahun. Padahal, Indonesia lebih dulu merdeka dan punya kesempatan untuk membangun lebih dulu dibandingkan kedua negara itu.

“Kami mengharapkan kepada semua masyarakat untuk lebih mengenal, memahami, dan meningkatkan investasi dan konsumsi buah, sayur, dan produk biofarmaka serta florikultura yang kita tahu saat ini masih di bawah tingkat konsumsi masyarakat dunia. Sehingga bisa terwujud masyarakat yang lebih cerdas, lebih sehat, dan lebih sejahtera,” ujar Hasanudin.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).