INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MEMANFAATKAN JAGUNG SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF

Ketergantungan penduduk Indonesia terhadap beras sebagai sumber pangan utama sudah sangat “akut”. Hingga angka kecukupannya pun terasa semakin sulit untuk dipenuhi, lantaran tidak seimbangnya angka pertumbuhan penduduk dengan produksi beras nasional. Oleh karena itu, penyediaan sumber pangan alternatif mutlak dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan jagung sebagai sumber karbohidrat baru.

Seperti dikutip dari buku “Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan” yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanaman Serealia 2007, jagung di Indonesia telah menjadi komoditas pangan penting kedua setelah padi. Namun keberadaannya lebih banyak terserap untuk kebutuhan industri pakan ternak (sekitar 55%) sebagai bahan baku utama. Sementara porsi untuk kebutuhan pangan diperkirakan hanya 30 persennya saja. Sedangkan sisanya, 15%, untuk kebutuhan industri lainnya dan bibit.

Tentunya ada alasan khusus yang menempatkan jagung sebagai komoditas pangan penting kedua setelah padi. Dari tinjauan kandungan gizinya, jagung merupakan sumber karbohidrat utama yang sebagian besar komponennya berupa pati. Menurut Nur Richana dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, Bogor dan Suarni dari Balit Sereal, Maros, dalam sebiji jagung, kandungan patinya berkisar antara 54,1-71,7%, sementara kandungan gulanya sebesar 2,6-12%.

Karena itulah, di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi, jagung digunakan oleh sebagian masyarakatnya sebagai makanan pokok pengganti beras. Hanya saja, kebiasaan atau tradisi lokal itu kian lama kian memudar, sang generasi penerus sepertinya tidak biasa lagi mengkonsumsi jagung dan lebih memilih beras sebagai makanan pokok mereka.

Hal itu tentu saja membuat ketergantungan terhadap beras semakin besar. Menurut Menteri Pertanian Suswono, konsumsi beras masyarakat Indonesia saat ini mencapai 3 juta ton per bulan. Angka itu sudah pasti akan semakin besar lantaran pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, sementara pertumbuhan produksi beras nasional diprediksikan tidak akan bisa mengimbangi.

“Tahun lalu (2012) kita masih surplus 5,6 juta ton beras, tapi itu masih sangat rawan, karena kebutuhan beras kita per bulan masih sangat besar, sekitar tiga juta ton,” ujar Mentan.

Oleh karena itu, kata Mentan, pemerintah terus menggalakkan program diversifikasi pangan yang tujuan utamanya adalah mengurangi konsumsi beras sekaligus meningkatkan gizi masyarakat.

“Hendaknya konsumsi pangan beragam ini dapat dijadikan budaya. Untuk itu, pejabat daerah diminta untuk terus menggiatkan sosialisasi mulai dari diri sendiri untuk mengkampanyekan agar pangan pokok tersebut bukan hanya beras,” ungkap Mentan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menegaskan hal itu dalam acara pembukaan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-33 di Padang, Sumatera Barat (31/10). Presiden mengungkapkan pentingnya mengubah pola konsumsi pangan secara bertahap dengan mengurangi porsi beras sebagai sumber karbohidrat dan lebih meningkatkan asupan buah-buahan, sayuran, daging, dan ikan sebagai upaya untuk perbaikan gizi masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap beras.

“Untuk itu Indonesia harus meningkatkan sumber perikanan, peternakan, dan peningkatan upaya diversifikasi pangan,” ujar Presiden.

Jagung sebagai bahan pangan
Menurut Richana dan Suarni, sebagai salah satu komoditas pangan yang kaya karbohidrat, jagung dinilai sangat layak untuk dijadikan sumber makanan pengganti beras. Komoditas ini bisa diolah menjadi beragam produk alternatif, berupa produk olahan segar, produk primer, produk siap santap, dan produk instan.

Sebagai produk olahan primer atau produk setengah jadi, jagung pipilan kering bisa diolah menjadi jagung sosoh, beras jagung, atau tepung jagung. Jagung sosoh biasa diolah menjadi bassang, yaitu makanan tradisional khas Sulawesi Selatan. Sementara beras jagung bisa ditanak layaknya menanak nasi.

“Tepung jagung dapat diolah menjadi berbagai makanan atau mensubstitusi terigu pada proporsi tertentu, sesuai dengan bentuk produk olahan yang diinginkan,” tulis Richana dan Suarni dalam buku “Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan”.

Berdasarkan penelitian, tepung jagung komposit tersebut dapat mensubstitusi 30-40% terigu untuk kue basah, 60-70% untuk kue kering, dan 10-15% untuk roti dan olahan mie.

Selain itu, dengan pengolahan lebih lanjut, jagung juga bisa diambil sari patinya menjadi pati jagung atau lebih dikenal dengan sebutan tepung maizena. Menurut Richana dan Suarni, dari 100 kg jagung pipilan kering, dapat diperoleh 64-67 kg pati, 27-30 kg bungkil, 3-4 kg minyak jagung, dan sisanya hilang terbuang saat pemrosesan.

Agroindustri pati jagung dan turunannya, tulis Richana dan Suarni, cukup prospektif untuk meningkatkan nilai tambah jagung yang diharapkan dapat mendorong pengembangan industri gula pati yang menghasilkan sirup glukosa, fruktosa, gula alkohol lainnya, dan bahan baku bioetanol.

Industri pati jagung sendiri juga mempunyai produk samping yang bernilai tinggi, yaitu minyak jagung dan gluten. Sementara itu, peningkatan produksi jagung tentu akan diikuti oleh peningkatan limbah atau biomas, seperti: tongkol, batang, dan daun jagung. Limbah tersebut juga prospektif untuk dikembangkan menjadi produk furfural dan xilitol. Sedangkan limbah tongkol jagung yang diproses menjadi tepung dapat digunakan sebagai bahan baku industri pakan ternak.

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).