INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

TERPIKAT DENGAN WARNA BIJI SUPER HIBRIDA BISI 222
“Gandume niku nyenengne (jagungnya itu menyenangkan-red)”, demikian kata Sobirin, salah seorang petani jagung di Blitar tentang jagung super hibrida BISI 222. Meskipun varietas jagung produksi PT. BISI International Tbk itu masih baru, performa tanaman dan kualitas tongkol mampu memikat para petani

Terhitung sudah kedua kalinya Sobirin menanam jagung super hibrida BISI 222 di lahan yang ia sewa. “Yang pertama dulu tidak begitu banyak, tidak semua lahan saya tanami BISI 222. Kalau yang kedua ini semuanya saya tanami BISI 222,” ujar petani asal Desa Bakung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar itu. Alasan utama Sobirin kembali menanam BISI 222 adalah penampilan dan hasil tanamannya yang sangat memuaskan, terutama tongkol dan warna bijinya. “Hasilnya bagus, gandume niku nyenengne (jagungnya itu menyenangkan-red). Tongkolnya besar, panjang, dan warnanya merah cerah,” katanya saat ditemui Abdi Tani.

Bentuk dan warna tongkol yang menarik itu juga diakui oleh petani jagung di Udanawu lainnya, di antaranya adalah Akhid dan Mangun. “Petani lebih suka yang merah seperti ini. Sajake sumringah (terlihat menyenangkan-red). Di lahan banyak yang tanya, ini jagung apa? Warnanya kok bisa merah, gilap nyenengne (mengkilap dan menyenangkan)?” ungkap Mangun, petani di Desa Tunjung, Udanawu ini.

Menurut mereka, selain enak dilihat, warna biji jagung yang merah cerah juga menandakan lebih bobot jika dibanding tongkol jagung yang memiliki warna biji merah pucat atau merah kekuningan. Akhid juga pernah mencoba membandingkan hasil pipilan kering antara jagung BISI 222 dengan jagung lain.

“Saya tanam (BISI) 222 sekitar 90 ru (± 1.260 m2) dapat 36 sak pipil kering, setelah ditimbang bobotnya satu ton lebih. Padahal biasanya untuk dapat satu ton pipil kering rata-rata setara dengan 40 sak,” kata Akhid yang menanam jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan seribu ekor ternak ayam petelur yang ia miliki.

Selain warna biji yang menarik, para petani tertarik untuk kembali menanam jagung super hibrida BISI 222 juga karena ketahanannya terhadap serangan penyakit, terutama serangan bulai atau orang jawa menyebutnya dengan istilah putihen yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis.

“Sekarang ini yang penting asalkan tidak terkena bulai, petani sudah senang. Karena di sini serangan bulai sudah sangat banyak. BISI 222 termasuk aman dari putihen,” ujar Akhid.

Hal itu pula yang mendasari Sobirin untuk kembali menanam BISI 222 seluas 250 ru atau sekitar 3.500 m2. “Saya tanam lagi jagung ini karena lebih tahan putih (bulai-red) dan tanamannya juga bagus. Pada penanaman yang pertama dulu alhamdulillah tidak ada yang terserang bulai,” kata Sobirin di lahan BISI 222 seluas 250 ru (± 3.500 m2) miliknya yang baru berumur sekitar dua minggu.

Menurut Doddy Wiratmoko, Market Development Corn Seed Manager PT. Tanindo Intertraco, kelebihan jagung BISI 222 memang terletak di dua hal utama, yaitu lebih tahan penyakit dan tongkol yang besar dengan warna biji yang menarik.

“BISI 222 memiliki vigor yang lebih baik dan seragam dibandingkan dengan yang lain. Tanamannya lebih tahan penyakit bulai dan busuk tongkol. Selain itu, tongkolnya juga lebih disukai karena panjang dan besar dengan warna biji oranye kemerahan,” jelas Doddy.

Potensi hasilnya menurut Doddy juga tinggi, yaitu bisa mencapai 13,65 ton per hektar pipil kering panen. Hal itu didukung oleh kemampuan jagung BISI 222 dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat. “Tanamannya lebih bandel untuk beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi lingkungan. Klobotnya juga mampu menutup sempurna, sehingga bisa melindungi biji jagung dari terpaan air maupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Kualitas hasil panennya juga bisa terjamin,” tambahnya.

Perawatan ringan dan sederhana
Bagi petani seperti Sobirin dan yang lain, menanam jagung sudah menjadi rutinitas mereka sepanjang tahun. Dalam setahun biasanya mereka menanam jagung sebanyak dua kali. “Kalau dalam satu tahun biasanya kita tanam jagung dua kali dan padi sekali,” ungkap Sobirin. Alasan perawatan yang lebih mudah dan tidak memerlukan banyak biaya menjadi salah satu pertimbangan bagi mereka untuk lebih memilih jagung dibandingkan komoditas lainnya. Selain itu, sebagian dari mereka juga memiliki ternak ayam petelur, sehingga mereka selalu menanam jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya sendiri.

“Jagung itu perawatannya gampang sekali. Dipupuk dua kali sudah cukup, tidak perlu banyak keluar uang untuk membeli pupuk dan pestisida,” terang Akhid. Memang, dalam sekali tanam, Sobirin dan petani lainnya di Blitar hanya melakukan dua kali pemupukan. Itupun salah satunya tidak menggunakan pupuk kimia, tapi hanya menggunakan tetes tebu atau produk sampingan dari pabrik gula.

“Biasanya pemberian tetes pada saat tanaman sebelum umur 15 hari, pemberiannya cukup disiramkan di antara baris tanaman,” ujar Sobirin. Kemudian pemupukan kedua sekaligus pemupukan yang terakhir diberikan saat tanaman menjelang berbunga, yaitu dengan memberikan pupuk majemuk NPK (Phonska) dicampur dengan pupuk urea (Kaltim) masing-masing sebanyak 100 hingga 150 kg/ha.

Meskipun dengan perawatan yang relatif sederhana itu, hasil yang bisa diperoleh dari BISI 222 juga cukup memuaskan. Sobirin misalnya, dari lahan seluas 160 ru (± 2.240 m2) ia bisa memperoleh sekitar 2,03 ton atau setara dengan 9 ton per hektar jagung pipil kering. Sementara Akhid dari lahan seluas sekitar 90 ru bisa memperoleh sekitar 1,08 ton atau setara dengan 8,5 ton per hektar jagung pipil kering.

Cocok panen muda
Selain mampu menghasilkan tongkol yang besar dan panjang dengan warna yang menarik, jagung BISI 222 juga bagus untuk dipanen muda sebagai bahan kudapan seperti jagung rebus atau jagung bakar. Menurut Doddy, jagung ini memiliki rasa yang lebih manis dengan tekstur yang lebih pulen saat direbus ataupun dibakar.

“Rasanya lebih manis, tapi tidak semanis jagung manis. Teksturnya juga lebih pulen,” kata Doddy. Hal itu, lanjut Doddy, tentu bisa menjadi nilai tambah tersendiri bagi petani yang menginginkan panen lebih awal untuk dijual muda sebagai bahan baku jagung rebus maupun bakar. Dari sisi biaya produksi tentu lebih ringan jika dibandingkan dengan jagung manis, karena harga benihnya juga lebih murah. Perawatannya pun juga tidak sesulit jagung manis. (AT : Vol. 12 No. 3 Edisi XLIII, Oktober - Desember 2011)

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).