INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SUPERIORITAS BISI-16 DI KOTA “MANGGA” SITUBONDO
Mungkin tagline Tongbes Tungsar (tongkol besar untung besar) masih begitu melekat di ingatan kita hingga sekarang. Atau, mungkin sebagian dari kita telah membuktikan sendiri tagline yang melekat pada jagung super hibrida BISI-16 itu. Seperti sebagian petani di kawasan timur Kabupaten Situbondo, Jawa Timur yang enggan berpaling dari BISI -16 setelah merasakan sendiri keuntungan dari bertanam jagung itu.

Sebut saja Riri atau nama lengkapnya Sudahri, petani jagung di Desa Tenggir, Panji, Situbondo, Jawa Timur. Ia merupakan salah satu dari sekian banyak petani jagung di Kecamatan Panji yang benar-benar ‘jatuh cinta’ dengan jagung super hibrida BISI-16 sejak awal diperkenalkan hingga saat ini.

Jaminan produksi yang tinggi dengan kualitas hasil panen yang bagus menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani seperti Riri. “Hasilnya bagus, bebas penyakit bulai, dan randemennya juga tinggi. Saya sudah nggak mau beralih dari jagung BISI-16 ini,” ungkap Riri saat ditemui Abdi Tani di ladangnya.

Setiap kali tanam jagung, lahan yang dikelola Riri cukup luas. Tidak kurang dari tujuh hektar lahan miliknya sendiri ia kelola untuk ditanami BISI-16. “Saya tidak pernah tanam selain jagung BISI (PT. BISI International Tbk-red), karena hasilnya memang benar-benar bagus. Satu ereng (± 4.000 m2) minimal bisa mendapat 3,5 ton pipil kering (± 8,75 t/ha pipil kering),” ujarnya.

Hal itu juga ditegaskan oleh Haji Somad, petani sekaligus Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Barokah Desa Tenggir, Panji, Situbondo. Dari hasil tanam jagung BISI-16 seluas empat hektar, ia mengaku bisa mendapatkan hasil hingga empat ton pipil kering per ereng atau setara dengan 10 t/ha pipil kering.

“Tanamannya kokoh dan tidak ada penyakitnya, lebih tahan bulai. Waktu itu pas musimnya bulai, BISI-16 ternyata aman. Padahal jagung yang lain sudah banyak yang kena,” ujar Haji Somad.

Menurut Haji Somad, dari 700-an petani yang tergabung dalam Gapoktan Barokah, lebih dari 75 persennya memilih BISI-16. “Ya karena memang bagus tanamannya, petani selalu diuntungkan. Makanya mereka lebih memilih BISI-16,” jelasnya.

‘Kecintaan’ petani Panji terhadap BISI-16 juga diungkapkan oleh Sadiq dan Basri, petani yang juga kakak adik dari Desa Curahjeru, Panji, Situbondo. Basri misalnya, ia sangat tertarik dengan warna biji dan penampilan tanaman jagung produksi PT. BISI itu.

“Warna bijinya itu sangat menarik, lebih merah dari yang lainnya. Performancenya juga sangat bagus, selain lebih tahan bulai, saat musim hujan jagung ini juga kuat dari serangan busuk batang. Tanamannya juga seragam, sehingga hasilnya bisa tinggi. Satu ereng itu minimal bisa dapat 3,5 ton pipil kering. Hasil panenan saya kemarin seluas 9.000 m2 saja bisa dapat 9,2 ton pipil kering,” terang Basri.

Sementara itu bagi Sadiq, tongkol BISI-16 yang besar menjadi salah satu jaminan bagi petani untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi. “Tongkolnya memang lebih besar dari yang lain, randemennya juga tinggi, di atas 45 persen. Per ereng rata-rata bisa dapat 3,8 ton pipil kering,” ujar Sadiq yang juga berprofesi sebagai pedagang penebas jagung hasil panenan para petani di Situbondo.

Bahkan, lanjut Sadiq, karena warna biji yang lebih menarik dan randemen yang tinggi itu, harga beli jagung BISI-16 di tingkat petani lebih tinggi dibandingkan jagung lainnya. “Selisihnya bisa sampai Rp. 1 juta per erengnya,” ungkap Sadiq.

Untung berlipat
Tagline tongbes tungsar atau tongkol besar, untung besar yang melekat pada BISI-16 sepertinya akan selalu diingat para petani jagung di kawasan Panji, Situbondo dan para petani lain yang telah merasakan sendiri keuntungan mengembangkan jagung super hibrida yang memiliki potensi hasil hingga 13,4 t/ha pipil kering itu.

“Alhamdulillah dari hasil tani jagung ini saya bisa mendapatkan penghasilan lebih, saya bisa berangkat haji bersama istri saya,” ujar Haji Somad. Dari luasan lahan empat hektar BISI-16, Haji Somad rata-rata bisa men-dapatkan hasil hingga 40 ton pipil kering. De-ngan harga jual rata-rata Rp. 2.500/kg, maka total pendapatannya bisa mencapai Rp. 100 juta.

Menurut Haji Somad, biaya tanam jagung di lahan sendiri sekitar Rp. 2 juta per ereng atau sekitar Rp. 4 juta jika lahan yang digunakan berupa lahan sewa. Dengan demikian untuk lahan seluas empat hektar itu, ia mengeluarkan ongkos tanam sekitar Rp. 20 juta atau hasil bersih yang bisa ia kantongi tidak kurang dari Rp. 80 juta. Sebuah penghasilan yang menggiurkan tentunya dalam waktu yang hanya sekitar empat bulan, atau  pendapatan bersih Haji Somad dari bertanam jagung BISI-16 bisa mencapai Rp. 20 juta per bulan.

“Memang seperti itulah hasilnya. Jadi jangan heran kalau setelah panen jagung dengan harga jual yang pas dan produksi tinggi serta terjamin seperti BISI-16 ini, banyak petani di sini yang langsung membeli sapi,” ujar Haji Somad seraya tertawa.

Kisah manis usaha tani BISI-16 yang tidak jauh berbeda juga disampaikan Sudahri atau lebih akrabnya dipanggil Riri. Dari lahan seluas tujuh hektar miliknya, dalam sekali panen rata-rata ia bisa mendapatkan hasil sekitar 61,25 ton jagung pipil kering. Dengan harga jual rata-rata Rp. 2.500/kg dan biaya tanam sama dengan yang disampaikan Haji Somad (Rp. 2 juta/ereng), maka pengha-silan bersihnya sebe-sar Rp. 87,5 juta.

Sementara itu, Basri yang juga pemilik sebuah kios perta-nian di Panji menga-takan, keuntungan yang berlipat dari bertanam jagung BISI-16 itu memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani di daerahnya. Dari kiosnya saja, saat musim tanam ja-gung tiba, biasanya di bulan Juni, ia bisa menjual hingga 10 ton benih jagung super hibrida BISI-16 atau setara dengan 500 ha lahan jagung (1 ha memerlukan benih ± 20 kg).

“Daerah sini memang sudah sangat fanatik dengan BISI-16. Mereka pasti enggan untuk beralih dari jagung ini, karena mereka sudah merasakan sendiri keuntungan dari menanam BISI-16,” kata Basri. (AT : Vol. 13 No. 1 Edisi XLIV, Januari - Maret 2012)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).