INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SI PEDAS YANG MENJADI IDOLA PASAR
Buahnya hijau gelap saat muda dan akan berubah menjadi merah mengkilat saat beranjak tua dan masak. Itulah salah satu ciri khas dari cabai hibrida Sonar, satu dari sejumlah varietas cabai rawit keluaran PT. BISI International Tbk (BISI) yang banyak digemari para petani di kawasan Bondowoso, Jawa Timur.

Layaknya cabai rawit pada umumnya, Sonar juga memiliki buah yang mungil, dengan panjang sekitar 5,5 cm dan diameter berkisar 0,6 cm. Meskipun mungil, tapi jangan anggap remeh rasanya. Seperti kata pepatah yang menyebutkan ‘kecil-kecil cabai rawit’, demikian pula dengan Sonar. Jika anda mencoba memakannya, jangan kaget jika rongga mulut dan lidah anda akan terasa tersengat, dengan diikuti raut muka yang mendadak memerah dan disertai linangan air mata lantaran menahan rasa yang sangat pedas.

Selain dari itu, ada satu ciri khas lain dari Sonar yang diminati para petani di Bondowoso, yaitu produktivitasnya yang lebih tinggi dibanding rawit sejenis lainnya. Potensi hasilnya bisa mencapai 20 ton per hektar.

Haji Imam Bahri misalnya. Salah satu petani sukses di Desa Sukosari Lor, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur ini mengaku bisa memanen 13,5 ton cabai rawit dari hamparan Sonar seluas 0,65 hektar.

“Produksinya memang lebih tinggi dibandingkan rawit lainnya,” ujar pria yang juga menjabat sebagai wakil ketua Asosiasi Petani dan Pedagang Hortikultura Kabupaten Bondowoso ini.

Menurut Imam, buah cabai Sonar juga sangat disukai pasar, terutama untuk pasar Batam. Karena, ukuran buahnya lebih besar atau petani setempat menyebutnya dengan istilah buah ‘kasaran’.

“Kalau untuk pengiriman Batam, Sonar sangat cocok. Buahnya lebih disukai. Karena, pasar Batam menyukai tipe rawit kasaran (ukuran buah lebih besar-red). Meskipun sudah panen ketujuh atau kedelapan kalinya, buahnya Sonar masih tetap banyak yang kasar (besar-red)” jelas Imam.

Kebanyakan petani cabai di Sukosari seperti Imam juga lebih memilih cabai rawit dengan ukuran  buah yang lebih besar atau kasar. Pasalnya, cabai rawit ‘kasar’ dihargai lebih tinggi dibandingkan yang lembut (kecil), selisih harganya sekitar Rp. 1.000 per  kilogram. “Buah kasaran memang lebih diminati di sini, karena pasarnya lebih luas dan harga jualnya juga lebih tinggi dibanding yang lembut,” tegas Imam.

Pengalaman manis menanam Sonar juga disampaikan oleh Herman Hidayat, petani cabai yang juga berasal dari Desa Sukosari Lor. Terhitung, Herman sudah kedua kalinya menanam cabai itu, dan semuanya berbuah manis baginya.

“Tanam pertama sebanyak 12.000 pohon di lahan seluas 300 are (± 0,3 ha) dan saya bisa dapat lebih dari enam ton. Sedangkan yang kedua sebanyak 7.500 pohon, sekarang baru panen dua kali dapat sekitar sembilan kwintal,” terang Herman saat ditemui Abdi Tani di lahannya.

Tingginya produktivitas Sonar itu semakin menguntungkan petani seperti Imam dan Herman. Pasalnya, hal itu juga didukung oleh harga cabai rawit yang turut melambung tinggi. Herman misalnya, dari hasil panenan Sonar seluas 300 are itu ia bisa meraup hasil lebih dari Rp. 87 juta. Setelah dipotong ongkos produksi Rp. 25 juta, ia masih bisa menikmati keuntungan bersih hingga Rp. 62 juta.

Demikian pula dengan Imam. Meskipun tanaman Sonar terakhir yang ditanam di lahan seluas 700 are tidak bisa berbuah optimal lantaran terkendala cuaca yang tidak mendukung, hingga panenan kedelapan kalinya baru bisa memanen sebanyak 4,5 ton, ia masih bisa mendapatkan hasil hingga Rp. 80 juta.

“Hasil itu sudah dikurangi dengan biaya panen sebanyak sepuluh persen. Alhamdulillah hasilnya masih lebih dari cukup. Sekarang masih belum habis tanamannya dan masih terus panen,” ujar Imam.

Pupuk organik
Menurut Imam, lantaran cabai Sonar memiliki produktivitas yang tinggi, maka kebutuhan ‘makannya’ juga harus dicukupi dengan baik. “Ketersediaan unsur hara dalam tanah harus terjaga dengan baik. Karena produksinya tinggi, sehingga cabai ini rakus sekali makannya,” terang alumnus Teknik Sipil Universitas Merdeka Malang ini.

Untuk itu, dalam setiap kali melakukan olah tanah, Imam selalu menambahkan pupuk organik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan Sonar. “Biasanya saya beri sebanyak satu zak per meter persegi sebagai pupuk dasar bersamaan dengan ZA, SP-36, dan Phonska masing-masing sebanyak satu ton per hektar,” ucap Imam.

Imam juga menerangkan pentingnya pupuk organik dalam setiap kali tanam. Menurutnya, dengan semakin banyak kandungan organik dalam tanah, maka umur tanaman akan semakin panjang. “Hasilnya juga lebih banyak dan trubusnya terlihat lebih hijau,” terangnya.

Selain itu, agar produktivitas buah Sonar tetap tinggi, tiap kali seusai panen tanaman wajib dikocor dengan pupuk susulan. Biasanya, Imam melakukan kocor dengan 4 kg ZA dan 2 kg Phonska per drum (200 L). “Kadang juga dengan KNO3. Kalau dengan KNO3 dosisnya 2 kilogram per drum,” kata Imam.

Panen hijau
Bagi petani di Bondowoso, saat mereka menanam cabai rawit, mereka tidak pernah memanennya dalam kondisi tua atau warna buah sudah mulai memerah. “Petani di sini selalu panen hijau. Tidak pernah ada yang panen merah,” jelas Imam.

Demikian pula saat mereka menanam Sonar, biasanya mereka mulai panen saat tanaman berumur 60 hari setelah tanam. Lantaran panen hijau itulah, hanya tipe cabai rawit seperti Sonar yang bisa masuk kriteria petani dan juga pedagang di Bondowoso, terutama menyangkut warna dan ukuran buahnya. Warna buahnya harus hijau gelap dengan ukuran buah yang tidak terlalu besar.

“Kalau di sini petani lebih suka menanam rawit hijau seperti Sonar ini. Kalau rawit putih (warna buah saat muda berwarna putih kehijauan-red) kurang disukai,” jelas Imam.

Di Sukosari sendiri, kata Imam, sudah banyak pengepul yang menampung hasil panenan para petani. “Soal pasar, petani di sini sudah tidak khawatir lagi, karena sudah banyak pengepul yang menampungnya,” ucapnya.

Menurut keterangan Imam, saat panen raya, masing-masing pengepul bisa membawa hasil panen petani sebanyak 5 – 6 ton per hari. Sedangkan kalau hari-hari biasa rata-rata 2 – 3 ton per hari. “Kebanyakan untuk pasar Batam-an saja, sedangkan untuk pasar lain jarang,” terang Imam. (AT : Vol. 12 No. 2 Edisi XLII, April - Juni 2011)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).