INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SETABINDO DI LAHAN MASAM KALIMANTAN TIMUR

Bagi petani semangka di Provinsi Kalimantan Timur, bertanam semangka non biji kini menjadi pilihan utama mereka. Harga jual yang lebih tinggi dan teknis budidaya yang tidak berbeda jauh dengan semangka berbiji menjadi alasannya. Dan hingga kini, varietas semangka hibrida non biji Setabindo masih menjadi andalan banyak petani semangka di ‘bumi mandau’ ini.

Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memang terkenal sebagai salah satu provinsi dengan karakteristik lahan yang ber-pH rendah atau memiliki tingkat kemasaman tinggi. Namun demikian, para petani di provinsi lumbung batubara itu mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan beragam komoditas pertanian, termasuk di antaranya adalah semangka.

Hingga kini, kebanyakan petani semangka di Kaltim lebih memilih untuk mengembangkan jenis semangka non biji daripada semangka berbiji. Pertimbangan utama mereka adalah harga jual yang lebih tinggi dibandingkan semangka yang berbiji.

“Biaya perawatan dan teknis budidayanya juga tidak jauh berbeda dengan yang berbiji, kalaupun lebih mahal tapi tidak terlalu jauh bedanya, makanya kami lebih memilih semangka non biji,” kata Giono, salah satu petani semangka di Desa Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kotamadya Samarinda, Kaltim.

Hal itu juga dibenarkan Boimin, petani semangka di Kelurahan Karya Merdeka, Samboja, Kutai Kartanegara. Menurutnya, hingga saat ini sudah jarang petani di daerahnya yang menanam semangka berbiji. “Jenis (semangka) berbiji di sini kurang begitu laku mas, paling-paling untuk dikirim ke kawasan konservasi untuk makanan orang utan di sana,” terangnya.

Yang me-narik, dari sekian banyak benih se-mangka hibrida non biji yang beredar di pasaran, kebanyakan petani semangka di Kaltim lebih memilih Setabindo setiap kali tanam semangka. Varietas semangka hibrida non biji keluaran PT. BISI International Tbk tersebut telah menjadi andalan banyak petani di provinsi terluas kedua di Indonesia itu.

“Setabindo lebih disukai karena besar buahnya bisa optimal, yang lain belum tentu bisa sebesar Setabindo, masih kalah besarnya,” ungkap Agus, petani semangka di Loa Kulu, Kutai Kartanegara. Menurutnya, meskipun dalam satu tanaman dipelihara dua buah, berat rata-ratanya masih bisa mencapai 7 kg/buah.

“Saya akui buahnya memang besar-besar. Bahkan dulu saya pernah dapat satu kuintal isinya 10 biji atau per biji beratnya mencapai 10 kilogram, pedagangnya saja sampai heran,” ujar Giono yang biasa menanam Setabindo di lahan seluas dua hektar di kawasan Pampang, Samarinda dan Muara Badak, Kutai Kartanegara.

Menurut Khoirul, petani semangka di Tanah Merah, Samarinda Utara, Samarinda, tiap bungkus benih Setabindo bisa menghasilkan 1,5 hingga 2 ton buah semangka segar. Dengan demikian, di lahan masam Kaltim, produktivitas semangka ini sebesar 18 – 24 t/ha.

“Itu pun sembilan puluh persen buahnya sudah pasti masuk kelas A (berat > 4 kg),” terang Khairul yang dalam sekali periode tanam memerlukan benih semangka sekitar 200 – 300 bungkus atau setara dengan 16 – 25 ha.

Warna kulit buahnya menurut Giono juga lebih menarik. “Hijaunya itu menarik, lebih tua dan gelap. Kalau yang lain kan lebih muda. Warna kulit buah yang seperti ini yang lebih disukai pasar,” jelasnya.

Daya simpan buahnya juga diakui lebih lama dibanding semangka sejenis lainnya. Menurut Boimin, hingga satu bulan di lapak, kondisi semangka yang bisa dipanen pada umur 60 – 65 HST itu masih tetap baik.

Menurut Heri Hermanta, petani Setabindo di Desa Perjiwa, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, semangka Setabindo memiliki kulit buah yang lebih tebal sehingga lebih tahan simpan dan pengangkutan jarak jauh. “Buahnya juga lebih tahan dari sengatan lalat buah, karena kulitnya lebih tebal,” ujar Heri yang menanam Setabindo di lahan tandus yang ada di kompleks Gelanggang Olah Raga (GOR) Aji Imbut, Tenggarong Seberang.

Pembentukan buah dan perawatannya, lanjut Heri, juga lebih mudah. Umumnya, buah yang dipelihara berada di antara ruas ke-16 hingga 21. “Jika dibuahkan di bawah ruas ke-16 hasilnya tidak bisa optimal” katanya.

Harus ada kapur dan pupuk kandang
Para petani semangka di Kalimantan Timur seakan sudah hafal bagaimana caranya mengelola lahan di Kaltim yang masam itu agar mampu menghasilkan buah semangka yang optimal. Mereka selalu menambahkan kapur pertanian dan pupuk kandang setiap kali melakukan olah tanah sebelum ditanami semangka.

“Kalau di sini, kapur dan pupuk kandang wajib diberikan, karena tanahnya masam. Semakin banyak kapur dan pupuk kandang yang diberikan, maka hasilnya bisa semakin bagus,” terang Giono.

Dosis pemberian kapur dan pupuk kandang yang diberikan pun bervariasi, masing-masing petani memiliki kebiasan dan anjuran yang berbeda. Namun kisaran yang biasa mereka gunakan adalah sebanyak 1 – 1,6 ton kapur per hektar dan 2 – 4 ton pupuk kandang per hektar.

Menurut salah seorang staf RD (Research and Development) PT. BISI, pemberian kapur dan pupuk kandang memang menjadi keharusan saat mengelola lahan dengan pH yang rendah atau masam. Idealnya, untuk menaikkan nilai pH tanah satu poin di atasnya (misalnya dari pH 5,5 ke pH ideal 6,5) dibutuhkan kapur pertanian sekitar 0,5 kg/m2 atau setara dengan 5 t/ha.

Kapur dan pupuk kandang itu diberikan sebagai dasaran pada lahan yang akan ditanami semangka sebelum ditutup dengan mulsa. Selain itu, pupuk kimia seperti SP-36, ZA, dan KCl juga ditambahkan sebagai pupuk dasar.

“Biasanya untuk lahan kurang dari setengah hektar seperti yang saya kelola ini (± 4.000 m2), pupuk SP-36, ZA, Phonska, dan KCl, masing-masing saya berikan sebanyak dua sak (100 kg),” terang Heri Hermanta, perantau asal Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur yang menekuni usaha tani semangka di bumi mandau itu.

Lantas, untuk pupuk susulan, Heri biasanya menambahkan NPK dan Grand K masing-masing sebanyak 5 kg dan 1 kg untuk setiap 200 L air (1 drum). Pupuk susulan itu memang diberikan dalam bentuk cair yang dikocorkan pada masing-masing tanaman, dimulai saat tanaman berumur tujuh hari hingga satu minggu menjelang panen dengan interval waktu seminggu sekali. “Satu tanaman biasa nya saya beri satu gelas (250 ml),” terang Heri.

Selain pupuk Grand K, untuk menjaga produktivitas dan kualitas hasil panen semangkanya, Heri juga menambahkan pupuk majemuk Canitro sebanyak 1 kg per 200 L air yang diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Hanya saja, penambahan Canitro cukup sampai tanaman berumur 30 hari atau menjelang dikawinkan.

Sementara bagi Khairul, sesaat sebelum dikawinkan hingga masa panen tiba, tanaman semangka juga perlu disemprot dengan ZPT Bigest dan pupuk daun Fitomic agar hasil panenan lebih optimal. “Semprotnya tiap empat hari sekali sampai panen,” ujar Khairul. (AT : Vol. 13 No. 1 Edisi XLIV, Januari - Maret 2012)

 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).