INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

BALERINA, MUDAH MERAWAT TINGGI HASIL PANENNYA
Dari kejauhan, bentuk tanamannya sudah sangat berbeda dengan petakan kubis di sampingnya. Daunnya lebih lebar dan kekar, warnanya juga lebih hijau. Ya, itulah sedikit gambaran tentang kubis Balerina milik Budi (31) warga Desa Cigendel Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang Jawa Barat.

Kubis Balerina milik Budi tersebut sudah menampakkan krop atau kepalanya, karena memang telah berumur lebih dari dua bulan. “Ini sudah berumur dua setengah bulan,” ujar Budi saat ditemui Abdi Tani di lahannya. Saat itu ia sedang sibuk menyemprot sekitar 2.500 batang tanaman kubis Balerina-nya. Ini merupakan yang kedua kalinya Budi menanam kubis produk dari Cap Kapal Terbang ini. Sebelumnya ia juga menanam kubis yang sama dengan jumlah populasi yang sama dengan sekarang. Di ketinggian sekitar 700 mdpl itu, kubis milik Budi berhasil ditebas dengan harga Rp. 4,4 juta oleh pedagang setempat. Dari penjualan itu ia mengaku masih bisa mengantongi untung lebih dari Rp. 2,5 juta.

Budi kembali memilih untuk mengembangkan Balerina karena menurut penilaiannya kubis ini pertumbuhannya lebih bagus dan seragam. “Dari daunnya saja sudah kelihatan kalau tanaman (kubis Balerina) ini lebih bagus,” ceritanya sambil sesekali menyeka keringat yang mengalir di keningnya.

Bahkan saat ia diminta memprediksikan bagaimana hasil dari tanaman kubis Balerina yang saat ini masih berumur 2,5 bulan, ia bisa langsung memberikan garansi kalau hasilnya nanti bisa lebih banyak. “Dilihat dari tanamannya sekarang yang seperti ini, saya yakin panennya nanti pasti bisa lebih banyak,” ujarnya sambil memandangi tanamannya.

Kalau dilihat dari kondisi tanamannya, kubis Balerina milik Budi memang sangat berbeda dengan kubis lain yang ditanam berdampingan dengan petak miliknya. Tanamannya terlihat lebih subur dengan daun yang lebih lebar dan hijau. Kropnya juga lebih padat dan relatif aman dari serangan ulat. Padahal saat Abdi Tani coba melihat kubis lain yang bersebelahan petaknya, nampak banyak sekali yang terserang ulat.

“Kalau saya bandingkan, tanaman kubis saya ini lebih aman dari serangan ulat dan tanamannya lebih subur dari kubis lainnya,” terang Budi. Tidak hanya Budi saja yang mengaku tertarik dengan Balerina, di tetangga desanya tepatnya di Desa Cadas Pangeran, Juhana (50) juga telah sukses mengembangkan kubis sejenis. Petani sayur yang juga sebagai pedagang ini juga baru pertama kalinya menanam dan memanen Balerina. Meski baru pertama kali, ia mengaku sangat puas dan yakin untuk terus mengembangkan tanaman kubis ini.

“Tanamannya lebih bagus dan lebih tahan terhadap serangan penyakit bercak. Juga tidak banyak yang terkena ulat,” kata Juhana. Pertama kalinya tanam, Juhana hanya menanam sebanyak 500 batang. Di lahan yang sama ia juga menanam 500 batang kubis jenis lain. “Saya memang berniat untuk membandingkannya,” terangnya.

Juhana mengaku langsung tertarik dan yakin dengan Balerina setelah ia memanen kubisnya tersebut. Dari hasil panen Balerina, ia bisa memperoleh hingga 5 ton kubis segar. Sedangkan kubis lainnya yang ditanam berdampingan hanya bisa menghasilkan 5 kwintal. “Kubis yang lain banyak yang terkena ulat, padahal perawatannya juga sama,” katanya.

“Coba kalau waktu itu saya tanam Balerina semuanya, pasti untungnya lebih banyak,” tambah Juhana. Kubisnya waktu itu terjual dengan harga Rp. 1.000/kg. Sehingga dari panenan Balerina ia meraup omset hingga Rp. 5 juta, bandingkan dengan hasil panenan kubis jenis lainnya yang hanya bisa mendatangkan omset Rp. 500 ribu.

Menurut Juhana, krop atau kepala kubis Balerina lebih padat dan lebih besar. Beratnya rata-rata 3 – 4 kilogram per krop. Saat ia menjualnya sendiri ke pasar induk Kramatjati, kubis Balerina bisa langsung diterima oleh konsumen pasar. “Pasar sih lebih suka yang beratnya antara dua sampai tiga kilogram,” jelasnya.

Setiap harinya, Juhana biasa mengirim sayuran kubis sekitar dua hingga tujuh ton. Kalau jumlah barangnya mencapai tujuh ton, katanya, langsung dikirim ke pasar besar Jatinegara dan Kramatjati. “Kalau jumlahnya tanggung, hanya dua ton misalnya, saya kirim ke pasar Caringin dan Cirebon,” terangnya.

Setelah yakin dengan kubis Balerina, kini ia pun sudah menyiapkan lahan seluas 400 – 500 tumbak (± 5.600 – 7.000 m2) untuk ditanami Balerina lagi. “Saya rasa siapa saja yang sudah mencobanya gak mungkin ganti lagi,” tegasnya.

Saat Abdi Tani menemuinya di ladang, Juhana juga menunjukkan kepada Abdi Tani kubis Balerina yang ditumpangsarikan dengan tanaman tomat. “Saya mencoba untuk tumpangsari dengan tomat. Ternyata Balerina masih bisa membentuk krop, berarti bisa dikembangkan dengan sistem tumpangsari ini,” terang Juhana.

Juga berkembang di Tosari
Kubis yang bisa ditunda panennya ini juga mulai dikembangkan oleh petani sayuran yang ada di kawasan Pegunungan Tengger Jawa Timur. Salah satunya adalah Miskoyo (37). Petani sayuran asli Desa Kalitejo Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur ini telah menanam Balerina sekitar 15.000 batang di lahannya yang terletak di perbukitan dengan ketinggian sekitar 1.400 mdpl.

Untuk menuju ke ladang Balerina milik Pak Mis (demikian panggilan akrab Miskoyo), Abdi Tani harus menyusuri jalan setapak sepanjang hampir dua kilometer yang menjadi satu-satunya akses jalan bagi petani setempat yang hendak mengelola ladang sayurnya. Kubis dan kentang memang menjadi komoditas sayuran utama yang biasa ditanam oleh petani Tosari. Saat itu sebagian besar petani mulai mengolah lahannya untuk ditanami kentang setelah sebelumnya mereka panen kubis.

Benar saja, sejauh mata memandang kawasan perbukitan itu nampak tidak ada sejengkal tanah pun yang tidak dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Padahal kemiringan lahannya boleh dibilang sangat ekstrim, sekitar 45 derajat, bahkan ada yang lebih curam lagi. Pengolahan lahannya juga tanpa menggunakan terasering atau ladang bertingkat. Mereka langsung mengolah tanah yang curam itu searah kontur, tanpa merasa takut akan terjadi longsor. Padahal bekas gerusan air dari atas bukit masih nampak jelas terlihat.

Setelah menyusuri jalan setapak yang naik turun, akhirnya Abdi Tani sampai juga di lahan Balerina milik Pak Mis yang sudah berumur sekitar 60 HST. Saat itu ia masih sibuk memupuk kubisnya yang nampak sangat subur tersebut. “Ini pemupukan terakhir atau keempat kalinya,” kata Pak Mis yang ditemani oleh istrinya.

Pak Mis memang baru pertama kalinya menanam kubis ini. Meskipun belum pernah merasakan hasil panenan, ia mengaku sangat yakin dengan pertumbuhan kubis ini. “Daunnya ini bisa lebar dan kekar, pertumbuhannya juga bagus. Dipupuk sedikit saja sudah langsung terlihat hasilnya. Kalau melihat pertumbuhan tanamannya seperti ini saya yakin nanti hasilnya juga akan bagus. Lihat saja kropnya, sudah bisa besar seperti ini,” katanya sambil menunjukkan salah satu tanaman kubis Balerina miliknya.

Joyo Mulyo (40), tetangga dekat Pak Mis, juga telah menanam Balerina sekitar 9.000 batang. Tanamannya itu masih baru berumur 1,5 bulan. Meski baru 1,5 bulan, Joyo sudah bisa memberikan penilaiannya kalau kubis ini lebih baik dari kubis yang biasa ia tanam sebelumnya. “Pertumbuhannya lebih cepat. Waktu umur 15 hari saja sudah terlihat daunnya bisa lebih subur dari yang lain. Apalagi setelah diberi pupuk yang pertama, daunnya itu langsung hijau,” kata Joyo.

Menurut keterangan Pak Mis, yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur, di wilayahnya sudah ada sekitar 10 orang yang telah menanam Balerina. “Ada satu yang sudah hampir panen, kalau saya lihat kropnya lebih padat dan besar. Saya makin yakin untuk mengembangkan kubis ini,” ujar Pak Mis.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Joyo. Menurutnya, kubis Balerina sudah cocok untuk dikembangkan di wilayah Tosari. “Kubis ini menurut saya prospeknya bagus untuk dikembangkan di sini,” tegas Joyo. (AT : Vol. 10 No. 1 Edisi XXXIV, Januari - Maret 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).