INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

MELON ACTION, SEJAHTERAKAN DAENG NURUL
Seandainya saja Daeng Nurul saat ini masih berkutat pada tanaman sayuran dan kacang-kacangan biasa, mungkin nasibnya tidak akan sebaik sekarang.  Memang, sudah lama beliau terjun dalam dunia pertanian namun beliau baru merasakan keuntungan dari bertani semenjak beralih kepada tanaman semangka dan melon.

Dengan sawah sistem tadah hujan, tentunya Muhammad Daeng Nurul, nama lengkapnya, tidak bisa mengoptimalkan secara penuh lahan yang ada sehingga beliau menggunakan pola tanam padi–palawija/sayur-palawija/sayur. Dengan pola tanam seperti itu, maka pemilihan tanaman yang akan dikembangkan selain padi mampu harus memberikan insentif yang lebih baik dan lebih menguntungkan. 

“Dulu saya masih mengusahakan tanaman cabai dan tomat, Pak. Cuma entah mengapa pengembangan komoditas tersebut di areal kami kurang optimal. Sudah gitu, harganya juga jatuh.” kenang Daeng Nurul membuka pembicaran dengan ABDI TANI di rumah panggungnya yang masih mempertahankan adat tradisional Makassar. “Nah, setelah ada penyuluh lapang dari PT. Tanindo (waktu itu masih ditangani Nurcholis) yang memperkenalkan semangka Frontier, saya mulai merasakan kehidupan ekonomi menjadi lebih baik karena dengan menanam semangka yang nilai jualnya lebih tinggi memberikan keuntungan yang lebih tinggi pula”. Tambahnya.

Setelah kurang lebih empat tahun lamanya beliau berkutat dengan semangka, beliau pun ditawari untuk menanam melon Action.  Dengan pengalaman kegagalan beberapa tahun lalu menanam melon disertai pemasaran yang kurang mendukung, tanpa rasa takut dan khawatir akan resikonya, Daeng Nurul memberanikan diri menanam Action di lahannya.

Action Merubah Hidup
Awal pengembangan melon Action sebanyak empat bungkus yang menghasilkan sekitar 1.900 buah pada panen perdananya menjadi pertaruhan yang kurang menguntungkan baginya. Walaupun hasil panen menunjukkan hasil yang bagus, namun saat itu Daeng Nurul terbentur pada masalah pemasaran. Beberapa kali beliau mencoba memasarkan melonnya ke beberapa pedagang pengepul namun tidak ada satupun yang mau menerima. Akhirnya dengan tekad bulat, beliau menyewa kendaraan untuk membawa melon hasil panennnya langsung ke pasar.  Di sana pun tidak semudah yang beliau kira karena perlu lebih dari sekedar berusaha untuk meyakinkan para pedagang.

Setelah sekian lama menawarkan melonnya kesana kemari, hingga sampailah beliau bertemu dengan seorang bandar melon yang cukup besar. Dengan berbagai upaya, akhirnya beliau berhasil meyakinkan pedagang tersebut. Saat itu sedikitpun tidak terpikirkan resiko untuk membawa kembali semua buah melon ke rumahnya yang berton-ton tersebut bila ternyata tidak laku dijual. Melihat bagusnya bentuk dan penampilan melon Action yang dibawa Daeng Nurul, tidak serta merta membuat pedagang tersebut mau menerimanya. Menurut mereka, bentuk dan penampilan tidak bisa menjadi tolok ukur bagus tidaknya melon karena yang penting adalah rasanya.

Mendapat tantangan seperti itu, Daeng Nurul pun berani menjamin hitam di atas putih untuk meyakinkan pedagang. Di hadapan orang banyak dan pengepul yang juga ikut memasok melon, dilakukan uji rasa pada tiga sampel melon yang ditawarkan. Setelah sampel pertama dan kedua diuji rasa, pada saat giliran melon Daeng Nurul ternyata semua pihak yang mencicipi sangat menyukai Action. Selain bentuk dan penampilan menarik, rasanya juga lebih manis dibandingkan melon yang lain. Tidak mengherankan melon Action yang dijualnya justru habis hanya dalam waktu dua hari saja.

Sejak saat itu Daeng Nurul mengembangkan tanaman melon tanpa perlu khawatir lagi dalam pemasaran karena pedagang yang dikenalnya tersebut kini telah menjadi pasar tetapnya. Bahkan melon Action hasil pengembangannya dapat diterima di pasar tradisional maupun supermarket dengan kategori kelas A. Yang lebih menyenangkan baginya adalah fluktuasi harganya tidak begitu tinggi karena harga melon paling rendah adalah Rp.3.500 per buah.

Dengan harga yang cukup tinggi tersebut membuat beberapa keinginannya untuk memperbaiki kualitas hidupnya pun sedikit demi sedikit terpenuhi. Meskipun ada beberapa mimpi yang belum tercapai namun beliau yakin bila mengusahakan tanaman melon secara baik dan benar dengan kondisi harga yang tidak begitu jatuh maka impian lainnya pasti juga mampu beliau wujudkan. “Setelah tahu bagaimana keuntungan dari budidaya melon, saya dan petani daerah sini tidak bisa pindah ke komoditas lainnya lagi”, ungkapnya bangga.

Menurutnya kepindahan bertanam dari semangka ke melon tidak semata karena harganya yang lebih tinggi, namun juga pemanfaatan lahan menjadi lebih optimal karena di daerahnya perkembangan semangka tergolong “musiman”. Disebut musiman karena pada bulan-bulan tertentu penanaman semangka tidak bagus bahkan dapat dibilang gagal.

Kembangkan juga Sonya
Setelah melon Action diterima pasar dan kini banyak dikembangkan petani, saat ini beliau juga tengah merintis pengembangan melon jenis lain yaitu melon berdaging oranye varietas “Sonya”.  

Pertimbangan pemilihan melon tersebut juga dipicu dengan ketertarikan Daeng Nurul terhadap keunikan warna, rasa dan bentuk buahnya. Pada saat panen perdana, kurang lebih 150 buah yang dipanen ditawarkan kepada pedagang buah di pinggir jalan sepanjang Kabupaten Takalar ternyata diserbu pembeli. Para pembeli biasanya tertarik akan Sonya karena warna melonnya yang lain dari biasanya.  Berdasarkan penuturannya, alasan terbesar kenapa mereka memilih Sonya dimungkinkan karena persepsi pembeli bahwa melon yang masak itu berwarna oranye. Padahal itu justru karena sifat yang dibawanya.

Kemudahan penerimaan pasar untuk melon tipe oranye “Sonya” ternyata tidak membuatnya khawatir akan berkurangnya permintaan melon Action yang notabene merupakan melon hijau. Menurutnya, baik Action maupun Sonya sudah memiliki pasar masing-masing.  Action misalnya lebih diutamakan pada para penjual juice dan hotel serta restaurant, sedangkan melon Sonya untuk konsumsi masyakarat biasa pada umumnya.  

Jangan terlalu banyak Nitrogen
Walaupun setiap petani mampu bertanam melon, namun untuk menghasilkan melon yang berkualitas dibutuhkan tidak hanya sekedar usaha yang keras namun juga harus cerdik. Cerdik dalam artian bahwa kita harus pandai-pandai membaca peluang pemasaran dan dibekali dengan pengetahuan mumpuni. Nah, Daeng Nurul mengungkapkan bahwa pengetahuan budidaya yang selama ini di”remeh”kan justru menjadi bumerang bagi para petani. Meskipun Daeng Nurul sendiri hanya lulusan SMP namun dia tetap mencari solusi tepat dalam setiap budidayanya baik itu dengan cara berdiskusi, membaca atau pun kegiatan rutin dengan petani di kelompoknya.

Contohnya, tidak sedikit petani yang memandang remeh pemupukan dalam budidaya melon. Banyak paradigma yang salah dalam pemupukan terutama penggunaan urea yang berlebihan. Menurutnya, penggunaan urea yang berlebihan justru akan membuat pembentukan buah tidak optimal dan mengurangi ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit. Nah, untuk pemupukan, beliau menyarankan pemupukan berimbang. Dalam hal ini penggunaan pupuk majemuk yang kompoisisinya merata seperti halnya Grand S-15 sangat tepat untuk budidaya melon.

Selain pemupukan, hal penting yang perlu diperhatikan adalah pada saat pengolahan lahan sebaiknya pupuk kandang tidak hanya ditabur namun dicampur langsung dengan tanah saat olah tanah. Tanah yang dibolak-balik sebaiknya dibiarkan hingga mengering untuk mengurangi perkembangan dan penyebaran bibit penyakit. (AT : Vol. 10 No.1 Edisi XXXIV, Januari - Maret 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).