INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

TANAM IDOLA, MAKIN SULIT BERPALING
“Petani pinginnya ya tetap tanam Idola”, demikian diungkapkan oleh Rohman (48), petani Lembang yang sudah lebih dari delapan tahun mengembangkan tomat varietas Idola.

Saat di temui di kediamannya yang terletak di Kampung Cilumber Desa Cibogo Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung, Rohman (demikian dia biasa dipanggil) langsung mengajak Abdi Tani untuk menengok tanaman tomat Idola-nya yang ditanam di sawah tidak jauh dari kediamannya. Di lahannya saat itu terdapat sekitar 6.000 pohon tomat Idola yang baru berumur satu bulan dan ditumpangsarikan dengan cabe besar.

Di petak yang sama, Rohman juga menanam tomat jenis lain dengan jumlah populasi hampir sama dengan Idola. Namun, begitu Abdi Tani mencoba membandingkan pertumbuhan dari dua jenis tomat tersebut, Rohman langsung menunjukkan sesuatu. Ia langsung menggiring Abdi Tani untuk melihat salah satu tanaman tomat selain Idola.

“Selain (tomat) Idola, gampang sekali kena layu seperti ini. Kalau di (lahan) sawah yang rawan layu seperti di sini, Idola paling bisa diandalkan,” ujarnya sambil menunjukkan salah satu tanaman tomat jenis lain yang terkena serangan layu.

Bagi Rohman, menanam tomat Idola bukanlah yang pertama kalinya. Ia sudah mengembangkan varietas tomat produk dari Cap Kapal Terbang ini sejak delapan tahun yang lalu. “Saya sudah tanam Idola sejak tahun 2000,” terangnya.

Menurutnya, selain karena tahan layu, Rohman berani untuk terus mengembangkan tomat ini karena hasilnya juga lebih banyak dibanding tomat sejenis lainnya. “Buahnya seragam dan bagus, bentuknya juga berbeda dengan jenis lainnya. Tomat ini bentuk buahnya lebih bulat,” terangnya.

Kalau dengan tomat Idola, lanjutnya, untuk mendapatkan buah sebanyak tiga kilogram dalam satu pohon bukanlah hal yang sulit. “Kalau jenis lain maksimal paling hanya dua kilogram,” imbuh pria kelahiran Bandung 48 tahun lalu ini.

Tomat dengan tipe pertumbuhan indeterminate ini, seperti yang disampaikan oleh staf ahli riset tanaman tomat PT. BISI International Tbk, memang memiliki potensi hasil 5 – 6 kilogram per tanamannya. Berat tiap buahnya sekitar 90 – 120 gram. Selain itu, tomat ini juga lebih tahan terhadap serangan layu bakteri maupun layu fusarium.

Selalu tumpangsari
Di Lembang, para petani sayuran seperti Rohman, dalam bercocok tanam selalu menggunakan sistem tumpangsari. Jarang sekali yang menggunakan sistem tanam monokultur atau dengan satu jenis tanaman sayur saja. Alasannya, seperti yang dikatakan Rohman, dengan tumpangsari resiko kerugian bisa lebih ditekan.

“Kalau tanam lebih dari satu bisa saling menutupi. Artinya, kalau salah satunya rugi, kan masih bisa ditutupi dari hasil panen tanaman lainnya. Intinya sistem ini untuk menghindari kerugian,” terangnya.

Begitu pula dengan tomat, tanaman ini sering ditanam bersama dengan cabai besar. Seperti yang ada di lahan milik Rohman sendiri. Tomat Idola-nya disandingkan dengan cabai besar Spirit (salah satu produk cabai besar dari Cap Kapal Terbang). Kedua tanaman tersebut ditanam berselang-seling dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm, dan dalam satu bedeng terdapat dua baris tanaman.

Dengan sistem tumpangsari, lanjut Rohman, biaya tanamnya juga bisa lebih dihemat. Dari hitung-hitungan yang dilakukan Rohman, biaya tanam tomat+cabai sekitar Rp. 2.000 per tanaman. “Teknis perawatannya juga hampir sama, seperti pemupukan dan penyemprotan bisa dilakukan bersamaan. Jadi lebih hemat biaya dan tenaganya,” imbuhnya.

Di saat panen, kata Rohman, panenan salah satu tanamannya (misalnya tomat) bisa jadi hanya akan balik modal. Nilai keuntungannya baru bisa dirasakan saat memanen tanaman lainnya (cabai). “Panenan tomat biasanya baru balik modal, nah keuntungannya ada di panenan cabainya. Yang pasti dengan sistem tumpangsari ini kita jarang rugi lah,” jelas Rohman.

80 persen masuk kategori super
Di pasaran, menurut keterangan Rohman yang juga sebagai pedagang yang rutin mensuplai sayuran ke pasar induk Kramatdjati, buah tomat Idola sudah bisa diterima. “Kalau harga tomat sedang mahal, tomat Idola paling diminati petani. Karena hasilnya lebih banyak. Pedagang juga lebih suka karena buahnya lebih tahan simpan,” terangnya.

Karena hasil per tanamannya lebih banyak, maka petani cenderung untuk lebih memilih tomat Idola. Seperti yang telah diungkap di muka, untuk mendapatkan tiga kilogram buah tomat segar bukanlah hal yang sulit jika petani menggunakan tomat Idola. “Petani pinginnya tanam Idola, apalagi kalau pas harga tomat bagus. Karena untungnya bisa lebih banyak,” imbuh Rohman.

Rohman sendiri, pada musim tanam sebelumnya telah memanen tomat Idola sebanyak 16.000 batang. Total ia bisa memanen hingga 30 ton. Waktu itu, Rohman mengaku bisa mengantongi omset panen sebanyak Rp. 60 juta. “Harga waktu itu Rp. 2.000 per kilogram di petani,” kata Rohman. Dari omset sebesar itu, ia berhasil memperoleh penghasilan bersih sebanyak Rp. 30 juta.

Itu baru dari tomatnya, padahal saat itu Rohman juga menanam cabai yang ditanam bersamaan dengan tomat Idola. Menurut Rohman, dengan harga jual cabai saat itu Rp. 10.000/kg, ia memperoleh total hasil panen Rp. 60 juta. Setelah dikurangi biaya tanam, Rohman juga mengaku mengantongi untung bersih hingga Rp. 30 juta. Dengan demikian dari hasil tumpangsari tomat Idola dan cabai tersebut, total Rohman bisa memperoleh hasil bersih tidak kurang dari Rp. 60 juta.

Dari hasil panen tomat Idola itu, lebih dari 80 persen buahnya menurut Rohman masuk kategori atau kelas super (kelas A). “Delapan puluh persen lebih masuk kelas super,” terangnya. Yang dimaksud kelas super adalah jika dalam satu kilogram berisi ± 10 buah tomat.

Di pasar, terang Rohman, ada tiga kategori kualitas tomat, yaitu tomat kelas A (super), kelas B, dan kelas C. Tomat akan dimasukkan dalam kelas B jika dalam satu kilogram berisi sekitar 15 buah tomat. Jika lebih dari 15 buah, maka otomatis tomat tersebut akan masuk kelas paling rendah yaitu kelas C.

“Di pengecer, tomat kelas A dihargai sampai Rp. 5.000 per kilogram. Kalau kelas B sekitar Rp. 4.500 dan kelas C sekitar Rp. 4.000 per kilonya,” terang Rohman.

Tiap harinya Rohman rata-rata bisa mengirim tomat ke pasar induk Kramatdjati sebanyak 3 – 4 ton. Ia tidak sendirian, berdasarkan keterangannya, di wilayahnya terdapat gabungan bandar sayur yang kalau dikalkulasikan tiap harinya bisa memasok lebih dari 25 ton tomat ke pasar induk Kramatdjati Jakarta. “Sekali kirim bisa sampai lima mobil setiap hari,” imbuhnya.
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).