INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

5 TAHUN MERETAS SUKSES BERSAMA LUCKY BOY
Setia, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk mengapresiasikan keengganan Abah Ondi untuk mengganti tanaman bunga kol Lucky Boy andalannya dengan jenis lain.Sudah lebih dari lima tahun ia meretas sukses dengan sayuran khas dataran tinggi produk dari Cap Kapal Terbang ini.

Jika setiap kali menanam Lucky Boy, ia selalu menanam hingga puluhan ribu batang. Pemilik tubuh agak tambun tapi tetap kelihatan sangat energik ini memang telah memiliki lebih dari 10 hektar lahan yang semuanya digunakan untuk usaha tani sayur-mayur, khususnya bunga kol Lucky Boy. Sehingga tidak heran kalau dalam sekali panen, Abah Ondi bisa mengantongi omset hingga puluhan juta rupiah per bulannya.

Ondi, ya, itulah namanya. Ia enggan menyebutkan nama lengkapnya saat Abdi Tani menemuinya di sebuah saung (rumah panggung) miliknya yang dibangun di tengah-tengah lahan sayurnya. “Cukup itu saja nama saya, nggak usah lengkap,” terang pria 62 tahun yang beralamat di Desa Cibodas Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Jawa Barat ini.

Dengan topi koboinya, Abah Ondi (demikian panggilan akrabnya) terlihat lebih muda dari umurnya yang sudah berkepala enam. Hari-harinya memang lebih banyak dihabiskan untuk berkeliling kebun sambil mengontrol para pekerjanya yang merawat tanaman, hampir tidak ada istilah nganggur dalam hidupnya. Sehingga tidak heran kalau tubuhnya masih tampak segar dan fit.

Saat Abdi Tani berkunjung, di lahannya telah tertanam bunga kol Lucky Boy sekitar 50.000 batang yang baru saja dipindahtanamkan. Sebelumnya, Abah Ondi juga telah memanen 18.000 batang Lucky Boy dengan total panenan hingga 42 ton. “Rata-rata berat bunganya 1,5 kilogram. Itu sudah bersih tanpa daunnya,” katanya. Bunga kol Lucky Boy tersebut terjual dengan harga Rp. 2.000 per kilogram.
 
Dari situ Abah Ondi bisa mengantongi hasil panen lebih dari Rp. 80 juta. “Padahal itu saya tanam dengan mulsa bekas yang kondisinya sudah hampir rusak dan dicampur (tumpangsari-red) dengan (tanaman) tomat,” terangnya. Setelah dikurangi biaya tanam sekitar Rp. 1.000/tanaman, praktis Abah Ondi mengantongi untung bersih lebih dari Rp. 60 juta hanya dalam waktu dua bulan (Lucky Boy bisa dipanen pada umur ± 55 hari setelah pindah tanam).

Jago di musim kering
Rasa “cinta”nya pada bunga kol Lucky Boy muncul saat pertama kalinya ia menanam sebanyak 15.000 tanaman di tahun 2003. “Waktu itu saya bisa panen sebanyak 50 ton. Saya juga sempat kaget bisa memanen sebanyak itu,” kisah kakek dari 9 orang cucu ini.

Ia mengaku semakin terpikat dengan bunga kol ini karena lebih tahan pada kondisi lingkungan kering atau sulit air. “Jenis yang lain sudah tidak tahan kalau kondisinya panas,” terangnya. Umur panennya juga lebih genjah atau lebih cepat. Menurutnya, mulai umur 48 HST Lucky Boy sudah bisa dipanen. “Baru habis dipanen pada umur 60 hari,” imbuhnya.

Hasil panennya, lanjut Abah Ondi, juga lebih banyak dibandingkan dengan bunga kol lokal yang sering ditanam petani. Katanya, bunga kol lokal maksimal hanya bisa menghasilkan bunga kol dengan berat satu kilogram, itupun dengan umur panen yang lebih panjang hingga 100 HST. Sedangkan bunga kol Lucky Boy dengan umur yang lebih pendek bisa menghasilkan bunga hingga dua kilogram.

Karena dinilai “jago” di musim kering, Abah Ondi selalu bisa meraup untung lebih acap kali menanam Lucky Boy. “Alhamdulillah saya selalu mendapat harga panen di atas Rp. 2.000 per kilogram,” terangnya. Keberuntungannya itu bukan semata-mata karena sedang lucky atau beruntung saja, namun lebih karena kelihaiannya membaca pergerakan bunga kol di pasaran. Perlu diketahi, selain sebagai petani, Abah Ondi juga sebagai salah satu pengepul dan pedagang besar sayuran di pasar Kramatdjati Jakarta. Tiap harinya ia biasa memasok rata-rata 6 ton bunga kol ke pasar Kramatdjati.

Kuncinya, kata Abah Ondi, harus pandai melihat kapan umumnya petani menanam dan memanen bunga kolnya. Biasanya kalau tanam bersamaan dan panennya bersamaan pula, resiko terkena harga di bawah harga normal akan lebih tinggi, karena stok barang di pasar sedang melimpah.

Oleh karena itu, kebiasaannya menanam dan memanen bunga kol pada musim kering menjadi kunci suksesnya meraup untung lebih dari berbisnis sayuran bunga ini. “Waktu musim kemarau kan kebanyakan petani kesulitan air, sehingga jarang yang menanam. Dan dengan adanya bunga kol yang bisa tahan di musim kering seperti Lucky Boy ini tentu sangat menguntungkan. Sepertinya saya sudah nggak mau beralih lagi,” imbuhnya. Biasanya Abah Ondi mulai tanam bunga kol Lucky Boy sekitar bulan Juli sampai Oktober.

Sebagai petani bunga kol “spesialis” musim kering, ia menyiasati kekurangan air dengan membuat sejumlah kolam penampungan air yang digunakan saat masa-masa sulit air. Air dalam penampungan tersebut sebagian besar berasal dari air hujan. Dari kolam penampungan tersebut, nampak sejumlah pipa atau selang air yang membentang menuju ladang sayurnya untuk mengalirkan air.

“Meskipun saya memiliki kolam penampungan air, tapi penggunaannya di musim kering juga dibatasi. Pemberiannya juga dengan sistem kocor (dituangkan di setiap tanaman-red), tidak dengan sistem penggenangan pada bedengan.” terangnya.

Selalu gunakan pupuk olahan sendiri
Ada yang beda dengan kebiasaan tanam Abah Ondi. Ia sangat jarang menggunakan pupuk kimia buatan. Kalaupun menggunakan, dosisnya sangat sedikit. “Ya ini juga sebagai upaya menghemat biaya produksi. Harga pupuk kimia sekarang kan juga sangat mahal. Tapi dari dulu saya memang sudah jarang menggunakan pupuk kimia,” katanya.

Untuk mencukupi kebutuhan “makanan” bagi tanamannya, Abah Ondi lebih banyak menggunakan pupuk kandang. Sehingga tidak heran kalau kondisi tanah di ladangnya masih baik dan subur, meskipun terus-terusan ditanami. Ia juga mengaku menggunakan pupuk “organik” hasil ramuannya sendiri.

Pupuk hasil olahannya sendiri tersebut terbuat dari campuran cacing, air seni kelinci, dan terasi yang umumnya dibuat bumbu masak. Untuk membuat “ramuan” tersebut, diperlukan waktu minimal sebulan untuk proses pematangannya. “Semakin lama didiamkan, khasiatnya bisa semakin dahsyat. Tapi baunya juga sangat luar biasa,” terangnya sambil tertawa.

Pupuk buatannya itu hanya diaplikasikan sekali yaitu pada saat bunga kol berumur 25 hari setelah pindah tanam. “Dosisnya juga tidak banyak, karena agak keras. Cara pemberiannya dengan dikocorkan menggunakan sprayer, tapi bagian spray-nya (noozle-red) dicopot,” jelas Abah Ondi.

Sepanjang umur tanaman bunga kol Lucky Boy, Abah Ondi mengaku hanya tiga kali melakukan pemupukan susulan. Sebagai pupuk dasarnya (sebelum ditutup mulsa), ia menggunakan campuran kotoran ayam, sapi, dan sekam padi sisa pembakaran industri tahu yang telah didiamkan selama 1 – 2 bulan.

Sedangkan pemupukan susulan dilakukan hingga tiga kali menggunakan larutan pupuk KNO3 dengan dosis 2 kg/200 liter air. “Pemberian pupuk susulan maksimal sampai pada umur 35 hari. Kalau lebih dari itu masih diberikan pupuk susulan, maka pertumbuhan tanamannya bisa over dan hasilnya tidak baik,” katanya.

Suksesnya Abah Ondi meretas bisnis pertanian saat ini juga tidak terlepas dari usaha kerasnya sejak ia masih berusia 12 tahun. “Sampai umur 22 tahun saya menjadi kuli bangunan,” kisahnya. Selepas jadi kuli, ia mengaku iseng-iseng berbisnis tomat. Ia sendiri langsung terjun untuk menanam dan memasarkannya ke pasar. Hingga akhirnya pada tahun 1990-an, bisnis tomatnya berhasil meretas sukses. “Saya sampai mempunyai 80 pekerja untuk mengurusi bisnis tomat,” ungkapnya. Waktu itu, Abah Ondi mengaku bisa mengirim tomat sebanyak 150 ton setiap bulannya.

Namun, saat terjadi krisis moneter sekitar tahun 1997, usaha taninya sempat goyah. Pasalnya, kredit yang disalurkan kepada mitra taninya “macet” karena para petani kesulitan mengembalikannya. “Total sampai 500 juta rupiah uang saya parkir di petani dan tidak kembali,” kenangnya. Seiring terus membaiknya kondisi pertanian, perlahan usaha taninya juga kembali pulih.

Karena semua pengalaman itu pula akhirnya Abah Ondi mengaku semakin lancar dalam mengembangkan bisnis sayuran bunga kol. “Apalagi dengan adanya varietas bunga kol yang tahan kering seperti Lucky Boy ini, bisnis saya semakin lancar. Sampai sekarang saya tetap yakin untuk mengembangkan varietas ini, karena lebih bagus dan menguntungkan.” tegasnya. (AT : Vol. 10 No. 1 Edisi XXXIV, Januari - Maret 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).