INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

DELI CR, BANYAK DISUKA KARENA TAHAN AKAR GADA
"Baru kali ini saya tanam sawi bisa untung", demikian ungkap Suroso (45). Memang, petani sayur dari Desa Ngantru Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang Jawa Timur ini baru saja menikmati hasil panen sawi putih jenis Deli CR yang merupakan varietas baru dari Cap Kapal Terbang.

Hasil panenan sawi putih Deli CR Suroso tidaklah banyak, ia hanya menanam sekitar 3.200 tanaman di lahan seluas 1.100 meter persegi. Maklumlah itu merupakan tanam perdananya. Biasanya petani tidak akan menanam begitu banyak jika tanaman yang ditanamnya merupakan varietas yang baru dikenal. Namun, jika hasil tanam perdana tersebut sukses dan memuaskan, petani pun akan langsung yakin untuk menanam dalam luasan yang lebih besar.

Demikian juga dengan Suroso. Setelah panen perdananya dinilai memuaskan, kini ia pun kembali menanam Deli CR di lahan yang lebih luas lagi, yaitu tidak kurang dari 0,5 hektar (5.000 m2). Saat Abdi Tani menengoknya, tanaman tersebut nampak tumbuh subur dan sudah mulai nampak kepalanya (crop). “Sebentar lagi ini akan panen, sekarang umurnya sekitar 50 hari,” ujar bapak dari dua anak ini sambil sesekali memeriksa tanamannya.

Tahan penthol
Yang membuat Suroso mantap untuk kembali menanam sawi Deli (demikian ia menyebutnya) adalah karena sawi putih ini sangat tahan terhadap serangan penyakit akar gada atau petani setempat menyebutnya penthol. Bagi petani sayuran khususnya tanaman dari kelompok Brassicae atau kubis-kubisan, termasuk sawi putih, yang terpenting adalah aman dari serangan penthol. “Kalau bebas penthol, petani sawi sudah bisa ayem mas. Karena sudah bisa dipastikan tanamannya akan selamat sampai panen,” jelas Suroso.

Penyakit yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae ini bagi petani kubis-kubisan memang sering menjadi momok utama. Pasalnya, apabila tanaman sudah terserang maka pertumbuhannya akan terhambat dan tidak mampu membentuk krop atau kepala, hingga pada akhirnya mati. Awalnya tanaman akan terlihat layu seperti kekurangan air saat siang hari, namun pada pagi hari tanaman tersebut akan kembali segar. Kalau dicabut, terlihat akarnya membengkak seperti berumbi. Akar yang bengkak tersebut tidak mampu lagi menyerap nutrisi dan air dari dalam tanah.

Suroso pernah mengalami pengalaman menarik dengan sawi putih Deli CR miliknya. Tanaman tomat yang ditumpangsari dengan sawi putih Deli CR, yang saat Abdi Tani menengok sudah berumur lebih dari 50 HST, menunjukkan gejala kekeringan. Namun ia ragu untuk mengairi ladangnya.”Saya takut kalau diairi nanti sawinya kena penthol,” ujarnya.

Pasalnya, air yang digunakan juga mengandung kotoran sapi yang dipelihara petani setempat. Air yang bercampur dengan kotoran sapi tersebut selain mengandung N (nitrogen) yang tinggi, bisa juga mengandung patogen penyebab akar gada atau penthol yang akan langsung menginfeksi akar tanaman sawi putih. Berdasarkan pengalaman Suroso, tanaman sawi putih yang diairi secara berlebihan dengan air yang bercampur kotoran sapi akhirnya sering terserang penthol.

Tapi tidak demikian dengan Deli CR. Meskipun air yang diberikan hingga menyentuh permukaan atas bedengan atau menggenang hingga di sekitar tanaman, tapi tanaman Deli CR masih tetap aman dan tidak menunjukkan gejala terkena serangan penthol hingga tanaman menjelang dipanen. “Saya sudah khawatir waktu itu, tapi setelah melihat hasilnya tidak ada masalah (penthol), saya jadi tenang,” kenang Suroso.

Ketahanan terhadap serangan penthol ini juga diakui oleh Imam Ramadhan (32), petani sayuran dari Desa Sukomulyo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Sawi putih Deli CR yang ditanamnya semuanya terbebas dari penthol hingga panen. Padahal, ujar Imam, daerahnya merupakan endemik atau dengan kata lain jika petani menanam sawi putih atau tanaman kubis-kubisan lainnya pasti akan terkena penthol.

Oleh karena itu, Imam mengaku sangat senang dan puas dengan hasil tanaman sawi putihnya yang terbebas dari serangan penthol atau akar gada. Pasalnya, lolos dari serangan penyakit penthol, menurut Imam, juga menjadi salah satu kunci utama keberhasilan usaha cocok tanam sayuran khas dataran tinggi ini. “Kalau menanam sawi (putih), yang penting adalah bagaimana bisa selamat dari serangan penthol,” imbuhnya.

Tumpangsari tanpa semai
Bagi petani sayuran di kawasan Ngantang dan Pujon, menanam sawi putih bukanlah hal yang asing lagi. Petani seperti Suroso dan juga Imam, sepanjang tahun menanamnya. Hanya saja, tempat penanamannya dalam setiap musim berbeda. Saat musim kemarau, penanaman sawi lebih banyak dilakukan di sawah yang ketersediaan airnya lebih baik. Sedangkan saat musim hujan tiba, penanamannya dialihkan ke lahan tegalan.

Penanaman sawi putih juga seringkali atau bahkan selalu dilakukan dengan tumpangsari atau ditanam bersamaan dengan sayuran lain dalam satu bedeng lahan. Yang sering menjadi tanaman partnernya adalah tomat, cabai, dan bawang merah. Bahkan ada juga yang ditumpangsari dengan tanaman jagung. Imam adalah contoh petani yang telah menerapkannya.

Memang terasa sedikit dipaksakan sebenarnya, tapi begitulah yang dilakukan Imam. Meski begitu ia juga tetap berhasil menanam dan akhirnya memanen sawi putih Deli CR di lahannya itu. Bahkan dengan sistem tumpangsari tersebut, biaya perawatan sawi menjadi lebih murah.

Kalau dirunut sejarah lahannya, sebelum “duet” dengan sawi putih, tanaman jagung tersebut terlebih dahulu sudah “berkencan” dengan tanaman kentang. Penanaman jagung dilakukan saat tanaman kentang mulai berumur 40 hari. Begitu tanaman kentang dipanen, bekasnya langsung ditanami sawi putih Deli CR tanpa disemai terlebih dahulu atau langsung tanam benih. Saat tanaman sawi yang ditanam tersebut mulai tumbuh, tanaman jagung sudah mulai bertongkol. “Jagungnya tidak untuk dipanen tua, tapi dipanen muda untuk pakan ternak,” terang Imam.

Dengan demikian, sebelum tanaman sawi tumbuh lebih besar, tanaman jagung sudah mulai dipanen. Sehingga seiring dengan perkembangan tanaman sawi, tanaman jagung yang awalnya rapat dan menaungi lahan sedikit demi sedikit akan terbuka karena dipanen secara bertahap sesuai kebutuhan si penebas. “Hasilnya lumayan, bisa buat nutupi ongkos tanam sawi,” ujar Imam. Dari lahan yang ditanami sebanyak tidak kurang dari 3.000 tanaman sawi putih Deli CR itu, tanaman jagungnya ditebas seharga Rp. 700.000.

Selain itu, karena lahannya merupakan bekas tanaman kentang, maka porsi pemberian pupuk untuk tanaman sawi menjadi lebih ringan. “Tidak perlu banyak pupuk, karena tanahnya masih subur. Sisa-sisa pupuk kentang masih banyak tertinggal,” jelas Imam. Dengan demikian biaya pemupukan bisa lebih ditekan dan dihemat.

Sedangkan, jika ditumpangsarikan dengan tomat seperti yang dilakukan Suroso, penanaman benih sawi putih dilakukan bersamaan dengan penebaran benih tomat di persemaian. Selang satu bulan di persemaian, tanaman tomat baru dipindahtanamkan berdampingan dengan tanaman sawi putih. Boleh dibilang, lahan di kawasan Ngantang dan juga Pujon tidak pernah “diistirahatkan” oleh sang pemilik. Sepanjang waktu tanpa putus akan terus ditanami.

Baru kali ini bisa untung
Menanam sawi putih Deli CR bagi Suroso boleh jadi merupakan pengalaman yang mengesankan baginya. Bagaimana tidak, selama menekuni usaha tani sayur mayur terutama sawi putih baru kali ini ia bisa merasakan keuntungan. “Baru kali ini saya tanam sawi bisa untung,” ujarnya.

Di Ngantang, sayuran sawi putih memang bukan menjadi tanaman utama. Sayuran khas dataran tinggi ini hanya sebagai tanaman sela di antara sayuran utama lainnya seperti tomat dan cabai. Karena sebagai tanaman sela dan harga sawi putih di pasaran sedang anjlok, Suroso sering mengorbankan sawinya untuk dijadikan pupuk hijau bagi tanaman tomat yang ditanam berdampingan. “Kalau harganya sudah sangat jatuh dan tanamannya tidak bagus, ya terpaksa saya babat dan dijadikan pupuk hijau untuk tomat,” terang Suroso.

Namun, setelah ia melihat hasil pertumbuhan sawi putih Deli CR yang meyakinkan, kebiasaan itu sepertinya tidak akan terulang lagi. “Ya kalau tanamannya bisa sebagus Deli ini, tidak mungkin kalau dikorbankan untuk pupuk hijau lagi. Eman,” katanya sambil tersenyum.

Dari panen perdananya, ia bisa memanen tidak kurang dari 6 ton sawi putih segar. Dengan harga jual saat itu Rp. 1.200/kg, maka paling tidak Suroso bisa merengkuh hasil lebih dari Rp. 6 juta. Setelah dikurangi ongkos tanam yang hanya Rp. 800 ribu, maka dalam waktu dua bulan ia sudah bisa mengantongi untung bersih tidak kurang dari Rp. 5 juta atau Rp. 2,5 juta per bulannya. “Jujur, baru kali ini saya bisa untung sebanyak ini dari hasil tanam sawi,” ucapnya lagi.

Hal yang sama juga dialami Imam. Tanaman Deli CR sebanyak dua pack atau sama dengan milik Suroso ditebas pedagang seharga Rp. 5,5 juta. Dari hasil tebasan tersebut, Imam mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih lebih dari Rp. 4,5 juta. “Biaya tanamnya irit banget, total hanya tujuh ratus ribu rupiah,” ujar Imam. Meski sudah bisa mengantongi untung bersih sebanyak itu, ia masih merasa menyesal. Pasalnya, harga sawi putih selang beberapa hari ditebaskan sudah mencapai Rp. 2.000/kg. Menurutnya, kalau dijual kiloan dengan harga segitu keuntungannya bisa lebih banyak lagi. “Mungkin rejekinya segini,” kilahnya sambil tersenyum.

Pasar Suka yang Ukuran Sedang
Ngantang dan juga Pujon merupakan salah satu sentra sayuran sawi putih. Dari daerah ini tiap harinya puluhan ton sawi putih diangkut ke pasar. Menurut Nurgiono (27), pengepul dan juga pedagang sayuran dari Desa Banu Kecamatan Ngantang, sawi putih dari Ngantang sebagian besar dikirim ke Magetan yang merupakan pasar sentra sayuran besar di Jawa Timur. “Ada juga yang dikirm ke pasar Ngantang,” ujarnya. Di hari-hari biasa ia bisa mengirim sebanyak 4 ton per hari. Tapi saat harga sawi naik, yang biasanya terjadi di sepanjang musim kemarau, ia biasanya akan menambah kuota pengiriman hingga mencapai 10 ton/hari.

Pasar di Magetan dan juga Ngantang lebih menyukai sawi putih yang berukuran sedang. “Rata-rata beratnya 1 sampai 1,5 kilogram,” terang Nurgiono. Kalau lebih dari itu akan sulit masuk pasar. Kecuali kalau untuk kapalan atau untuk dikirm ke luar Jawa. Menurutnya, berat minimum kapalan adalah 1,5 kilogram. Hanya saja permintaan sawi putih untuk kapalan ini masih sangat jarang. “Hanya waktu-waktu tertentu saja,” tambahnya. Kalau dibandingkan pasar lokal, harga sawi putih untuk kapalan memang lebih mahal, Rp. 200 hingga Rp. 300 lebih mahal dari pasar lokal.

Nurgiono merupakan pedagang yang membeli sawi putih Deli CR milik Suroso. Menurutnya Deli CR sudah bisa diterima pasar dengan baik. “Sawi ini (Deli CR-red.) juga lebih tahan penthol, sehingga memiliki daya simpan yang lebih baik setelah dipanen,” kata Nurgiono.

Untuk menyiasati agar bobot sawi yang dihasilkan sesuai dengan permintaan pasar, Suroso dan juga Imam menggunakan jarak tanam yang lebih rapat dari biasanya. “Biasanya saya pake jarak tanam sak meter papat,” terang Suroso. Artinya, dalam satu meter persegi lahan terdapat empat tanaman sawi putih, atau jarak tanamnya 25 cm x 25 cm. Kalau menggunakan jarak tanam yang ideal (50 cm x 50 cm), lanjutnya, per tanaman sawi bisa menghasilkan krop dengan berat hingga dua kilogram lebih. (AT : Vol. 10 No.1 Edisi XXXIV, Januari - Maret 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).