INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SUNNY, SI PUTIH YANG PALING DICARI
Terhitung sudah kedua kalinya Eden Denirahman (40) atau lebih akrab dipanggil Kang Eden menanam cauliflower atau bunga kol jenis Sunny, atau baru pertama kalinya ia memanen dan memasarkan sendiri burkol (sebutan bunga kol dalam bahasa Sunda-red) produk dari Cap Kapal Terbang ini. Sukses panen pertamanya telah membuat pria asli Desa Pamekarsari Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut ini tertarik untuk kembali menanam dan mengembangkan Sunny.

“Pertumbuhan bagus dan perawatannya sangat gampang. Yang penting lagi, burkol ini sudah diminati pasar, jadi lebih mudah memasarkannya,” terang Kang Eden saat ditemui Abdi Tani di ladang Sunny miliknya yang baru berumur 20 hari. Memang, pada periode tanam yang kedua ini Kang Eden kembali menanam Sunny sebanyak 14.000 tanaman yang sudah berumur 20 hari dan di petak lain sebanyak 16.000 tanaman baru saja tanam.

Selain sebagai petani, Kang Eden juga “rangkap jabatan” sebagai pengepul dan pedagang sayuran yang rajin mensuplai ke pasar induk Kramatjati, Cibitung, Bandung, Bogor, dan Tangerang. Ia juga memiliki lapak di dalam pasar tersebut. Sehingga ia tahu betul bagaimana pergerakan komoditas sayuran di pasar. Demikian pula dengan bunga kol atau burkol Sunny ini. Ia berani menanam lebih banyak karena pasarnya sudah terjamin dan hasilnya lebih baik dari burkol hibrida lainnya.

Dari panenan perdananya, Kang Eden bisa memanen sebanyak 4,5 ton dari sekitar 3.000 tanaman burkol Sunny. “Waktu itu harganya Rp. 2.000 per kilogramnya. Jadi bisa dihitung sendiri ya berapa banyak pendapatan saya waktu itu,” terangnya sambil tertawa kecil. Kalau dihitung dengan harga Rp. 2.000/kg, maka pendapatan kotor Kang Eden waktu itu sebanyak Rp. 9 juta. Menurutnya, biaya tanam yang dikeluarkan selama menanam Sunny sekitar Rp. 700/tanaman atau sekitar Rp. 2,1 juta. Dengan demikian ia bisa mengantongi laba bersih hampir Rp. 7 juta.

Suka yang Putih
Yang membuat Kang Eden “jatuh hati” dengan Sunny salah satunya adalah tanamannya tidak “rewel” atau tidak memerlukan perawatan khusus. “Yang pertama dulu, saya tanam di lahan bekas (bekas tanaman bunga kol-red.) dan airnya yang dipakai juga air limpahan dari jalan raya, tapi hasilnya masih bisa 1,5 kilogram per tanaman. Kalau di lahan baru seperti ini 2 kilogram saja sudah kepegang,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, umur panennya lebih cepat atau genjah, yaitu sekitar 50 hari setelah tanam. Bandingkan dengan bunga kol lokal yang umurnya hingga 100 hari. “Umur 45 hari sudah bisa dipanen, tapi biasanya saya memanennya mulai umur 52 hari. Karena sudah banyak yang bisa dipanen. Sehingga tidak rugi membayar pekerja untuk panen,” terang Kang Eden. Biasanya, untuk pemanenan bunga kol dilakukan 2 hingga 3 kali dengan selisih waktu empat atau lima hari. “Kalau Sunny umur 52 hari sudah bisa dipanen separonya. Sisanya baru dipanen umur 57 hari,” imbuhnya.

Untuk memasarkan Sunny ke pasar, menurut Kang Eden juga tidaklah sulit. “Warnanya (warna kepalanya) putih dan tidak ada bungurnya (biru-red), sampai umur 50 hari pun masih tetap putih. Burkol yang dipinat (diminati-red) pasar teh yang kaya gini, warnanya putih dan tidak bungur,” terangnya. Ia juga membandingkan dengan bunga kol jenis lain yang biasa ditanamnya. “Yang lain itu gampang bungur,” tambahnya.

Secara fisik, lanjut Kang Eden, tanaman Sunny kalau dilihat sudah berbeda dengan burkol jenis lainnya. Menurutnya daun Sunny bergelombang dan agak lebar. “Kalau saya lihat daunnya Sunny ini cantik, bergelombang seperti bunga gelombang cinta yang terkenal itu,” katanya sambil menunjukkan daun Sunny-nya kepada Abdi Tani.

Bahkan dengan melihat pertumbuhan tanamannya, Kang Eden sudah bisa menduga atau menaksir berapa bobot per tanaman yang akan dihasilkan oleh burkol Sunny yang ia tanam sekarang. “Melihat pertumbuhannya sekarang mah, 1,5 kilogram sudah pasti kepegang,” selorohnya yakin.

Selain warna kepala yang putih, pasar juga menghendaki bobot yang tidak terlalu besar. Bobot ideal yang diminati pasar adalah sekitar 1,5 kilogram per tandan atau per tanaman. Bobot tersebut masih termasuk beberapa lembar daun yang menyertai kepala sayuran tersebut. “Maksimal dua kilogram. Tapi kalau pas harga di pasar bagus, burkol yang beratnya 1,5 lebih laku dibanding yang 2 kilogram,” terang Kang Eden.

Untuk menyiasati agar kepala yang dihasilkan tidak terlalu besar, Kang Eden menggunakan jarak tanam yang lebih rapat, yaitu 40 cm x 40 cm. Ia pernah menggunakan jarak tanam 60 cm x 70 cm, hasilnya ia bisa mendapatkan bunga kol dengan bobot rata-rata 3 kilogram/tandan.

Pedagang ataupun pengepul seperti Kang Eden ini kalau memanen burkol dari petani pasti menyertakan beberapa lembar daun untuk melindungi kepala bunga kol, sehingga bisa lebih aman saat pengangkutan atau pengiriman jarak jauh. Sesampainya di pengecer, barulah lembaran daun tersebut dibuang dan tinggallah kepala atau krop putih dari bunga kol itu.

Saat ditanya berapa selisih harga antara di tingkat petani, pengepul, dan pengecer? Dengan terbuka Kang Eden menerangkan kalau semisal di petani dihargai Rp. 1.400, maka sesampainya di pengepul menjadi Rp. 2.000/kg. “Kalau sudah sampai di pengecer harganya bisa sampai Rp. 4.500 per kilogramnya,” terangnya.

Pedagang bunga kol juga lebih menyukai Sunny karena lebih bobot dibanding bunga kol lainnya. Itulah yang disampaikan oleh Iwan Setiawan (32), petani dan juga pengepul bunga kol dari Desa Jati Kecamatan Tarogong Kaler Garut Jawa Barat. “Saya pernah menimbang pada karung yang ukurannya sama, kalau Sunny ini bisa berbobot sekitar 92 kilo. Burkol jenis lain bobotnya hanya 70-an kilo,” kata Iwan.

Tahan simpan dan tahan hujan
Barang bagus dan tahan simpan, itulah salah satu pertimbangan utama pedagang sebelum menjatuhkan pilihan untuk mengambil barang tersebut atau tidak. Demikian pula dengan Sunny. Sayuran yang ideal ditanam pada ketinggian 400 hingga 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menjadi incaran pedagang karena kualitasnya bagus dan tahan simpan.

“Di pasaran, Sunny bisa masuk kelas super. Karena warnanya putih dan mulus. Daya simpannya juga lebih lama dibandingkan burkol lain yang biasanya saya bawa. Mungkin karena bunganya lebih padat jadi lebih tahan simpan,” jelas Kang Eden yang biasa memasok 14 ton bunga kol setiap dua hari sekali ini.

Bahkan Kang Iwan (panggilan akrab Iwan Setiawan) berani menjamin kalau kualitas bunga kol Sunny lebih baik dari yang lain. “Pokoknya saya tidak akan melepasnya, karena kualitasnya sudah bagus,” kata Iwan. Ia pun pernah ditawari langsung bunga kol jenis lain tapi langsung ditolak. “Ya karena kualitasnya kurang baik dibanding Sunny,” tambahnya.

Agus Arbie (38), petani sayuran dan juga pemilik pembibitan di Desa Dukun Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang Jawa Tengah ini mengatakan kalau bunga kol Sunny lebih tahan jika terkena hujan. Hal itu ia buktikan saat ia menanam Sunny sebanyak 1.000 tanaman yang ditanam bersamaan dengan jenis lain (yang biasa ditanam petani setempat) dalam lahan yang sama dan cara perawatan yang juga sama.

“Bunga kol yang biasa ditanam petani di sini banyak yang busuk terkena hujan, tapi kalau Sunny tidak ada yang busuk sama sekali,” kata Agus. Benar juga, saat Abdi Tani melihat langsung Sunny di lahannya yang bertepatan dengan masa panen, Agus menunjukkan langsung bunga kol tersebut. Kalau bunganya (kepala) dilihat dari luar tidak ada tanda-tanda yang aneh. Bentuknya sama persis dengan bunga kol yang normal. Tapi kalau dibau langsung tercium bau busuk yang menyengat. Dan saat dilihat bagian dalamnya, pangkal bunganya sebagian besar sudah membusuk.

Mbak Pon, pedagang yang membeli bunga kol milik Agus mengatakan bunga kol jenis Sunny lebih banyak dicari pedagang. “Karena tidak mudah busuk,” terang Mbak Pon yang ditemui Abdi seusai memanen menimbang bunga kol milik Agus di lahan. Di panenan yang kedua kalinya itu, Agus berhasil memanen lebih dari 400 kg bunga kol Sunny segar. Sedangkan pada panenan yang pertama ia memanen sebanyak 100 kg dengan rata-rata berat per tandannya lebih dari 1 kilogram. Hasil panenan itu menurut Mbak Pon untuk dikirim ke pasar Solo. Selain ke Solo, ia juga memasok sayuran ke pasar Gombong, Kebumen, dan Yogyakarta.

Selain kualitas dan performa tanaman, tentunya yang menjadi pertimbangan utama lagi adalah masalah keuntungan yang bisa diraup dari hasil menanam Sunny. Kang Eden, Kang Iwan, dan juga Agus Arbie sendiri mengaku bisa meraup untung lebih banyak setelah menanam Sunny. Kang Eden misalnya, dari hasil usaha tani dan dagang Sunny, akhirnya bisa menambah tabungan hajinya. “Alhamdulillah bisa menjadi tambahan uang saku untuk berangkat haji bulan depan (November 2008-red) bersama istri dan Ibu,” ujarnya bangga. (AT : Vol. 10 No. 1 Edisi XXXIV, Januari - Maret 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).