INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

RIMBUN, CABE KERITING UNGGUL
Kalau melihat hamparan tanaman cabai keriting yang tumbuh subur memenuhi lereng bukit di Kayu Aro, Kerinci, Jambi, seakan mengingatkan pada sosok rambut kribo yang dimiliki oleh Edi Brokoli. Buahnya yang berwarna merah menyala dan keriting memanjang itu muncul hampir di setiap sela daun yang ada, sehingga tampak rimbun menjuntai ke bawah. Tidak salah kiranya cabai ini dinamakan “Rimbun”.

Selain itu, cabai keriting produk Cap Kapal Terbang ini pertumbuhannya sangat kuat dan seragam. Menurut Haji Samyono, sang pemilik lahan, cabai Rimbun mampu tumbuh dengan baik meskipun ditanam di dataran tinggi. Di lahannya yang terletak pada sebuah lereng di Desa Lindung Jaya Kersik Tuo itu, cabai Rimbun seluas seperempat hektar bisa tumbuh dan berbuah dengan baik.

Unggulan di Kayu Aro
Kayu Aro merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kerinci, Jambi yang memiliki potensi besar untuk pengembangan komoditas hortikultura, dan cabai telah menjadi salah satu komoditas unggulannya. Setiap musimnya tidak kurang dari 1.500 ha lahan ditanami cabai, atau dengan kata lain dalam setahun luas penanaman cabai di Kayu Aro mencapai 3.000 ha.

Dari luas tanam tersebut, 70 persennya masih menggunakan cabai varietas lokal dan 30 persen sisanya menggunakan varietas hibrida seperti cabai keriting Rimbun. Masih rendahnya pemakaian cabai hibrida dikarenakan petani yang kebanyakan lahannya terletak di dataran tinggi masih merasa ragu menanam cabai jenis ini. Petani menilai cabai hibrida masih kurang cocok kalau dikembangkan di dataran tinggi. Mereka takut merugi jika menanam cabai baru seperti varietas hibrida ini.

Salah satu hal yang dikhawatirkan oleh petani cabai dataran tinggi adalah serangan penyakit Anthraknose atau petani Kayu Aro sering menyebutnya penyakit busuk separoh. Penyakit ini telah menjadi momok bagi petani cabai khususnya di dataran tinggi. Suhu yang lebih rendah dengan tingkat kelembaban udara tinggi menjadi faktor lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit ini. Jika tanaman cabai sudah terserang akan sangat sulit untuk mengendalikannya dan sangat beresiko menimbulkan gagal panen.

Namun, setelah dilakukan penanaman langsung cabai Rimbun di kawasan dataran tinggi Kayu Aro para petani sudah mulai yakin dengan performa tanaman cabai hibrida di dataran tinggi. Cabai yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.200 sampai 1.400 mdpl itu mampu beradaptasi dengan baik.

Umurnya juga relatif lebih pendek, sekitar 105 – 112 HST  sudah bisa dipanen. Bandingkan dengan umur panen cabai lokal yang bisa mencapai lima bulan. Yang lebih penting lagi, cabai dengan bentuk buah panjang ramping khas cabai keriting dengan panjang ± 14 cm dan lebar ± 0,7 cm ini relatif lebih tahan terhadap serangan penyakit Anthraknose. Hal inilah yang membuat petani di Kayu Aro berani untuk mengembangkan cabai ini.

Dihargai lebih mahal
Selain bentuk dan ukuran buah yang sudah bisa diterima pasar, rasa cabai Rimbun juga tidak kalah pedas jika dibandingkan dengan cabai keriting lokal. Pedagangpun tidak ragu untuk menampung cabai ini, karena konsumen juga menyukainya. Bahkan ada juga pedagang yang berani menghargainya lebih mahal hingga Rp. 2.000/kg dari cabai lainnya.

Pedagang berani menghargai lebih mahal cabai yang memiliki potensi hasil hingga 14,1 ton/ha ini karena kadar airnya lebih rendah sehingga lebih tahan simpan terutama saat pengiriman jarak jauh dan buahnya tidak mudah menyusut atau keriput. Cabai dari Kayu Aro tidak hanya untuk memenuhi pasar lokal namun juga untuk mensuplai kebutuhan pasar di Jambi, Padang, dan Palembang. Oleh karena itu ketahanan simpan saat pengiriman jauh menjadi salah satu pertimbangan utama bagi pedagang.

Jika dibandingkan cabai keriting lainnya, Rimbun memiliki selisih bobot 5 – 7 kg lebih berat dalam setiap karungnya. Kalau biasanya per karung cabai memiliki bobot 50 kg, maka per karung cabai Rimbun bisa mencapai 55 – 57 kg.

Munculkan kisah manis
Sukses tanam cabai Rimbun di Kayu Aro ini juga menorehkan sebuah kisah sukses dari petani setempat. Haji Samyono contohnya. Di desanya Lindung Jaya Kersik Tuo, Kayu Aro, Kerinci, Jambi, ia sukses menanam cabai Rimbun seluas seperempat hektar.

Dari lahan seluas itu tidak kurang dari 4.500 batang cabai Rimbun ia tanam. Setiap kali panen ia bisa mendapatkan rata-rata 250 kg cabai segar atau per batangnya bisa menghasilkan 1,3 kg. “Semuanya bisa saya panen sampai 24 kali. Totalnya mencapai 6.000 kilogram,” terang bapak dari dua orang anak ini.

Duit sebanyak Rp. 60 juta pun berhasil dikantongi Samyono dari hasil penjualan cabai Rimbun itu. Dari itu sebuah mobil Isuzu Panther bisa nangkring di garasi rumahnya. “Puas sekali rasanya bisa memanen Rimbun, saya akan menanam lebih luas lagi nantinya,” imbuhnya. Tidak hanya Samyono, petani lain yang ada di Kayu Aro pun banyak yang telah menikmati manisnya hasil “si keriting pedas” ini.
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).