INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

GRAND-11, TEMBUS PASAR EKSPOR
Kubis yang satu ini memang sangat ideal kalau dikembangkan di dataran menengah sampai tinggi atau pada kisaran ketinggian 500 – 1.500 m dpl (di atas permukaan laut). Di Tanah Karo, kubis dengan nama Grand 11 ini menjadi salah satu varietas yang diminati petani dan juga pedagang. Bahkan salah satu produk unggulan dari Cap Kapal Terbang ini mampu menembus pasar ekspor.

Kubis Grand 11 memiliki daya adaptasi yang bagus terhadap kondisi lingkungan setempat, sehingga kubis ini bisa tumbuh optimal meskipun ditanam saat musim hujan ataupun kemarau. Hanya saja untuk memperoleh hasil yang optimal tersebut sebaiknya ditanam di daerah yang memiliki ketinggian 500 – 1.500 mdpl.

Kabupaten Karo atau Tanah Karo adalah salah satu daerah pengembangannya. Daerah ini terletak di dataran tinggi Karo dengan ketinggian antara 600 hingga 1.400 mdpl, temperaturnya berkisar 15 – 26 OC. Tanah Karo sendiri merupakan salah satu sentra sayuran utama di Propinsi Sumatera Utara. Produk sayurannya tidak hanya untuk memenuhi pasar domestik, namun sudah merambah pasar ekspor seperti Malaysia dan Singapura.

Salah satu komoditas sayuran yang telah berhasil menembus pasar ekspor adalah kubis. Menurut salah seorang eksportir kubis besar di Tanah Karo, upaya menembus pasar luar negeri ini sudah dimulai sejak 20 tahun yang lalu. “Awalnya ada rekanan dari Malaysia yang menawarkan kerjasama ekspor kubis, sejak saat itu perdagangan ekspor kubis berjalan hingga sekarang ini,” kata pria yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Saat ditemui di salah satu gudang penyimpanan kubis miliknya yang ada di Berastagi, ia mengungkapkan salah satu ciri kubis yang diminta pasar ekspor adalah yang berbentuk pipih. “Bentuk kepala atau crop yang pipih masih menjadi idola pasar ekspor,” ujarnya. Namun, lanjutnya, yang lebih penting lagi bobotnya berkisar antara 1,5 – 2 kg atau dalam 20 kilogram kubis berisi 10 hingga 14 buah. Kalau lebih dari itu pihak rekanan tidak mau menerima, karena terlalu besar dan kurang diminati pasar.

Grand 11 tembus pasar ekspor
Grand 11 merupakan salah satu kubis yang telah menembus pasar ekspor. Menurut eksportir di Berastagi tersebut, kubis ini bisa menutupi kelemahan kubis lain yang lebih dulu meluncur memenuhi pasar di Malaysia, Singapura, dan Taiwan.

“Kubis yang lebih dulu menembus pasar ekspor ternyata tidak tahan terhadap penyakit, cropnya juga kurang padat. Kalau Grand 11, memiliki crop yang lebih padat dan tahan terhadap penyakit. Di pasaran juga bisa langsung diterima. Selain itu juga lebih tahan saat curah hujan yang tinggi,” jelasnya.

Namun saat ditanya berapa banyak volume ekspor kubisnya ia enggan menyebutkan angka pastinya, termasuk volume ekspor Grand 11-nya. “Maaf, saya tidak bisa menyebutkannya. Yang pasti sejak dua tahun lalu saya masih mengandalkan Grand 11,” tegasnya.

Dalam seminggu, biasanya ia mengirim sebanyak dua kali untuk memenuhi permintaan pasar di Malaysia melalui pelabuhan Belawan Medan. Sedangkan kuota atau banyaknya kubis yang dikirim tergantung pada kuota yang ditetapkan oleh pemerintah setempat.

Lain halnya dengan pasar Taiwan, pengiriman hanya dilakukan pada bulan-bulan tertentu. “Kalau untuk Taiwan kita hanya kirim pada bulan Juli sampai November. Di bulan-bulan itu petani kubis di sana tidak bisa menanam kubis karena pengaruh badai. Sehingga mereka mendatangkan kubis dari luar Taiwan,” terang pria yang gemar memancing ini.

Bulan paceklik
Untuk menjamin ketersediaan pasokan kubis, ia sudah menjalin kerjasama dengan para petani khususnya di kawasan Berastagi. “Sepanjang tahun persediaan kubis Grand 11 selalu ada, sampai saat ini tidak ada masalah,” tandasnya.

Namun, ia juga menyebutkan adanya bulan-bulan yang dirasa lebih sulit atau disebutnya sebagai bulan paceklik. Pada bulan itu persaingan di pasar ekspor dirasa lebih sulit. Pasalnya, barang yang masuk ke negara tujuan ekspornya tidak hanya dari Indonesia tapi dari negara lainnya juga masuk. “Kita jadi lebih sulit bersaing karena ada barang dari negara lain yang masuk,” jelasnya.

Selain persaingan antar eksportir tersebut, faktor musim juga sangat berpengaruh. Menurutnya musim yang dirasa lebih sulit adalah saat datangnya kemarau. Pasalnya, pada musim ini kebanyakan kubis lebih sulit membentuk crop atau kepala. Selain itu serangan ulatnya juga lebih hebat dari biasanya. Oleh karena itu kebanyakan petani di Tanah Karo enggan menanam kubis di musim ini. Tidak heran kalau harga kubis di pasaran pada saat kemarau bisa melonjak tinggi.

Untuk menyiasati kelangkaan kubis saat musim kemarau, eksportir seperti dirinya akan mencari kubis dari luar Berastagi. “Untuk menjaga agar barang tetap ada kita juga mencari kubis dari petani di luar Berastagi,” katanya.

7 hektar Grand 11 untuk pasar ekspor
Di Tanah Karo, kubis bagi sebagian eksportir sering disebut sebagai “raja”nya sayuran. Sedangkan gelar “sang ratu” masih disandang komoditas lainnya yaitu kentang. Memang, kedua komoditas ini masih menjadi andalan ekspor sayuran Tanah Karo ke negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura.

Tanah Karo, khususnya Berastagi, telah menjadi sentra sayuran dan salah satu pusat wisata di Sumatera Utara. Kubis dan kentang adalah salah satu komoditas sayuran utama daerah ini selain wortel, tomat, cabai, dan selada. Dari sini juga lahir petani-petani yang sukses bertanam sayur, salah satunya adalah A Kang.

A Kang adalah salah satu di antara petani sukses lain di Tanah Karo yang sudah lama menggeluti dunia “perkubisan”. Setelah mengetahui kalau pasar ekspor kubis terbuka lebar, ia semakin serius menggeluti profesinya sebagai petani kubis. Buktinya, dalam sekali tanam kubis ia bisa menanam seluas 7 hektar. Seperti saat ia menanam kubis Grand 11 yang sudah dipanennya beberapa waktu lalu.

Saat menanam Grand 11, ia menghabiskan tidak kurang dari 150 ribu batang bibit atau setara dengan lahan kubis seluas kurang lebih 7 hektar. Keberanian menanam langsung Grand 11 sebanyak itu bukan tanpa pertimbangan sama sekali. Setelah melihat hasil demplot (demo plot) Grand 11 yang diadakan di Tanah Karo, ia langsung memutuskan untuk menanamnya. “Tanamannya bagus, cropnya padat dan tidak jauh beda dengan kubis lain yang lebih dulu ada di sini,” terang A Kang.

Selain itu hal yang lebih penting lagi baginya adalah masalah pemasaran. Sebagus apapun kubisnya kalau tanpa ada jaminan pasar, menurutnya hanya akan menjadi hal yang percuma. Keputusannya memilih Grand 11 juga diawali dari terjaminnya pasar salah satu kubis produk unggulan dari Cap Kapal Terbang ini.

“Setelah saya tahu beberapa eksportir kubis bisa menerima Grand 11 dan pasarnya juga menjanjikan, akhirnya saya semakin yakin untuk mengembangkan kubis ini. Karena pasarnya terjamin,” kata A Kang.

Grand 11 yang ia tanam semuanya memang hanya untuk mensuplai pasar ekspor dengan melalui beberapa eksportir yang ada di Berastagi, salah satunya adalah A Cui. Bahkan A Cui sanggup menerima berapapun banyak kubis yang dikirim, asalkan sesuai standar.

Mau tahu berapa besar keuntungan yang berhasil diraup petani Grand 11 seperti A Kang ini? Dari hasil kebun kubisnya yang ditanami sebanyak 150 ribu tanaman tersebut, setiap 10 ribu tanaman bisa menghasilkan sebanyak 20 ton kubis segar. Dengan harga jual rata-rata 500 rupiah per kilogram, total uang yang berhasil dikumpulkan A Kang mencapai Rp. 10 juta untuk setiap 10 ribu tanaman.

Biaya produksi yang dikeluarkan untuk 10 ribu tanaman sekitar Rp. 5 juta. Sehingga total keuntungan bersih yang bisa dikantongi A Kang tidak kurang dari 5 juta rupiah. Itu baru keuntungan bersih dari 10 ribu tanaman, padahal di lahannya telah ada sekitar 150 ribu tanaman. Dengan demikian total keuntungan bersih yang langsung masuk dompet pria asli Tanah Karo ini paling tidak sebanyak Rp. 75 juta.

Pembibitannya juga mudah
Di kebun pembibitan, benih kubis Grand 11 juga mudah dikecambahkan. Menurut salah seorang petani pemilik usaha pembibitan kubis Grand 11 yang cukup besar di Berastagi, kubis ini memiliki daya tumbuh yang lebih bagus dibandingkan yang lain.

“Tiap satu pack (bungkus-red) Grand 11, bisa menghasilkan bibit sekitar 2.200 hingga 2.300 batang. Daya tumbuhnya juga lebih baik dibanding yang pernah kita bibitkan sebelumya,” kata pemilik nama lengkap Keng Sun Mu Sim alias A Sun ini.

Bersama kakaknya, Keng Huat Mu Sim atau A Huat, A Sun mewarisi kebun pembibitan tersebut dari ayahnya, Mu Sim. Boleh dibilang pembibitan itu merupakan usaha keluarga Mu Sim yang dirintis sejak tahun 1950. Sejak kecil A Sun memang sudah akrab dengan usaha tani yang dirintis ayahnya itu. Hasilnya, hingga saat ini sekitar 50% kebutuhan bibit kubis di Tanah Karo disuplai dari kebunnya.

Saat awal mencoba membibitkan Grand 11, A Sun dan kakaknya hanya menyelipkan beberapa benih di tempat pembibitan. “Dulu awal mencoba kita hanya menyelipkan di bego (bedengan-red). Tapi sekarang setelah petani mulai suka dan banyak yang berminat, 70 hingga 80 persen bibit kubis di sini adalah Grand 11,” terang anak kelima dari enam bersaudara ini.

Namun, sejak harga pupuk dan sarana produksi lainnya mulai merambat naik, ia pun dibuat pusing memikirkan cara menyiasati agar usahanya bisa tetap berjalan. Pasalnya, kondisi seperti ini membuat petani seperti dia terjebak dalam posisi yang dilematis. Mau menaikkan harga jual juga tidak gampang, karena petani pasti sulit menerimanya. “Bagaimana mau menaikkan harga kalau akhirnya petani tidak mau membeli. Kalau petani tidak mau membeli bagaimana usaha kita bisa jalan. Karena petani sendiri juga pasti lebih susah dengan kenaikan harga pupuk dan lainnya,” terangnya.

Akhirnya A Sun dan kakaknya memutuskan untuk tetap mempertahankan harga jual bibit kubisnya, meskipun dengan konsekuensi mengurangi nilai keuntungan. “Sampai sekarang harga jual bibitnya tetap sama, 70 rupiah per bibit,” katanya saat ditemui Abdi Tani di kebunnya. Meskipun keuntungannya berkurang, ia mengaku masih bisa bernafas lega. Pasalnya, bibit kubis Grand 11 masih disukai petani Tanah Karo.
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).