INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

KUBIS BALERINA, PETANI UNTUNG BANDAR UNTUNG
Kang Deni (28), demikianlah ia biasa dipanggil, merupakan pemilik kubis berkepala jumbo. Garis tengah kepala kubis itu sekitar 21 cm dengan bobot sekitar 5 kilogram. Pemilik nama lengkap Deni Sutisna ini mengaku baru pertama kalinya menanam kubis dengan nama Balerina ini. Pertama kali pula ia memanen kubis dengan kepala jumbo.
“Baru pertama kali ini saya tanam dan panen kubis dengan ukuran yang sangat besar seperti itu,” ujarnya saat ditemui Abdi Tani di rumahnya yang terletak di Desa Giri Awas Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut. Di petakan kebun seluas tidak kurang dari 4 patok (1 patok = ± 350 m2) Kang Deni menanam sekitar 4.740 batang kubis Balerina. Biasanya dalam satu tahun ia dan petani Cikajang umumnya hanya sekali menanam kubis. Selebihnya bergantian antara tanaman kentang, cabai, dan tomat.

Kepala lebih padat
Awalnya, Kang Deni tidak mengetahui kalau bibit kubis yang ditanamnya merupakan kubis Balerina. “Waktu itu saya tidak dikasih tahu sama Haji Iing (petani sekaligus pemilik usaha pembibitan kubis-red.) kalau kubisnya itu Balerina. Dia hanya bilang kalau ini sama dengan kubis yang biasa saya tanam,” ujarnya.

Tapi begitu mulai menthol (membentuk kepala), lanjutnya, penampilan tanamannya tidak sama dengan yang biasa ditanamnya. Menurutnya daunnya lebih lebar dan tebal. “Urat daunnya juga berbeda. Pokoknya sangat beda dengan biasanya, tapi pertumbuhannya sangat bagus dan meyakinkan,” kisahnya.

Baru saat menjelang panen ia diberi tahu oleh Haji Iing kalau kubis yang ia tanam itu merupakan kubis Balerina. Menurut Kang Deni, kebiasaan petani yang enggan menerima tanaman baru sebelum melihat langsung hasilnya menjadi alasan utama kenapa Haji Iing enggan memberi tahu terlebih dahulu nama varietas kubis tersebut.

Balerina merupakan varietas kubis baru yang diluncurkan oleh PT. Tanindo Subur Prima melalui merek dagang Cap Kapal Terbang-nya. Kubis ini memiliki ciri utama kepala besar, bulat, dan keras, serta sangat sesuai jika ditanam di kawasan dataran tinggi atau memiliki ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.
 
Karena daunnya yang lebih tebal, menurut Kang Deni, Balerina tidak mudah layu dan lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. “Biasanya kan waktu siang hari atau saat matahari sedang panas-panasnya tanaman kol akan layu, kalau Balerina ini tidak. Dia tetap hijau dan segar. Senang sekali melihatnya, dari kejauhan seperti hamparan karpet yang hijau,” ungkap ayah dari dua putra ini.

Ciri lain dari Balerina yang disukai oleh petani dan utamanya pedagang adalah kepalanya yang padat. Sang bandar besar kubis, Haji Ahun, sendiri mengungkapkan kalau kepala atau crop kubis ini lebih padat dari yang lain sehingga bobotnya juga lebih stabil. “Kalau yang lain berat awalnya 4,5 kilogram tapi setelah dipanen dan dikupas bisa langsung jatuh menjadi 2 kilogram,” ujarnya.

Panen normal bisa, ditunda pun oke
Selain penampilan tanaman yang meyakinkan, menurut Kang Deni kubis Balerina juga bisa ditunda panennya sambil menunggu harga kubis lebih baik. “Kubis Balerina saya sendiri waktu itu dipanen saat berumur 114 hari. Normalnya kan kol dipanen waktu umur 70 sampai 80 hari,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, waktu itu kalau misalkan si penebasnya tidak terikat kontrak dengan si penerima barang di pasar, kubis milik Kang Deni itu hendak dipanen satu bulan mendatang. “Kata Haji Ahun (penebas-red), kalau melihat penampilan tanamannya yang bagus dia yakin ditunda sebulan lagi pun tidak akan pecah dan tetap bagus. Karena kepalanya lebih padat,” ujar Kang Deni.

Haji Tatang, petani kubis asal Pasirwangi Garut, menilai kalau hendak memanen Balerina pada umur-umur normal (70 – 80 HST) juga tidak menjadi soal. “Waktu pembentukan kepalanya juga cepat, sama dengan Grand (kubis Grand-11, produk lain dari Cap Kapal Terbang). Tentu hal ini juga menguntungkan petani seperti saya, istilahnya mau dipanen cepat bisa, ditunda pun juga tidak masalah,” ujar Haji Tatang.

Perawatan enteng, untung mentereng
Satu hal yang membuat Kang Deni dan juga Haji Tatang sumringah ketika menanam Balerina adalah perawatannya yang lebih mudah sekaligus murah. Tengok saja hitung-hitungan yang dikeluarkan oleh Kang Deni ini. Biaya tanam per batang kubis Balerina menurut hitungannya hanya 200 rupiah, sedangkan kalau menanam kubis lainnya bisa mencapai 300 rupiah per batang.

Untuk tanam Balerina seluas 4 patok, ia menghabiskan Rp. 800.000 khusus untuk biaya tanamannya. Sedangkan tenaga kerjanya sekitar Rp. 400.000. Kalau ditotal biaya produksi Balerina sebanyak Rp. 1.200.000. Biaya segitu tidak akan ada apa-apanya saat disandingkan dengan total duit hasil penjualan panennya. Kubis Balerina milik Kang Deni waktu itu ditebus dengan harga Rp. 8.000.000, artinya keuntungan bersih yang bisa langsung masuk kantongnya lebih dari Rp. 6 juta.

Dari 4.750 batang Balerina milik Kang Deni itu bisa menghasilkan panenan total hampir 12 ton. Sedangkan Haji Tatang bisa memanen total 30 ton dari 8.000 batang Balerina yang ia tanam. “Yang pasti lebih menguntungkan lah,” ujar Haji Tatang yang berhasil naik haji berkat ketekunannya bertani kubis.

Kepala jumbo untuk ekspor
Haji Ahun (43), pengepul dan pedagang kubis besar dari Cisurupan Garut, ketika ditemui Abdi Tani mengungkapkan, kepala jumbo yang dimiliki oleh kubis Balerina justru sangat diminati petani. Pasalnya, petani lebih mengejar nilai hasil panen atau berat total panenannya. “Semakin besar kepalanya, maka total panenan yang bisa diperoleh petani juga akan semakin banyak,” ujarnya.

Bagi pasar sendiri, besar kecilnya ukuran kepala (crop) kubis tidak menjadi masalah. Dari pengalamannya berdagang kubis lebih dari 18 tahun, Haji Ahun mengatakan kubis dengan kepala yang kecil maupun besar sudah memiliki pasar sendiri-sendiri. Untuk pasar lokal, menurutnya, kubis dengan ukuran kecil (1,5 – 2 kilogram/crop) lebih diminati. Sedangkan kubis dengan ukuran besar (> 3 kg/crop) lebih disukai pasar ekspor.

“Pasar luar negeri utamanya Singapura lebih menyukai kubis yang besar dengan bobot minimal tiga kilogram. Tapi kalau harga kubis mahal, kubis yang besar juga dicari pembeli dari pasar lokal,” jelasnya saat ditemui Abdi Tani di rumahnya di Keramat Wangi, Cisurupan, Garut.

Dalam setahun, Haji Ahun biasanya mengi-rim kubis untuk pasar ekspor setiap lima hingga enam bulan sekali. Pengiriman ke pasar ekspor tersebut dilakukan terutama saat harga kubis di pasar lokal sedang jatuh. “Dulu pernah kirim saat harga di pasaran lokal hanya 100 hingga 200 rupiah perkilogram. Di pasar ekspor bisa dihargai 300 rupiah,” terangnya. Dalam setiap kali pengiriman, tidak kurang dari 100 ton kubis ia bawa ke pasar induk  Cibitung.

Petani untung, bandar  untung
Kepala padat dan bisa ditunda pemanenannya masih menjadi nilai positif yang disukai petani dan pedagang. Seperti yang diungkapkan oleh Haji Ahun di muka, kubis ini digemari petani karena bisa menghasilkan kepala yang lebih besar dan padat, sehingga lebih menguntungkan.

Sedangkan bagi pedagang seperti Haji Ahun sendiri kepala yang lebih juga memberi keuntungan baginya. Pasalnya, pasar ekspor yang menawarkan harga lebih baik semakin terbuka. “Saya lebih suka Balerina karena bisa menghasilkan kepala yang lebih besar dan padat, sehingga lebih tahan angkut dan bobotnya tidak mudah susut,” kata Haji Ahun.

Yang lebih menguntungkan lagi, lanjut Haji Ahun, kubis ini bisa ditunda panennya. Sehingga kalau harga saat ini jatuh, panennya masih bisa ditunda hingga sebulan atau sampai harga kubis lebih baik. “Istilahnya itu kalau menanam Balerina, petani untung, bandar pun juga ikut untung,” pungkasnya sambil tertawa.
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).