INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

NIKMATNYA UNTUNG MANIS SI KUNING MASTER
Dua kali panen, dua kali pula rasa puas itu kembali terulang. Itulah yang dialami oleh Hasyim Asy’ari, petani semangka asal Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kebumen, Jawa Tengah. Hasyim terhitung sudah dua kali berturut-turut merasakan hasil manis semangka Master yang ia tanam di sepanjang pantai selatan Jawa Tengah.

Lahan tempat Hasyim menanam semangka berdaging buah kuning produk dari Cap Kapal Terbang itu memang tidak jauh dari garis pantai selatan Jawa, tepatnya di kanan kiri badan jalan bersejarah Daendels bagian selatan Jawa Tengah. Karena terletak tidak jauh dari garis pantai, tipikal tanahnya pun lebih didominasi pasir. Sehingga tanahnya terlihat lebih gembur.

Dalam setahun, petani di wilayah itu bisa menanam semangka sepanjang tahun. Namun, yang lebih banyak tanam biasanya pada saat musim kemarau. Selain semangka, kebanyakan petani menanam jagung dan tanaman sayuran seperti terong dan cabai sebagai selingannya.

Saat awal mengenal semangka kuning Master, Hasyim hanya menanam 200 tanaman untuk dibandingkan dengan semangka kuning lainnya yang biasa ditanam petani di wilayah itu. Ternyata dari hasil percobaannya itu menurut penilaiannya semangka Master lebih unggul dari semangka kuning jenis lain itu.

“Daunnya lebih bagus dan lebih tahan dari serangan jamur. Waktu itu, tanaman semangka yang lain banyak yang terserang kresek (Downey Mildew), tapi Master tidak terserang. Padahal perawatannya juga sama,” ujar pria kelahiran Kebumen 1974 ini.

Dari hasil percobaannya itu, semangka Master-nya bisa dipanen dengan berat rata-rata 6 – 7 kg per buah. Menurut Hasyim, berat buah yang mudah diterima pasar berkisar antara 4 – 6 kg. “Kalau terlalu besar terkadang pedagang nggak mau,” terangnya.

Setelah hasil percobaannya itu membuahkan hasil yang memuaskan, ia pun langsung kembali menanam Master pada lahan yang lebih luas. Ia menanam sebanyak 6.000 tanaman. Hasil panennya pun menurut Hasyim juga sangat memuaskan. Total ia mendapat tidak kurang dari 50 ton. Hasyim mengaku bisa mendapat untung bersih Rp. 16 juta, saat itu harga semangka kuning di lahan Rp. 1.100/kg.

Tidak mudah pecah, rasa lebih manis
Salah satu ciri khas lahan berpasir tepi pantai adalah tidak mudah untuk menyimpan air. Sehingga saat matahari terik atau musim kemarau tanah tersebut akan mudah sekali kehilangan air dan suhu di permukaan tanah akan menjadi lebih cepat panas. Bagi tanaman yang kurang bisa beradaptasi dengan baik pada lingkungan semacam ini tentunya akan cepat mengalami gangguan pada saat pertumbuhan dan perkembangannya.

Namun tidak halnya dengan semangka Master. Menurut Hasyim, meskipun kondisi lingkungannya seperti itu tanaman dan buahnya masih bisa bertahan dengan baik. “Buahnya yang langsung bersentuhan dengan tanah berpasir tidak ada yang pecah, mungkin karena kulit buahnya lebih tebal sehingga lebih tahan pecah,” ujarnya.

Selain lebih tahan pecah saat di lahan, lanjut Hasyim, buah semangka ini juga lebih tahan simpan dengan rasa yang lebih manis dari biasanya. “Pedagang dari (pasar) Caringin sendiri sampai heran, koq semangkanya bisa lebih tahan dari yang lain dan rasanya juga lebih manis,” kisahnya.

Dari sini pula Hasyim bisa memasukkan semangka Master-nya ke pasar. Dengan kualitas buah yang tahan pecah dan tahan simpan serta rasa yang lebih manis, ia berani memberikan jaminan kepada para pedagang di pasar. “Waktu itu di pasar sedang banjir semangka karena pas musimnya. Saya kasih jaminan ke bakulnya kalau busuk barang bisa kembali, asalkan semangka Master dari saya itu dipisah dengan yang lain,” terangnya. Semangka miliknya itupun langsung laku keras di pasaran.

Pembentukan buahnya, kata Hasyim, juga lebih mudah. “Gampang menthil mas. Perkawinannya juga lebih gampang. Apalagi kalau pas musim hujan. Biasanya kalau nggak dibantu mengawinkan saat musim hujan, buahnya susah jadinya. Tapi Master nggak, buahnya gampang jadi,” terang bapak dua anak ini.

Perawatan standar, harga lebih mahal
Menurut Hasyim, mengembangkan semangka kuning dirasa lebih menguntungkan daripada semangka biasa (semangka merah). Pasalnya, dengan teknik budidaya dan perawatan yang tidak jauh berbeda dari biasanya, di pasaran buahnya dihargai lebih mahal dari semangka biasa. “Per kilonya minimal dihargai 300 rupiah lebih tinggi dari biasanya,” ujarnya.

Hal itu juga ditegaskan oleh Haji Mino, pedagang besar semangka asal Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, yang juga masih tetangga Hasyim. Menurut pedagang yang rutin memasok semangka ke sejumlah pasar besar di Jawa ini, harga semangka berdaging buah kuning seperti Master biasanya akan dihargai lebih mahal. “Rata-rata selisihnya Rp. 300 lebih mahal untuk satu kilogram buah,” terang Haji Mino yang tiap harinya bisa kirim 20 – 25 truk (kapasitas 5 ton) semangka ke pasar.

Haji Mino juga mengatakan kalau buah semangka Master lebih tahan pecah dan mudah sekali berbuah. Ia sendiri sampai dengan saat ini sudah mengirim Master ke pasaran hingga 200 ton. Pasar yang biasa menjadi sasarannya adalah Tasikmalaya, Pekalongan, Pemalang, Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Sragen, dan Surabaya.

“Tapi masing-masing pasar permintaan semangka kuningnya tidak sama. Kalau di Semarang dan Solo, permintaan semangka kuning seimbang dengan semangka merah. Misalnya semangka merah minta 2 ton, maka yang kuning juga minta 2 ton. Lain halnya dengan Jakarta, perbandingan merah dengan kuning bisa tiga berbanding satu,” jelas Haji Mino menggandeng tidak kurang dari 150 orang petani semangka sebagai mitra bisnisnya.

Di pasar sendiri, menurut Haji Mino, kelas semangka kuning hanya ada dua, yaitu kelas A dan kelas B. Kelas A diperuntukkan bagi semangka kuning yang memiliki berat minimal 4 kg/buah. Sedangkan jika kurang dari itu, maka langsung masuk kelas B dengan harga yang tentu lebih murah.

Lantas berapa harga pasar yang bagi petani semangka kuning seperti Hasyim ini bisa balik modal? Menurut Hasyim, dengan kondisi buah normal standar, kisaran harga Rp. 900 – 1.000/kg merupakan harga terendah baginya untuk bisa balik modal alias impas. Namun, kalau buahnya bagus harga segitu masih bisa memberikan untung.

Kalau dihitung-hitung, lanjut Hasyim, ongkos yang dikeluarkan untuk sebatang tanaman semangka kuning sekitar Rp. 2.000. “Itu harga saat pertama kali tanam dengan mulsa yang baru,” terangnya. Misalkan harga pasar hanya Rp. 1.000/kg, dengan berat rata-rata minimal 4 kg, maka petani sepertinya masih bisa meraup untung Rp. 6.000/buah. Padahal tiap tanaman biasanya minimal dibuahkan sebanyak dua buah sekaligus.

Perawatan Master yang diterapkan oleh Hasyim masih terbilang standar alias relatif sama dengan perawatan yang diterapkan saat menanam semangka pada umumnya. Baginya yang penting adalah pemberian pupuknya. Pasalnya, hal ini menurutnya sangat mempengaruhi besar kecilnya buah serta kualitas buah yang terbentuk.

Seperti untuk mencegah agar buah tidak mudah rontok dan pecah, ia biasa memberikan pupuk daun mikro Fitomic yang mengandung sejumlah unsur mikro yang dibutuhkan tanaman seperti kalsium (Ca) dan boron (B). Selain itu Hasyim juga memberikan pupuk kaya P seperti Multi-KP dengan cara dikocor di tanah atau disemprotkan melalui daun. “Prinsipnya saya tidak pernah memakai Urea, karena tanamannya bisa lemas dan buahnya jadi gampang pecah,” terangnya.

Sedangkan untuk membesarkan buah, pemupukan tetap diberikan setelah buah terbentuk sampai dengan tujuh hari menjelang panen (semangka Master mulai dipetik pada umur 64 hari setelah pindah tanam). Komposisinya masih kombinasi pupuk N (ZA) dan pupuk P dengan perbandingan 1 : 2. “Pemberiannya sebanyak dua kali setelah buahnya terbentuk. Cara pemberiannya dikocorkan dengan selisih 4 sampai 5 hari sekali,” jelas Hasyim.

Setelah dua kali berturut-turut merasakan manisnya untung semangka Master, ia pun sudah menyemaikan bibit Master tidak kurang dari 8.000 tanaman. “Ya karena kualitasnya bagus dan menguntungkan, saya memutuskan untuk kembali tanam Master,” pungkasnya. (AT : Vol. 10 No. 3 Edisi XXXVI, Juli - September 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).