INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SI GENJAH JAPONIKA TIDAK SULIT TEMBUS PASAR
Melon Japonika tergolong varietas melon yang masih baru. Sebagai pemain baru di pasar melon, varietas dengan umur panen yang lebih cepat (genjah) ini ternyata juga mampu bersaing dengan varietas-varietas melon yang lebih dulu ada di pasaran.

Kalau sudah di pasar, Japonika tidak ada bedanya dengan melon-melon lain yang sudah ada. Maksudnya, melon ini bisa diterima pasar dengan baik karena bentuk dan kualitasnya tidak kalah dengan melon lain. Demikian disampaikan Maryono (45), petani sekaligus pengepul melon asal Desa Kelurahan, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan Jawa Timur.

Menurut pria yang biasa memasok melon ke Pasar Induk Kramatjati Jakarta ini, buah melon Japonika memiliki ukuran (berat) sesuai standar dan permintaan pasar, rata-rata 2 kg/buah. “Ukuran yang umum diminta pasar berkisar dua sampai tiga kilogram per buah,” terangnya. Selain itu, bentuk netnya juga tebal dan sempurna. Maryono sendiri telah memanen dan mengirimkan melon Japonika ke Pasar Induk Kramatjati. Total, katanya, ia telah memanen sebanyak 30 ton, hasil dua kali tanam dari ladangnya sendiri. Semuanya ia kirim ke Kramatjati.

Sementara itu, Imam Hadi Sudarmanto (39), pedagang melon asal Desa Grogol, Kecamatan Sawoo Ponorogo Jawa Timur, yakin kalau buah melon Japonika bisa bersaing di pasaran. “Buahnya sudah ideal, sekitar 2,5 kilogram. Uratnya juga bagus, sesuai standar pasar. Saya yakin ini bisa bersaing di pasaran,” ucap pria yang rutin mengirim melon dan juga buah lain ke Pasar Induk Kramatjati saat melihat buah Japonika yang baru saja dipetik. Imam sendiri sudah cukup lama berkecimpung di pasar itu, ia pernah menyewa lapak di Kramatjati dari tahun 1989 sampai 1998.

Agus Setiawan (25), petani Japonika dari Desa Pauruan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengatakan bahwa melon Japonika miliknya lebih cepat laku. “Pedagang banyak yang suka. Karena buahnya lebih bagus, rasanya lebih manis, dan netnya tebal, sesuai permintaan pasar,” ucap Iwan.

Sejumlah petani melon dari Desa Katong, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah juga mengatakan pemasaran melon Japonika tidaklah sulit. “Pasarnya tidak ada masalah, karena ukuran buahnya sudah standar pasar, rata-rata 2,5 kilogram. Netnya juga bagus. Kalau di pasar yang penting adalah netnya. Kalau netnya bagus, pemasarannya pasti gampang,” ujar Rohaji (43), salah satu petani melon dari Katong yang rutin mengirim melon hasil panennya sendiri ke pasar induk Kramatjati Jakarta.

Hal yang sama juga disampaikan oleh rekan Rohaji lainnya di Katong, seperti Sinuwan (51), Sukardi (44), Sutiknyo (30), dan Sumarto (55). Mereka sepakat bahwa pasar Japonika terbilang sangat mudah. Alasan utamanya adalah kualitas buahnya sudah sesuai standar pasar.

Sejumlah petani melon dari Katong itu setiap kali panen melon langsung mengirimnya ke pasar induk Kramatjati tanpa melalui pengepul terlebih dahulu. “Kalau pas musim panen melon, tiap hari kirim minimal satu truk (± 6 ton) ke pasar induk (Kramatjati). Kami sudah memiliki kenalan di sana,” terang Sukardi.

Permintaan pasar masih besar
Jika membahas tentang peluang pasar melon, petani tidak perlu khawatir. Pasalnya, pasar melon masih sangat terbuka luas dan permintaan pasar cukup besar, terutama untuk melon berdaging buah putih. Tengok saja di pasar induk Kramatjati Jakarta. Menurut perhitungan Imam, kalau diamati tiap harinya melon yang masuk ke pasar terbesar di Jakarta ini berkisar 180 – 300 ton atau 30 sampai 50 rit (1 rit = 1 truk = 6 ton).

“Kalau pas sepi sekitar 30 rit sehari. Tapi kalau musim panen melon sehari bisa mencapai 50 rit,” jelas Imam. Menurutnya, melon yang masuk ke pasar induk dalam tempo tiga hari biasanya sudah habis dan berganti dengan barang yang baru.

Maryono juga mengungkapkan kalau pasar melon masih sangat besar. Bahkan ia mengaku sampai kewalahan memenuhi permintaan pasar. Itupun hanya pasar induk Kramatjati, belum pasar besar lainnya, seperti Cibitung, Muara Angke, Surabaya, dan Semarang. “Kiriman melon saya sampai kurang-kurang mas,” ujar mantan pegawai INKA Madiun ini. Saat musim panen melon, Maryono biasa mengirim ke Kramatjati sebanyak 20 ton atau 3 rit melon dengan tempo dua sampai tiga hari sekali.

Hingga saat ini, pasokan melon ke pasar masih didominasi dari daerah-daerah yang memang selama ini menjadi sentra melon, seperti Ngawi, Ponorogo, Kulonprogo, dan Grobogan. “Melon dari Nganjuk dan Banyuwangi juga sudah mulai masuk,” ujar Maryono.

Rohaji dkk. juga menyampaikan bahwa pasokan melon masih didominasi daerah-daerah yang selama ini memang menjadi sentra melon. Dari sejumlah sentra melon itu, menurut mereka, melon dari Banyuwangi, Ngawi, dan Grobogan memiliki kualitas yang lebih baik dari daerah lain dan menjadi pilihan favorit para konsumen. (AT : Vol. 10 No. 3 Edisi XXXVI, Juli - September 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).