INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

GELIAT SETABINDO DI TANAH DEWATA
Sebagai salah satu varietas semangka non biji, keberadaan Setabindo sudah begitu akrab bagi petani semangka di Pulau Dewata Bali. Bahkan, di salah satu kabupaten penghasil utama semangka di Bali, yaitu Jembrana, semangka ini menjadi salah satu pilihan favorit.

Semangka merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Jembrana, Bali. Pada tahun 2008 lalu, produksi semangka di kabupaten yang berada di belahan barat pulau Bali ini mencapai 236.402 ton dari total luasan panen 766 ha (www.jembranakab.go.id).

Menurut Nengah Sueri (56), salah satu pengepul besar dari delapan pengepul semangka di Bali yang biasa memasok ke pasar Denpasar kepada Abdi Tani mengatakan, semangka non biji dari kabupaten berpenduduk 269.729 jiwa ini sebagian besar dikirim untuk mensuplai permintaan pasar lokal Bali dan Jakarta yang cukup besar.

“Untuk pasar lokal Bali sebagian besar saya kirim ke Denpasar, terkadang juga ke Singaraja, dan Karangasem. Tiap pagi biasa kirim tiga desel (3 truk atau setara 18 ton-red.) ke Denpasar, sorenya kirim lagi tiga atau empat desel (setara 18-24 ton-red.). Kalau Jakarta rutin kirim 20 sampai 30 ton per hari,” terang Sueri saat ditemui di rumahnya di Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana.

Untuk memenuhi permintaan pasar itu, Sueri menggandeng sejumlah petani mitra untuk menanam semangka. “Petani saya sekitar 60 orang. Satu petani biasa menanam dua sampai lima hektar semangka (non biji). Jadi setiap kali panen bisa 50 sampai 60 ton per hari,” imbuh istri Wayan Mundia ini.

Pasokan semangka non biji ke pasar Denpasar dan Jakarta sendiri juga ditentukan oleh fluktuasi harga yang terjadi di dua pasar tersebut. Maksudnya, kalau harga di Jakarta lebih rendah, maka pasokan akan dialihkan ke Denpasar. Demikian juga sebaliknya. “Kita kirimnya tergantung pasar mana yang lebih tinggi harganya. Kalau Jakarta lebih tinggi ya kita kirim ke Jakarta. Tapi kalau Jakarta lebih rendah semuanya kita kirim ke Denpasar,” terangnya.

Daya tumbuh oke
Kebanyakan semangka yang dipasok ke pasaran adalah jenis semangka non biji atau seedless. Pasalnya, menurut Sueri, jarang sekali petani di Bali yang menanam semangka berbiji. Harganya juga lebih tinggi daripada semangka berbiji. “Harganya dua kali lipat semangka biji,” kata Sueri.

Ada sejumlah varietas semangka hibrida (F1) non biji yang berkembang di Jembrana, salah satunya adalah Setabindo. Karena merupakan varietas hibrida, maka produksinya bisa dipastikan lebih tinggi dari semangka biasa. “Bobotnya sekitar lima sampai tujuh kilogram per buah. Kalau per hektar rata-rata hasilnya sekitar 25 ton,” ucap Sunawi (28), petani Setabindo asal Desa Candi Kusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana.

Selain itu, lanjut Sunawi, semangka produksi PT. BISI International Tbk ini juga lebih gampang mengawinkannya. “Bunga betinanya lebih besar, sehingga lebih gampang untuk mengawinkannya,” ujar Sunawi.

Menurut Sueri, buah semangka Setabindo lebih tebal sehingga tidak mudah pecah saat pengiriman jarak jauh. Hal itu juga diamini oleh Sudanan (35), petani semangka yang satu desa dengan Sunawi. “Kulitnya lebih tebal dan tidak mudah pecah. Buahnya juga gampang besar,” ujar Sudanan.

Kadek Murtika (25), petani muda asal Desa Yembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana yang juga ‘maniak’ dengan Setabindo mengatakan, perawatan semangka ini lebih mudah. “Semangka ini lebih tahan air. Kalaupun sampai tergenang, masih lebih tahan dibanding jenis semangka non biji lainnya. Tanamannya lebih subur dan buahnya juga gampang besar. Kalau yang lain tanamannya bisa subur tapi buahnya sering kecil-kecil, nggak imbang dengan tanamannya,” ujarnya.

Sudanan juga menambahkan, kalaupun masa panen semangka Setabindo ditunda, hal itu tidak sampai mengurangi kualitas buahnya (masa panen normal Setabindo 60 – 65 hari). “Buahnya tetap bagus, tidak ngebog (daging buahnya berongga, sehingga saat dipukul kulit buahnya berbunyi bog-red.),” ucapnya.

Daya tumbuhnya, lanjut Sudanan, juga bagus, lebih dari 90 persen. Hal ini menurutnya sangat menguntungkan petani, karena resiko kerugian akibat benih yang gagal tumbuh bisa ditekan. Pernyataan serupa juga disampaikan Sunawi. “Sudah tidak masalah daya tumbuhnya, sudah lebih baik. Lebih dari 90 persen,” tegas Sunawi.

Soal pasar, kata Sueri, petani tidak perlu khawatir. Pasalnya, pasar sudah bisa menerima Setabindo dengan baik. Karakter buahnya, lanjutnya, sudah sesuai permintaan pasar. “Buah bulat, besar, kulit tebal, dan tidak mudah pecah,” terangnya. (AT : Vol. 10 No. 3 Edisi XXXVI, Juli - September 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).