INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

PETANI BELANGA, NAIK KELAS DENGAN SETABINDO
Jangan disangka istilah naik kelas hanya berlaku bagi para siswa ataupun bagi mereka yang sedang menempuh studi. Bagi petani pun istilah naik kelas juga berlaku. Terutama bagi petani semangka di Desa Belanga, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Bagaimana mereka bisa naik kelas? Ya, ini merupakan gambaran petani semangka di Belanga yang kini mulai beralih menanam semangka non biji (seedless). Peralihan kebiasaan ini menjadi nilai tambah bagi mereka. Pasalnya, semangka nonbiji memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding semangka berbiji yang selama ini mereka tanam.

Belanga merupakan salah satu desa yang berjarak sekitar 150 km arah tenggara Kota Tanjungkarang, Bandar Lampung. Awalnya desa ini menjadi bagian dari Kecamatan Palas, namun dalam perkembangannya kini desa Belanga secara administratif telah masuk ke dalam Kecamatan Sragi, Lampung Selatan.

Mungkin, siapapun yang mendengar nama Belanga akan langsung teringat dengan salah satu benda dapur yang digunakan untuk menanak sesuatu dan berhubungan dengan panas. Tapi, apakah memang Belanga benar-benar panas sepanas namanya? Tentu saja tidak. Pasalnya, penamaan desa ini juga tidak lepas dari sejarah yang menceritakan tentang kesatria Lampung yaitu “Si Kerbau Putih” yang juga berjuluk Radin Intan.

Alkisah, Radin Intan sering terselamatkan dari kejaran Belanda di desa ini. Ia dibantu oleh seorang nenek yang memiliki belanga besar sebagai tempat membuat kopra. Belanga itulah yang dijadikan tempat persembunyian si Radin tadi. Mungkin dari sinilah istilah Desa Belanga akhirnya terbentuk.

Sebagai salah satu desa yang bersejarah, sebagian besar wilayah Belanga dan sekitarnya, yang juga tidak jauh dari kawasan Rawa Seragi, didominasi areal persawahan. Penduduknya pun lebih terbiasa bercocok tanam padi dibanding komoditas pertanian lainnya.

Hingga pada tahun 2006 lalu, salah seorang tokoh dari Belanga yang bernama Riyanto ingin mencari komoditas unggulan selain padi yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Sehingga bisa meningkatkan penghasilan dan taraf hidup petani setempat. Hingga akhirnya pilihannya jatuh pada komoditas semangka.

Berkat kiprah Riyanto itulah, hingga kini banyak warga yang mengikuti langkahnya dalam mengembangkan tanaman semangka di Belanga. Dalam kurun waktu hampir empat tahun dan hanya dengan cara gethok tular, luas areal tanam semangka di sini sudah berkembang hingga 200 ha. Hanya saja, semangka yang dikembangkan petani adalah semangka berbiji dan didominasi oleh varietas Bangkok Flower dari Cap Kapal Terbang.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi para petani di Belanga lebih memilih untuk menanam semangka berbiji adalah penanaman dan pemeliharaannya tidak sulit. Dimana hanya dengan menggunakan cara tanam tradisional alias ala kadarnya dan perawatan yang juga seadanya, masih bisa menghasilkan buah dengan ukuran yang lumayan, menurut versi mereka.

Beralih ke nonbiji
Dalam perkembangannya, produksi semangka yang melimpah dari Belanga mulai menemui batu sandungan, terutama menyangkut pasar. Sejumlah pedagang pengepul yang biasa membawa semangka hasil panen petani Belanga mengeluh karena mulai sulit untuk memasarkannya. Pasalnya, pasar banyak menghendaki semangka nonbiji.

Selain itu, harga jual semangka nonbiji juga lebih baik dibandingkan semangka berbiji. Di Belanga, harga semangka berbiji per kilogramnya sekitar Rp. 800. Sedangkan semangka nonbiji dihargai lebih dari dua kali lipatnya, yaitu Rp. 1.800/kg. Dengan demikian jelas pendapatan petani bisa lebih besar jika bisa menanam semangka nonbiji.

Karena usaha tani semangka berbijinya menemui kendala, sekitar 30 orang petani semangka dari Belanga dengan difasilitasi salah seorang petugas PT. Tanindo Intertraco area Lampung Selatan, Indra, pada 12 Juni 2009 lalu melakukan kunjungan ke kantor Tanindo di Lampung. Hanya satu tujuannya, yaitu belajar budidaya tanaman semangka nonbiji varietas Setabindo.

Di sini, para petani mendapat penjelasan dan pengarahan seputar budidaya semangka nonbiji Setabindo, mulai dari teknis persiapan lahan, pemeraman benih, cara pemangkasan hingga pengelolaan pascapanennya. Petani juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan langsung cara pemecahan benih semangka nonbiji untuk memecahkan masa dormansi sebelum benih diperam.

Setelah mengetahui seluk beluk penanaman dan pemeliharaan semangka nonbiji, para peserta banyak yang mengatakan ternyata budidaya semangka nonbiji tidaklah sulit. ”Ternyata tanam semangka nonbiji itu gampang ya. Nggak seperti yang saya bayangkan selama ini,” ucap Riyanto, salah seorang peserta studi banding yang juga tokoh petani semangka di Belanga.

Para peserta studi banding juga diajak untuk melihat langsung fasilitas gudang dan cool storage yang digunakan untuk menyimpan benih sebelum dipasarkan agar kualitasnya tetap terjaga hingga ke tangan konsumen.

Kunjungan ke lokasi penanaman semangka nonbiji Setabindo adalah agenda terakhir dari sekian banyak rangkaian acara studi banding. Di sini peserta bisa melihat langsung semangka Setabindo milik Bani yang dua minggu lagi panen. Lokasinya terletak di Desa Sindangsari, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, tidak jauh dari kantor Tanindo. Dari sini para petani Belanga sudah banyak yang yakin untuk mulai beralih menanam semangka nonbiji Setabindo. Dan mereka telah menyatakan diri naik kelas yang lebih tinggi dalam budidaya semangka sebagai salah satu sumber penghasilan mereka.
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).