INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

JATUH CINTA PADA JAPONIKA SAAT PANDANGAN PERTAMA
Lahannya tidak begitu luas, kurang dari seperempat hektar. Tapi siapa sangka, dari lahan seluas itu bisa mendatangkan omset hingga puluhan juta rupiah bagi sang pemilik hanya dalam waktu sekali musim tanam atau sekitar dua bulan.

Ya, itulah yang telah dirasakan Edi Sugianto (30), petani muda potensial asal Dusun Donggi, Desa Ngrandu, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro, Jawa Timur. Edi (demikian ia biasa disapa) memang baru saja menambah pundi-pundi kekayaannya berkat hasil penjualan melon yang telah ia kembangkan di lahannya tersebut.

“Melon saya ini sudah diborong pedagang 24 juta (rupiah),” terang pria asli Bojonegoro ini saat ditemui Abdi Tani langsung di lahan melon miliknya yang baru sebagian dipanen. Dari 7.000 tanaman, yang sudah dipanen oleh si pemborong baru 4.000 tanaman.

Dari hasil panen tersebut Edi mengaku sudah bisa mengantongi keuntungan bersih 14 juta rupiah. “Untuk biaya tanamnya kemarin total saya habis 10 juta. Jadi kalau diborong 24 juta saya masih bisa untung 14 juta,” imbuhnya.

Kedungadem sendiri adalah salah satu kecamatan yang menjadi sentra penanaman melon di Bojonegoro. Tanahnya sedikit berkapur dengan tekstur cenderung liat dan sistem pengairannya hanya mengandalkan air hujan (lahan tadah hujan). Saat musim kemarau, kebanyakan petani menggarap ladangnya untuk ditanami tembakau. Kemudian saat memasuki musim hujan diganti padi dan melon.

“Lahan di sini tidak pernah bero (istirahat-red), terus-terusan diolah dan ditanami. Seperti ini misalnya, sebelum tanaman melon ini dipanen, di sela-selanya biasanya sudah saya tanami tomat.” ujar Edi sambil menunjuk salah satu lubang di sela-sela tanaman melon miliknya.

Edi sendiri sudah mulai menekuni usaha tani melon sejak dua tahun lalu. Alasan pria paruh baya ini memilih melon adalah karena keinginannya untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dari lahannya yang tidak begitu luas itu.

“Kalau ditanami melon, lahan segini kan sudah bisa mendapatkan hasil yang lebih besar dibanding kalau ditanami padi. Meskipun biayanya juga tidak sedikit, tapi masih imbang dengan penghasilan yang bisa didapat,” terang suami Umi Farida ini.

Kesengsem Japonika
Sejak awal tanam melon, Edi memang sempat mencoba beberapa jenis melon. Tapi akhirnya ia hanya mengandalkan benih melon produk dari Cap Kapal Terbang, yaitu Action dan Japonika. “Kalau Japonika kan masih baru, jadi saya baru tanam seribu tanaman,” kata Edi.

Menurut Edi, melon dari Cap Kapal Terbang sudah sangat gampang pemasarannya, terutama Action. “Action kan lebih dulu ada, dan sejak dulu buahnya memang disukai pasar. Yang penting net-nya bagus dan lembut, pasti pedagang langsung berani ambil,” terangnya.

Tak terkecuali melon Japonika yang termasuk varietas melon baru dari Cap Kapal Terbang. Meskipun masih baru, tapi menurut Edi hasilnya tidak kalah dengan Action. Net-nya bisa terbentuk sempurna, bahkan ukuran buahnya bisa lebih besar. “Kalau saya rata-rata, berat buahnya minimal bisa tiga kilogram,” ucap Edi sambil memegangi salah satu buah melon Japonika.

Di lahannya itu, dari 7.000 tanaman, ia memang baru menanam sebanyak 1.000 tanaman Japonika. Sisanya masih menggunakan Action. Tapi setelah melihat hasilnya, Edi langsung yakin kalau melon Japonika sangat bagus untuk dikembangkan.

Yang membuat Edi kesengsem dengan Japonika adalah tanamannya lebih tahan trotol (Downey mildew). “Itu sampeyan lihat sendiri, daunnya kan masih banyak yang utuh dan tidak banyak yang rusak. Padahal melon sampingnya sudah banyak yang trotolen,” terang Edi.

Selain itu, lanjut Edi, tanaman Japonika itu juga lebih hemat pemupukannya. Berdasar pengalamannya, melon Japonika miliknya hanya dipupuk dengan setengah dosis yang biasa ia terapkan pada saat tanam melon. “Lumayan, bisa diajak ngirit,” sambungnya sambil tersenyum. Bahkan, awalnya ia sempat khawatir tanamannya terlalu subur, karena daun Japonika terlihat lebih hijau pekat.

Masuk kelas super
Waktu Abdi Tani berkunjung ke sana, kebetulan tanaman melon Japonika yang sudah ditebaskan (diborong) masih belum dipanen semuanya. Memang, sangat jelas terlihat buahnya lebih besar dan berbobot dengan net yang sempurna. “Buahnya bisa langsung masuk kelas super. Biasanya yang seperti ini untuk kelas-kelas supermarket,” ujarnya sembari menunjuk salah satu buah Japonika yang beratnya kalau ditimbang sekitar empat kilogram.

Pemborongnya sendiri, ujar Edi, juga tidak ragu saat hendak memborong melon milik Edi ini, meskipun melon tersebut masih baru. “Mungkin karena tidak jauh berbeda dengan Action sehingga (pedagang) tidak ragu,” ungkapnya.

Seleksi buah lebih gampang
Satu hal lagi yang menurut Edi menguntungkan jika menanam Japonika, yaitu lebih mudah dalam melakukan seleksi buah yang hendak dipelihara hingga panen. “Karena buahnya banyak yang bagus, sehingga tidak perlu perlu susah-susah untuk memilih buah yang bagus untuk dipelihara sampai panen,” terang Edi.

Dalam satu tanaman, Edi hanya menyisakan dua buah melon yang akan dipelihara hingga masa panen. Biasanya yang dipelihara adalah dua buah yang muncul dari ruas ke-7 dan ke-8 atau ruas ke-9 dan ke-10. “Yang pasti buah di atas ruas ke-10 dibuang,” tegasnya. Meski begitu, tidak jarang juga ia merasa eman (sayang) saat harus membuang buah yang tidak dipelihara itu. Karena kualitasnya sama-sama bagus. “Terkadang juga eman waktu mau mbuwang,” imbuhnya.

Perawatan mudah umur genjah
Sama halnya dengan melon lainnya, tidak ada yang berbeda dalam hal teknis budidaya melon Japonika. Mulai dari semai bibit hingga perawatannya tidak ada yang berbeda. “Sama saja mas. Yang mungkin berbeda adalah pupuknya bisa lebih irit,” terang Edi. Mungkin cara penyemaian benihnya saja yang lebih unik dan sangat sederhana. Petani melon di Kedungadem biasa menyebut cara semainya dengan sebutan pelet.

Menurut Edi, setelah benih diperam selama sehari semalan, benih yang sudah muncul calon akar tersebut dipindah ke tray yang berisi pasir sungai sebagai media tanamnya. “Hanya pasir saja tidak ada campuran apapun, yang penting setiap pagi mendapat sinar matahari yang cukup,” terangnya.

Setelah lima hari di persemaian, maka akan muncul calon daun yang mulai mengembang tapi belum sempurna. Bibit yang daunnya belum membuka sempurna ini langsung dipindahtanamkan ke lahan. “Kalau terlalu lama di persemaian, bibitnya jadi gampang roboh dan patah karena batangnya nloler (memanjang karena mencari arah datangnya cahaya-red). Kalau lebih dini dipindah kan bibit bisa lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan dan tanamannya bisa tumbuh lebih kuat (vigornya lebih bagus-red),” ujar Edi.

Umur panen melon Japonika juga lebih pendek atau genjah, yaitu saat tanaman umur 60 hari setelah pindah tanam sudah bisa dipanen. Dengan demikian karena umurnya lebih genjah, maka lebih “genjah” pula untuk mendapatkan penghasilan dari bercocok tanam melon ini. Edi sendiri contohnya, dalam waktu dua bulan ia sudah bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp. 14 juta, atau per bulannya setara dengan gaji pokok seorang guru besar negeri.

Untuk musim tanam selanjutnya, dengan mantap Edi langsung berencana untuk menanami lahannya tersebut dengan melon Japonika. “Nantinya ini akan saya tanami Japonika semuanya, karena sekarang hasilnya ternyata bagus,” tegas bapak satu orang anak ini. (AT : Vol. 10 No. 3 XXXI, Juli - September 2009)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).