INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

PILIH MAHARANI KARENA GENJAH & HASIL MELIMPAH
Hidayat (39) baru pertama kalinya menanam kacang panjang Maharani, tanamannya pun juga masih berumur 85 hari (17 kali panen), namun ia sudah merasa yakin dengan prospek kacang panjang produk dari Cap Kapal Terbang ini. “Buahnya mah lebih bobot, padat, dan tidak berongga. Hasilnya sudah pasti lebih banyak dan yang membuat saya semakin yakin adalah di pasar bisa masuk kelas super,” ujarnya.

Maharani yang ditanam Hidayat itu menempati lahan yang tidak begitu luas, hanya sekitar 100 bata atau setara dengan 1.400 m2 (1 bata= ±14 m2). Sebenarnya petak lahan milik Hidayat itu total seluas 330 bata (hampir setengah hektar), namun sebagian besar ditanami jagung manis yang juga baru saja ia panen.

Menurut petani sekaligus guru SD yang beralamat di Kampung Cidaki, Desa Jalan Cagak, Kecamatan Jalan Cagak, Subang, Jawa Barat ini, sampai pada panenan yang ke-17, total ia sudah mendapatkan 1,3 ton kacang panjang segar. “Biasanya kacang panjang yang lain maksimal satu ton. Jujur ini sudah di luar perkiraan saya,” terangnya.

Bahkan ia sendiri berani memperkirakan kalau Maharani-nya itu bisa dipetik sampai 30 kali dengan selang waktu dua hari sekali. “Melihat tanamannya yang bagus seperti itu, petik sampai 28 atau 30 kali pasti bisa,” tegasnya. Jika bisa petik sampai 30 kali, Hidayat memperkirakan total panennya bisa mencapai 1,7 ton atau setara dengan 12 ton/ha. Tiap pohonnya, lanjut Hidayat, kacang panjang Maharani minimal bisa menghasilkan buah sebanyak 1,5 kilogram. “Tiap kali panen rata-rata saya bisa mendapat 1,3 kwintal,” tambahnya.

Yang membuat dirinya yakin bisa mencapai hasil panen sebanyak itu adalah karena sampai pada panenan yang sekarang ini bunga dan calon buahnya masih terus bermunculan. “Coba lihat ini, bunganya masih banyak yang muncul. Dan ini sudah mulai muncul buahnya,” ujarnya sambil menunjukkan tanaman Maharani-nya kepada Abdi Tani.

Menurutnya, Maharani memiliki karakter daun yang lebih lebat dari kacang panjang lainnya. Sehingga ia sedikit melakukan perompesan daun yang sudah tua dan daun yang dekat atau menutupi buah kacang. “Dengan pemangkasan ini umurnya bisa lebih panjang, karena tunas mudanya terus tumbuh. Di bekas pangkasan itu juga bisa muncul bunga dan buah lagi,” jelasnya. Selain itu, lanjutnya, dengan perompesan juga bisa membuat sirkulasi udara dan penyinaran matahari di sekitar lingkungan tanaman lebih baik sehingga pembentukan buahnya juga lebih sempurna.

Sedangkan untuk perawatan lainnya menurut Hidayat sama dengan kacang panjang lainnya. “Kalau bercocok tanam kacang panjang mungkin yang perlu diperhatikan pemupukannya. Kalau sampai tanaman kekurangan pupuk pasti buahnya nggak bisa bagus dan panjang,” terangnya. Yang penting, lanjutnya, adalah pemberian pupuk kandang. Menurutnya semakin banyak pupuk kandang yang diberikan saat pemupukan dasar, maka potensi hasilnya juga semakin banyak. Sedangkan untuk menjaga kelangsungan pembentukan buah, Hidayat menyarankan untuk menambahkan pupuk NPK.

Kelas super
Jika sudah masuk pasar, kacang panjang akan dipilah-pilah menjadi beberapa kelas atau grade. Di Jawa Barat, misalnya di Pasar Induk Cibitung, kacang panjang dibedakan menjadi tiga kelas utama, yaitu kelas super, kelas B, dan kelas cakra.

Kacang panjang bisa masuk kelas super jika memiliki ciri panjang, lurus atau tidak bergelombang, padat, mengkilat, dan ujungnya tidak bengkok. Sedangkan kelas B diperuntukkan untuk kacang panjang yang lurus, panjang, tapi ujungnya bengkok (seperti pancing). Dan jika kacangnya pendek, tidak padat, dan berbiji (bergelombang karena bijinya yang menonjol), maka akan masuk kelas cakra.

“Selisih harganya sekitar 200 sampai 300 rupiah per kilo,” ungkap Hidayat. Dengan demikian jika harga kacang panjang kelas super Rp. 3.000/kg, maka kelas B sekitar Rp. 2.800/kg, dan kelas cakranya berkisar Rp. 2.500/kg.

Lantas bagaimana dengan Maharani? Menurut Hidayat, lebih dari 90 persen hasilnya masuk kategori kelas super. Karena buahnya bisa panjang, padat, lurus, dan tidak bergelombang. “Yang lebih penting lagi buahnya lebih bobot dan panjangnya rata-rata 20 cm lebih panjang dari biasanya,” tambahnya. Selain itu, lanjutnya, rasa kacang panjang Maharani lebih lembut dan agak manis. “Saya pernah coba untuk bikin karedok, rasanya itu lebih lembut enak gitu,” terangnya.

Umur panen Maharani juga lebih genjah. Saat tanaman memasuki umur 35 hari setelah tanam sudah bisa mulai dipanen. Menurut Hidayat, panenan Maharani lebih stabil dibandingkan kacang panjang lainnya. Dalam artian, saat awal-awal panen hasilnya terus meningkat, kemudian setelah mencapai puncaknya akan cenderung stabil dan tidak banyak mengalami penurunan hasil. “Kalau yang lain biasanya setelah mencapai hasil panen yang tertinggi langsung turun drastis hasilnya,” ujar Hidayat. (AT : Vol. 11 No. 1 Edisi XXXVIII, Januari - Maret 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).