INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

BALERINA, MEMBERI NILAI LEBIH
Kubis yang satu ini bisa memberikan nilai lebih bagi penanamnya. Salah satunya, petani bisa mengatur waktu pemanenannya untuk menyesuaikan harga pasar yang pas sesuai keinginan.

Jika sudah tiba musimnya, Jajang Suhayat (39) dalam sehari minimal mengirim 75 ton kubis segar ke pasaran. Kubis-kubis tersebut biasa dikirim ke pasar induk Cibitung, Bandung, dan juga Kramatjati. Dalam setahun, pedagang sekaligus petani sayuran asal Desa Padasuka, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini mengatakan setidaknya ada dua kali penanaman kubis di wilayahnya, yaitu sebulan menjelang musim hujan dan dua bulan setelah musim hujan.

“Tidak tiap hari saya kirim kol (kubis-red.), hanya pas musimnya saja. Kalau pas musim cabai ya kirim cabai, kalau pas musimnya tomat ya kirim tomat. Biasanya kalau tanam kol itu sebulan sebelum hujan dan dua bulan setelah hujan, jadi setahun ada dua kali penanaman,” terang Jajang.

Tahan tunda panen
Meskipun sudah cukup lama menggeluti usaha tani sayuran khususnya kubis, sejak setahun terakhir ini ia tidak lagi menanam dan mengirim jenis kubis yang selama ini ia kembangkan. Ia beralih menggunakan kubis varietas baru dengan nama Balerina.

“Sudah tiga kali saya tanam. Yang terakhir ini saya tanam 70.000 pohon. Pertama kali mencoba 1.000 pohon hasilnya bagus, terus saya tanam lebih luas lagi sampai sekarang,” jelas bapak lima anak ini.

Jajang mengemukakan sejumlah alasan kenapa ia menjatuhkan pilihannya pada kubis Balerina. Yang utama, katanya, kubis produk dari Cap Kapal Terbang ini memiliki performa tanaman yang lebih baik dibanding kubis yang biasa ia tanam. “Pohonnya lebih baik, makanya sampai sekarang semua lahan saya tanami Balerina,” tegasnya.

Selain itu, umur tanamannya bisa lebih fleksibel. Maksudnya, lanjut Jajang, kubis ini bisa dipanen lebih cepat dari umur normalnya dan bisa juga ditunda. “Kalau Balerina, pas harga bagus bisa cepat dipanen. Dan kalau harganya jelek bisa ditunda sampai 130 hari. Buahnya juga lebih besar,” jelas Jajang. Keistimewaan itu menurutnya karena pembentukan crop Balerina lebih cepat dan mudah.

Dengan demikian, katanya, apabila harga kubis sedang bagus, ia bisa langsung memanennya. Begitu pula sebaliknya, apabila harga kubis di pasaran sedang anjlok, ia bisa menunda panen sambil menunggu harga yang lebih baik.

Memuaskan
Balerina yang kini dikembangkan oleh Jajang itu tak ayal mengundang rasa ingin tahu petani di sekitarnya. Katanya, banyak yang menanyakan tentang kubis ini. “Banyak yang melihat tanaman Balerina saya, dan mereka tanya ini kubis jenis apa. Mereka juga bilang kalau Balerina memang lebih bagus. Akhirnya, mereka juga ikut menanam Balerina sampai sekarang,” jelasnya.

Di wilayahnya, kata Jajang, sekitar 70 persen petani telah beralih menggunakan Balerina. Jajang sendiri juga mempunyai sejumlah petani mitra untuk mendukung pasokan kubisnya ke sejumlah pasar. “Ada sekitar 150 orang anggota. Sekali tanam, ada yang 25.000 pohon bahkan ada juga yang dua hektar (± 117.000 pohon-red) Balerina,” terang Jajang.

Menurutnya, selain karena tahan tunda panen, banyak petani menyukai Balerina lantaran lebih mudah perawatannya. “Pengobatan dan pemupukannya lebih mudah dan ringan. Karena tanamannya lebih baik dan tidak mudah terserang penyakit,” ungkap Jajang.

Sebagai seorang pedagang, Jajang juga lebih menyukai Balerina karena memiliki daya simpan yang baik. Sehingga ia pun merasa aman-aman saja jika kubisnya hendak dikirim ke luar kota sekalipun. “Daya simpannya bagus dan aman untuk pengiriman jarak jauh. Karena kepalanya keras dan tidak mudah pecah,” jelasnya.

Di pasar pun, lanjut Jajang, kubis Balerina juga tidak ada masalah. Karakter crop-nya sudah bisa memenuhi standar pasaran. Berat ideal per crop yang diminati pasar, kata Jajang, rata-rata sekitar 2,5 kilogram.

Untuk memenuhi standar ideal pasar tersebut, jelas Jajang, tidak akan sulit jika menanam Balerina. Pasalnya, berdasar pengalamannya, kubis ini bisa menghasilkan crop dengan berat rata-rata 2,5 – 3 kg. Bentuk crop-nya yang bulat juga sudah sesuai keinginan pasar.

“Panen yang pertama (sebanyak 1.000 pohon), saya dapat tiga ton, atau sekitar tiga kilogram per tangkal,” ujarnya. Bahkan, pada penanaman kedua sebanyak 100.000 tanaman, dimana separuhnya ditanam dengan menggunakan mulsa, rata-rata ia bisa mendapatkan hasil hingga 4 kg/tangkal. “Yang memakai mulsa malah ada yang tujuh sampai delapan kilogram. Yang pasti, sampai saat ini saya sudah cukup puas dengan kualitas Balerina,” imbuh Jajang. (AT : Vol. 11 No. 1 Edisi XXXVIII, Januari - Maret 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).