INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SI MANIS JUGA DISEMAIKAN
Rumahnya tidak begitu jauh dari pusat kecamatan Karangploso, tepatnya di Dusun Bunder Desa Ampeldaton Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang Jawa Timur. Hanya dibutuhkan waktu tidak lebih dari 10 menit dari pasar Karangploso untuk sampai di rumah Na’im, satu-satunya pemilik usaha pembibitan jagung manis di Karangploso.

Tepat di halaman samping rumah Na’im, nampak ribuan bibit tanaman (jagung manis dan cabai) tertata rapi di dalam plastik kecil seukuran es lilin. “Ini semua pesanan mas. Beberapa hari lagi diambil sama pemesannya,” ujar Na’im saat ditemui Abdi Tani di rumahnya.

Ukuran lokasi pembibitannya tidaklah begitu luas, hanya sekitar 2,5 m x 5 m. Namun menurut keterangan pria 63 tahun ini, usaha pembibitannya tersebut tidak pernah sepi dari pesanan. “Terutama jagung manis, pesanan bibitnya tidak pernah sela. Setiap hari selalu ada,” imbuhnya. Bahkan bapak dua anak ini sudah memiliki kalender atau jadwal penyemaian yang disesuaikan dengan jadwal penanaman si pemesan.

Karena orderan bibit jagung manis dan juga sayuran lainnya semakin banyak, pria yang juga sebagai ketua kelompok tani “Sumber Makmur I” ini membuka lokasi pembibitan baru yang tidak jauh dari kediamannya. Luasnya dua kali lipat lebih besar dari yang ada saat ini.

Belum ada duanya
Usaha pembibitan jagung manis milik Na’im ini sudah dirintis sejak empat tahun silam. Ide awal membibitkan jagung manis ini muncul saat ia mencoba beberapa cara bercocok tanam jagung manis yang bisa menghasilkan panenan optimal dan seragam.

“Awalnya saya coba tanam langsung dalam guludan (bedengan-red), tapi tumbuhnya kurang bagus dan tidak seragam, masih banyak yang perlu disulam. Kemudian saya juga nyoba bibitkan dulu dengan menggunakan tray, tapi hasilnya juga tidak banyak berubah. Sampai akhirnya saya coba cara pembibitan satu per satu dalam polybag seperti ini,” terang Na’im.

Menurut Na’im, dengan membibitkan satu per satu dalam kantong plastik kecil bisa mengurangi resiko kerusakan bibit saat pindah tanam, sehingga tidak perlu dilakukan penyulaman lagi. Selain itu, lanjutnya, karena bibit yang hendak dipindah tanam tersebut adalah bibit yang benar-benar bagus pertumbuhannya, maka tanamannya nanti akan bisa tumbuh bagus dan seragam.

“Sebelum ditanam di lahan kan dipilih dulu mana bibit yang bagus dan mana yang tidak bagus. Yang bagus ya langsung ditanam, dan yang tidak bagus tidak terpakai,” jelasnya. Menurutnya, bibit yang bagus dan layak tanam dapat dilihat dari pertumbuhannya yang seragam dan “postur” bibit yang tegak serta kokoh (vigor bagus).

Bahkan Na’im berani menjamin kalau bibit jagung manis disemaikan seperti yang ia lakukan, maka hasil panennya bisa bagus dan seragam. “Karena bibitnya kan sudah seragam, maka waktu pembentukan dan pemasakan bunganya juga bisa bersamaan. Akhirnya pembentukan tongkol jagungnya pun bisa serempak dan seragam,” jelasnya.

Pembibitan jagung manis seperti yang dilakukan Na’im ini terbilang masih jarang dilakukan. Umumnya petani melakukan penanaman benih langsung di lahan, layaknya menanam jagung biasa. Na’im sendiri juga mengatakan usaha pembibitan jagung manis di Karangploso hanya ada di tempatnya. “Kalau pembibitan jagung manis, saya satu-satunya di Karangploso,” terangnya.

Sederhana
Secara teknis, pembibitan jagung manis seperti yang dilakukan Na’im ini tidaklah sulit untuk diterapkan. Bahkan boleh dibilang sangat mudah dan sederhana. Sebagai medianya Na’im hanya menggunakan tanah tanpa campuran bahan lain. “Cukup tanah saja, tidak ada tambahan pupuk kandang atau yang lain,” terangnya. Sebelum dimasukkan ke dalam plastik-plastik kecil, tanah tersebut cukup digemburkan dan diayak tanpa perlakuan lainnya lagi.

Benih jagung pun tidak perlu diberi perlakuan yang rumit. Sebelum ditanam di dalam media semai, benih jagung manis direndam dalam larutan ZPT (zat pengatur tumbuh). “Setelah itu langsung ditanam dan disirami tiap hari,” imbuhnya.

Lantas, sampai umur berapa bibit tersebut bisa dipindahtanamkan ke lahan? Menurut Na’im, untuk menghasilkan bibit jagung manis yang siap tanam dibutuhkan waktu 10 hari di persemaian. Selama di persemaian, Na’im juga tidak memberikan pupuk tambahan apapun. Bahkan ia pun juga tidak melakukan penyemprotan pestisida untuk melindungi bibit jagung manis tersebut dari serangan hama dan penyakit. “Pokoknya hanya begitu saja caranya. Nggak ada perlakuan apapun lagi,” tegas bapak kelahiran Malang 63 tahun silam ini.

Tidak luas tapi lumayan
Meskipun tidaklah luas, pembibitannya tidak pernah sepi orderan. Menurut Na’im, tiap hari pembibitannya tidak pernah kosong, selalu penuh. Saat Abdi Tani melihat lokasi pembibitannya yang lama, yang berada persis di samping rumah, sudah tidak ada tempat lagi yang tersisa untuk bibit baru, istilah kerennya sudah full booked.

Kira-kira, berdasarkan hitungan kasar Abdi Tani sendiri, dengan ukuran 2,5 m x 5 m itu bisa menampung sekitar 10.000 bibit semai. Kalau sekarang Na’im sudah membuka lokasi pembibitan baru lagi dengan luasan yang dua kali lebih lebar, maka total kapasitasnya mencapai 30.000 bibit semai.

Per harinya, kata Na’im, untuk jagung manis saja rata-rata menghabiskan dua pack benih kemasan 250 g. Sehingga dalam sehari ia menyemaikan benih jagung manis tidak kurang dari 4.000 benih (rata-rata per pack berisi 2.000 benih).

Untuk harga jualnya, Na’im mematok dua harga yang berbeda, yaitu Rp. 50 dan Rp. 70 per bibit. Harga bibit Rp. 50 diberikan kalau si pemesan menyediakan benihnya sendiri. Sementara kalau si pemesan maunya terima jadi tanpa perlu repot menyediakan benih terlebih dahulu, maka harga jualnya ditambah Rp. 20 atau menjadi Rp. 70/bibit.

Dengan harga jual segitu, maka per bulannya omset pembibitan jagung manis ini sudah berkisar antara Rp. 4,8 juta hingga Rp. 6,7 juta. Jika dipotong harga bibit Rp. 30/bibit, maka laba kotornya berkisar antara Rp. 3,8 – 4,8 juta per bulan.

“Pokoknya kalau pembibitan yang ini (pembibitan yang ada di samping rumah-red) penuh, bisa dipastikan hasil bersihnya minimal satu juta. Lumayan untuk tambahan pendapatan,” ujarnya. Na’im sendiri hanya dibantu dua orang pekerja yang tidak lain adalah anggota keluarganya sendiri. “Istri dan anak perempuan saya yang membantu,” tambahnya.

Sweet Boy
Beda benih beda pula hasilnya, itulah yang disampaikan Na’im saat dimintai komentar tentang benih jagung manis apa yang menurutnya lebih menguntungkan. Namun dengan yakin ia menyebut produk benih jagung manis Sweet Boy sebagai salah satu benih andalannya.

Menurutnya ada sejumlah pertimbangan yang membuat ia yakin dengan benih jagung manis produk dari Cap Kapal Terbang ini. Pertama, jumlah benih yang bisa menjadi bibit layak tanam lebih banyak jika dibandingkan dengan jagung manis lainnya. “Per pack kalau Sweet Boy bisa memperoleh bibit layak tanam sekitar 1.800. Yang jenis lain, seperti yang baru saya semaikan ini hanya 1.632,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Na’im, bibit jagung manis Sweet Boy bisa lebih seragam dan serempak tumbuhnya. Sehingga tidak perlu banyak menyortir bibit yang jelek. “Kemarin saya bibitkan tiga pack (sekitar 6.000 bibit), yang tidak layak tanam hanya sekitar 150 an,” terangnya.

Hasil panennya juga lebih besar. Sebelumnya Na’im sendiri juga telah memanen jagung manis Sweet Boy di lahan miliknya yang seluas 1.400 m2. Dari lahan seluas itu ia bisa memanen jagung manis sebanyak 2,5 ton atau setara dengan hampir 18 ton/ha.

Dari hasil panennya itu Na’im juga mengaku sudah mendapat untung yang cukup besar. Saat itu, jagungnya dibeli dengan harga Rp. 1.700/kg. Sehingga uang Rp. 4,25 juta sudah berhasil ia pegang. “Pokoknya harganya tidak di bawah Rp. 700 per kilogram, petani sudah bisa untung,” jelas Na’im.

Dengan demikian, kalau melihat harga impas jagung manis (BEP, break event point) Rp. 700/kg, maka keuntungan bersih yang bisa diambil Na’im dari hasil panen tersebut sudah bisa langsung diperhitungkan. Paling tidak dalam waktu sekitar 2,5 bulan, ia bisa mendapat untung bersih sekitar Rp. 2,5 juta.

Na’im juga menyebutkan kalau usaha tani jagung manis dinilai lebih menguntungkan dibandingkan jagung biasa dan juga padi. “Umurnya lebih pendek, sehingga cepat panen dan cepat dapat untung. Istilahnya begini, sekali tanam jagung biasa atau padi itu sama dengan dua kali tanam jagung manis. Berarti keuntungan dari tanam jagung manis bisa dua kali lipatnya,” terangnya.

Di pasar, menurut Na’im, jagung manis Sweet Boy sudah bisa diterima. “Di pasar sayur Karangploso, jagung manis Sweet Boy sudah bisa masuk. Buahnya lebih besar, klobotnya tetap segar dengan warna hijau tua meskipun sudah lama di penyimpanan,” tambah Na’im. (AT : Vol. 11 No. 1 Edisi XXXVIII, Januari - Maret 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).