INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

TROPHY, TUMPUAN BARU PETANI CABAI KAWASAN MERAPI
Cabai telah menjadi salah satu komoditas andalan petani di kawasan Merapi, tepatnya di Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Dari sekian banyak varietas yang ada, cabai keriting Trophy kini menjadi tumpuan baru bagi petani.

Selain menyimpan kekayaan dan warisan budaya bernilai tinggi, Magelang juga memiliki potensi pertanian yang besar, khususnya dari subsektor hortikultura. Di salah satu kecamatannya, yaitu Dukun, tanaman sayuran khususnya cabai telah menjadi salah satu tulang punggung pendapatan petani yang tinggal di kawasan lereng Gunung Merapi.

Meskipun kepemilikan lahannya tidak luas, lahan mereka tidak pernah “nganggur” untuk selalu ditanami. Hal inilah yang menjadikan denyut nadi perekonomian petani setempat selalu berdetak.

Tanaman sayur, seperti cabai dan kubis-kubisan, memang masih menjadi pilihan utama petani Dukun. Sebab, secara geografis komoditas ini lebih sesuai. Selain itu, untuk ukuran lahan yang tidak terlalu luas, komoditas sayuran dinilai lebih ekonomis jika dibandingkan tanaman pangan, semisal padi atau jagung.

Menurut Suroso (45), cabai telah menjadi tanaman favorit petani sepanjang musim, baik itu musim kemarau ataupun musim hujan sekalipun. Hanya saja, memang susah untuk mencari petani cabai di kawasan ini yang menanam hingga berhektar-hektar.

“Di sini susah sekali mencari petani yang memiliki lahan yang luas hingga berhektar-hektar. Kebanyakan ya hanya beberapa petak dan berada di lereng-lereng gunung. Tapi, meskipun lahannya sempit, setiap waktu selalu ditanami cabai atau kubis,” terang Suroso yang juga menjadi salah satu ketua kelompok tani di Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah.

Kecenderungan petani Dukun memilih cabai karena komoditas ini dinilai lebih menguntungkan bagi mereka. “Harganya lebih bagus dibandingkan tanaman lain. Kalau cabai, harganya bisa bertahan lebih lama. Beda dengan tomat, tiap hari bisa naik turun,” ujar Suyono (40), salah seorang petani cabai asal Desa Kalibening, Dukun.

Suyono sendiri dalam sekali tanam cabai rata-rata tidak lebih dari 11.000 batang untuk luasan tanam sekitar 4.000 m2. Meskipun tidak luas, ia mengaku sudah lebih dari cukup untuk menjadi tumpuan hidup keluarganya. “Setiap saat saya selalu tanam cabai, karena sudah menjadi penghasilan keluarga sehari-hari,” jelasnya.

Cabai Trophy
Belum lama ini, petani di Dukun termasuk Suroso dan Suyono mencoba mengembangkan salah satu varietas cabai keriting bernama Trophy. Varietas ini merupakan salah satu produk dari Cap Kapal Terbang yang sangat adaptif untuk ditanam mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi.

Awal mencoba, Suyono dan Suroso mengaku cukup puas dengan performa cabai yang memiliki potensi produksi hingga 20 ton/ha ini. “Buahnya besar, panjang, dan lebih bobot. Hasilnya bisa dua kali lipat cabai (sejenis) lainnya,” ungkap Suyono.

Saat itu, Suyono hanya menanam tidak lebih dari 700 batang cabai Trophy, itupun juga hanya diselipkan di sela-sela tanaman cabai lainnya. “Karena waktu itu bibitnya kurang, jadi saya selipkan Trophy ini,” jelasnya.

Meskipun hanya sekedar “selingan”, cabai Trophy yang ditanamnya mampu memberikan hasil yang lebih banyak dari cabai lainnya. Dari 700 batang itu Suyono mengaku bisa memanen hingga 50 kg. Padahal, lanjutnya, biasanya cabai keriting lainnya tidak sampai segitu. “Biasanya dari 1.400 tanaman baru bisa dapat 50 kilo,” ujarnya.

Selain itu, menurut Suroso cabai keriting ini juga lebih tahan pathek, lantaran kulit buahnya lebih tebal. Hal ini juga menjadi nilai tambah bagi petani karena kualitas buahnya bisa tetap terjaga hingga panen.

Umur panennya juga lebih genjah. Jika cabai keriting yang biasa ditanam oleh petani Dukun baru dipanen pada kisaran umur 100 hari, maka cabai Trophy bisa dipanen 10 hari lebih cepat atau pada umur 90 hari. Meskipun hanya selisih 10 hari, bagi petani seperti Suyono hal itu sangat bermanfaat. Pasalnya, ia bisa segera mendapatkan penghasilan.

Suyono dan juga Suroso memang baru pertama kalinya mencoba menanam cabai keriting Trophy di musim kemarau. Mereka ingin mencoba menanamnya kembali di musim penghujan. Mereka merasa yakin cabai ini juga bisa tumbuh optimal di musim penghujan.

“Kalau saya lihat dari penampilan tanamannya, saya yakin hasilnya juga bisa bagus jika ditanam di musim hujan. Tanamannya memang berbeda, lebih bagus, batangnya padat dan keras, serta cabangnya tidak terlalu banyak,” tutur Suyono.

Apa yang sudah dilakukan oleh Suyono itu pun menggelitik rasa ingin tahu para tetangganya. Bahkan, kata Suyono, banyak yang tertarik untuk ikut menanamnya. “Banyak yang tanya ke saya ini bibit cabai apa kok bagus. Mereka banyak yang tertarik ingin menanam,” ucapnya. (AT : Vol. 11 No. 2 XXXIX, April - Juni 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).