INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

ENGGAN BERALIH DARI ACTION
Setelah puluhan tahun merasakan keuntungan bersama melon Action, petani melon Kulonprogo pun enggan untuk beralih ke varietas lain. Melon ini juga telah menjadi pilihan utama banyak petani di daerah sentra melon seperti Kulonprogo sendiri.

Kulonprogo merupakan salah satu kabupaten yang terletak di sepanjang pantai selatan provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Kabupaten ini menjadi salah satu penghasil utama melon di DIY. Di kabupaten ini pula berkembang beberapa sistem tanam melon, mulai dari sistem ajir hingga telasah layaknya semangka.

Sebagai salah satu sentra penghasil melon, tentunya banyak tercipta petani-petani melon yang sukses mengembangkan melon di Kulonprogo. Omset mereka, petani melon, bukan jutaan lagi melainkan puluhan juta, bahkan tidak sedikit yang menyentuh hingga ratusan juta rupiah.

Suprayitno misalnya. Petani asli Kulonprogo ini sejak tahun 1996 lebih memilih untuk menekuni usaha tani melon. Sebelumnya ia menggeluti usaha cabai dan bawang merah. “Karena hasil tanam melon lebih tinggi dibandingkan cabai atau bawang merah. Harganya juga lebih stabil,” terangnya saat ditemui Abdi Tani di rumahnya di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo.

Ia pun sejak awal tanam melon lebih memilih untuk mengembangkan varietas Action. Alasan utamanya, jelas Prayit, varietas ini terbukti berkualitas dan menguntungkan.

“Benihnya bagus, penampilan tanamannya juga meyakinkan, daunnya cukup tebal sehingga perawatannya lebih mudah. Ukuran buahnya bisa disetting sesuai keinginan, mau berat 2,5 atau 3 kiloan bisa,” kata Prayit. Ia menambahkan buah melon Action memiliki net yang tebal dan rapat, sehingga daya simpannya bisa lebih lama.

Tiap kali tanam, dengan menggunakan sistem tanam ajir, Prayit minimal ‘menghabiskan’ benih melon sebanyak 30 bungkus. Namun jika memasuki musim tanam, sekitar bulan Agustus, ia bisa menanam hingga 60 bungkus sekaligus.

“Setahun saya tanam empat kali dan tiap kali tanam minimal 30 pack,” tegas bapak dua anak ini. Dalam sekali panen rata-rata ia bisa mengantongi uang hingga Rp. 70 juta, atau dalam setahun omsetnya mencapai Rp. 280 juta.

Memang, sepanjang tahun petani melon Kulonprogo tidak pernah jeda untuk selalu tanam melon. Dalam setahun biasanya meraka menanam tiga hingga empat kali, dan puncak musim tanamnya terjadi pada kisaran bulan Agustus.

Keengganan Prayit beralih dari Action lantaran ia sudah merasakan untung manisnya berusaha tani melon produk dari Cap Kapal Terbang ini. Hingga saat ini, katanya, ia belum pernah merasa rugi mengembangkan melon ini.

Meski begitu, pada tahun 2004 ia pernah mengalami ‘bencana’. Hampir satu hektar melon Action miliknya yang menjelang panen terendam banjir, alhasil ia pun hanya bisa gigit jari. “Tapi setelah itu saya langsung tanam tiga hektar di lokasi lain yang lebih aman. Alhamdulillah, gagal panen satu hektar itu bisa diganti, bahkan bisa untung lipat dua kali. Sepertinya nggak ngerasa kalau habis gagal panen,” kenangnya sambil tersenyum.

Jerih payahnya mengembangkan Action selama bertahun-tahun akhirnya berbuah manis. Di garasi rumahnya sejak tujuh tahun yang lalu telah terparkir sebuah mobil station. “Mobil itu hasil panen Action tahun 2003,” imbuh pria 44 tahun ini. Ia pun akhirnya juga bisa membelikan anggota keluarganya sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari.

“Syukur alhamdulillah berkat tanam melon, khususnya Action, saya bisa menafkahi keluarga dengan baik. Dulunya tidak bisa apa-apa kini sudah bisa. Sampai sekarang saya masih sangat percaya dengan kualitas Action,” ucapnya.

Di lahannya, saat Abdi Tani berkunjung, hampir satu hektar melon Action miliknya sudah berumur 45 hari. “Nanti rencana mau dijadikan lokasi panen raya melon bersama Bapak Bupati Kulonprogo,” katanya.

Semi telasah
Di tempat lain, tepatnya di Desa Gulurejo, Lendah, Kulonprogo, Gunarto sudah lebih dari 22 tahun setia menggunakan Action sebagai varietas melon andalannya. Kakek dua cucu ini mengaku enggan untuk beralih dari Action lantaran buahnya lebih bobot dan kualitasnya bagus dan gampang pemasarannya.

“Dulu pernah ada varietas lain yang masuk dan banyak petani yang beralih menggunakannya. Tapi saya tetap ngeyel (ngotot-red) menggunakan Action. Ternyata setelah ditanam banyak yang tidak tumbuh, akhirnya mereka balik lagi ke Action,” terang mbah Gun, demikian sapaan akrab kakek 54 tahun ini.

Selain itu, lanjut mbah Gun, melon Action juga sangat cocok ditanam waktu musim hujan. Bahkan ia menyebut varietas ini satu-satunya andalan di musim hujan. “Kalau yang lain, kena hujan dua atau tiga kali tangkai buahnya mudah busuk. Akibatnya banyak buah yang jatuh dan busuk,” katanya.

Berbeda dengan Prayit, Gunarto sejak awal lebih banyak menggunakan sistem tanam melon semi telasah. Menurutnya sistem tanam ini lebih murah dibandingkan sistem ajir, tapi masih sedikit lebih mahal jika dibanding sistem telasah murni.

“Dengan sistem semi, biayanya Rp. 1,5 juta per pack benih. Kalau telasah murni hanya Rp. 1 juta, sedangkan dengan ajir bisa sampai Rp. 2 juta per pack. Selain lebih murah, kualitas buah yang dihasilkan dengan sistem semi ini tidak kalah dengan yang dihasilkan dengan sistem tanam menggunakan ajir,” jelasnya.

Yang membedakan dengan sistem ajir hanyalah ukuran ajir dan jarak tanam yang digunakan. Dengan sistem semi, ajir yang digunakan tingginya tidak lebih dari 60 cm, dan fungsi utamanya hanya untuk menggantungkan buah. Lain halnya dengan sistem ajir biasa yang tingginya bisa sampai 180 cm dan fungsinya selain menggantung buah juga sebagai tempat menjalarnya tanaman.

Jarak tanam efektif yang biasa digunakan Gunarto dalam sistem semi adalah 50 x 350 cm, atau dalam satu hektar lahan dibutuhkan benih sekitar 30 bungkus (populasi sekitar 15.000 tanaman). Sementara itu jika menggunakan ajir jarak tanamnya lebih rapat lagi, yaitu 50 x 60 cm atau setara dengan populasi 21.000 tanaman per hektar.

Menurut Gunarto, tanaman melon mulai dilanjarkan (diikatkan) pada ajir saat tanaman berumur 22 HST. Lantas selang delapan hari kemudian (30 HST) giliran buahnya yang digantungkan pada ajir setinggi 60 cm. Sementara itu sisa pertumbuhan tanaman dibiarkan menjalar di atas tanah.

Untuk perawatan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit, menurutnya tidak berbeda dengan sistem ajir. Pemupukan misalnya, ia hanya berpedoman, sebungkus benih membutuhkan pupuk satu sak (± 50 kg), yang terdiri dari NPK, TSP, dan KCl dengan perbandingan 4 : 2 : 1 dan dilarutkan dalam air. Aplikasinya dilakukan setiap tiga hari sekali hingga tanaman berumur 45 HST dengan dosis 1 botol kemasan 120 ml per tanaman. “Yang penting jangan pakai Urea. Meskipun bisa memperbesar buah tapi menurunkan kualitas daya simpannya. Setelah dipetik buahnya akan lebih cepat busuk,” pesannya.

Sedangkan untuk penyemprotan pestisida disesuaikan dengan kondisi tanaman. Namun, katanya, yang utama adalah penyemprotan fungisida dua hari sekali. Yang penting lagi, lanjutnya, untuk menjamin kualitas buah melon yang terbentuk ia menggunakan pupuk daun Fitomik yang disemprotkan mulai umur 15 HST hingga 50 HST.

Gunarto sendiri sepanjang tahun juga tidak pernah berhenti menanam Action, setidaknya ia tiga kali tanam melon dalam setahun. “Sekali tanam minimal satu hektar atau 30 kepek (bungkus-red) dan selalu dengan sistem semi telasah,” ujarnya.

Soal keuntungan dari menanam Action, secara diplomatis Gunarto mengatakan lebih banyak untungnya daripada ruginya. Sebab, menurutnya untung rugi itu sudah biasa bagi petani.

Namun demikian, omset hasil tanam melonnya rata-rata mencapai Rp. 70 – 80 juta tiap kali panen. “Pernah saya dapat hasil Rp. 120 juta padahal modalnya hanya 20 jutaan. Tapi pernah juga hanya dapat Rp. 16 juta, karena harga melon jatuh,” kisahnya.

Dari hasil usaha melonnya itu kini dia bisa memiliki satu unit truk yang ia gunakan untuk memperlancar penjualan melonnya ke pasaran. Pasalnya, selain jadi petani ia juga sebagai pedagang yang rutin menyuplai melon ke pasar induk Kramatjati, Bandung, Caringin, dan juga Padang.

Selain itu, ia juga memiliki lahan sawit seluas dua hektar di luar Jawa dan berencana berangkat haji tiga tahun lagi. “Bagi saya yang penting cukup, nggak perlu kaya. Alhamdulillah saya bisa mencukupi semuanya melalui usaha tani melon ini,” ujarnya. (AT : Vol. 11 No. 2 Edisi XXXIX, April - Juni 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).