INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

GUB. BANTEN LAKUKAN PANEN PERDANA PADI F1 INTANI-2
Untuk memperkenalkan sebuah teknologi baru kepada petani pasti membutuhkan waktu dan pembuktian nyata. Demikian pula pengenalan varietas padi hibrida di Ngrajeg, Tangerang, Banten. Untuk meyakinkan petani diperlukan pendekatan, pengawalan, dan pembuktian nyata bahwa varietas ini bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dari padi biasa.

Alhasil, petani pun bisa menerima introduksi teknologi baru ini setelah mengetahui hasilnya yang terbukti bisa lebih tinggi. “Selama ini beberapa petani bilang tidak suka padi hibrida, termasuk petani di sini. Tapi setelah kami lakukan pendekatan akhirnya ada yang mau menanamnya,” ujar Dirjen Tanaman Pangan Gatot Irianto saat memberikan sambutan dalam acara panen perdana padi hibrida Intani-2 hasil program SL-PTT di Desa Mekarsari, Ngrajeg, Tangerang (2/8).

Selain Dirjen Tanaman Pangan, juga nampak hadir Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Bupati Tangerang Ismet Iskandar, dan segenap pejabat eselon II terkait di lingkup Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.

Pemanenan padi hibrida di Mekarsari itu merupakan yang pertama kalinya dilakukan. Pasalnya, selama ini petani setempat hanya menggunakan varietas padi nonhibrida maupun lokal. Teknologi padi hibrida ini dikenalkan melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) pada Kelompok Tani Sadulur Bae Desa Mekarsari.

Varietas yang digunakan adalah padi hibrida Intani-2 produksi PT. BISI International Tbk, salah satu produsen benih terbesar di Indonesia yang terkenal dengan merk dagang Cap Kapal Terbang. Luas penanamannya 42 ha dan yang dijadikan lokasi panen merupakan Laboratorium Lapang atau LL seluas satu hektar yang menjadi bagian dari sekolah lapang tersebut.

Menurut Gatot Irianto, penggunaan varietas padi hibrida bisa jadi suatu hal yang mutlak harus dilakukan dalam upaya mendongkrak produktivitas per luasan lahan penanaman padi di Indonesia. Pasalnya, target swasembada pangan berkelanjutan telah menjadi harga mati yang harus bisa diwujudkan.

“Penduduk Indonesia tiap tahunnya terus bertambah sekitar 1,7 persen, sedangkan konversi lahan pertanian menjadi pabrik mencapai 100.000 hektar per tahun. Oleh karena itu untuk bisa terus swasembada pangan, satu-satunya jalan adalah dengan meningkatkan produktivitas dan frekuensi penanamannya. Karena untuk memperluas areal penanaman baru sudah sangat sulit dilakukan,” ujarnya.

Lebih lanjut Gatot menjelaskan bahwa hibrida merupakan teknologi baru yang memerlukan pengawalan agar hasilnya bisa optimal dan memberikan keyakinan kepada para petani. Ia juga menegaskan apabila padi hibrida dikelola dan dikawal dengan baik hasilnya bisa lebih bagus dan lebih menguntungkan bagi petani.

“Hasilnya bisa dilihat sendiri, bulirnya lebih besar, dan malainya lebih banyak. Oleh karena itu, kalau kita mau mengelola dengan baik maka padi hibrida panennya bisa lebih bagus, sehingga lebih menguntungkan. Selain itu juga bisa aman dari wereng,” tegas Gatot.

Sementara itu, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah menyatakan sangat mendukung penggunaan varietas padi hibrida di kalangan petani. Karena terbukti memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi, sehingga bisa meningkatkan produksi dan menambah penghasilan petani.

Hingga akhir tahun 2010 ini, terang Atut, produksi padi di Provinsi Banten ditargetkan bisa mencapai 2 juta ton GKG (gabah kering giling). Ia mengaku optimis bisa mencapainya, karena menurutnya berdasarkan data yang ada telah terjadi peningkatan luasan panen dan peningkatan produktivitas padi di provinsi paling ujung barat dari Pulau Jawa ini.

Berdasarkan hasil pengubinan yang dilakukan oleh petugas PPL bersama kelompok tani setempat, dari tiga sampel yang diambil diperoleh hasil panen rata-rata sebanyak 8,6 ton/ha GKP (gabah kering panen). Hasil itu lebih tinggi sekitar 3,5 ton/ha dari padi nonhibrida yang biasa dipanen petani.

Menurut Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi Hasil Sembiring di lokasi panen mengatakan, hasil panen padi hibrida Intani-2 tersebut dinilai masih cukup bagus. Hal ini mengingat kondisi musim akhir-akhir ini yang cenderung menjadi pemicu peningkatan serangan hama penyakit utama pada tanaman padi.

“Kalau saya amati, tanaman padi hibrida ini masih tergolong bagus. Coba lihat, dalam kondisi lingkungan seperti saat ini, tanamannya masih bisa tumbuh dengan baik. Tidak ada yang terkena kresek sama sekali dan hasilnya juga masih lumayan, lebih dari delapan ton per hektar,” ujar Hasil Sembiring.

Sementara itu, Presiden Direktur PT. BISI International Tbk Jemmy Eka Putra menyebutkan bahwa peningkatan hasil padi hibrida Intani-2 lebih dari tiga ton per hektar dibanding padi nonhibrida itu sudah bisa memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani sendiri.

“Dengan tingkat produksi yang lebih tinggi sekitar tiga setengah ton dan tadi harganya sekitar Rp. 3.300/kg, maka perbedaannya sudah mencapai Rp. 10 juta per hektar antara hibrida dan nonhibrida,” terang Jemmy. (AT : Vol. 11 No. 3 Edisi XL, Juli - September 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).