INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

COCOK DATARAN RENDAH & ANDAL DI MUSIM BASAH
Selama ini dataran tinggi lebih identik sebagai kawasan pengembangan aneka macam sayuran. Namun demikian, sayuran khas dataran tinggi seperti kubis-kubisan kini mulai banyak dikembangkan di dataran menengah ke bawah. Salah satunya adalah varietas kubis Grand 22.

Kawasan dataran tinggi atau pegunungan memang identik sebagai penghasil aneka macam sayuran. Namun, dataran rendah hingga menengah pun kini juga mulai banyak dikembangkan sebagai sentra sayuran khas dataran tinggi, seperti: kubis-kubisan, cabai, dan tomat. Tentunya dengan menggunakan varietas yang telah diadaptasikan pada kondisi klimatologis dataran rendah.

Munculnya isu lingkungan yang menyangkut resapan air dan erosi di kawasan dataran tinggi telah menjadi salah satu benturan pengembangan sayuran dataran tinggi. Oleh karenanya, penanaman sayuran kini juga mulai dikembangkan di dataran rendah.

Salah satu varietas sayuran yang kini mulai banyak dikembangkan di kawasan dataran rendah hingga menengah adalah kubis Grand 22. Salah satu varietas kubis keluaran Cap Kapal Terbang ini sudah cukup lama menjadi andalan petani sayuran di Blitar, Jawa Timur. “Saya sudah sejak 1996 mengembangkan Grand 22,” ucap Pamuji, salah satu petani kubis di Desa Gandekan, Wonodadi, Blitar.

Andal di musim basah
Tahun ini, berdasarkan prediksi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) musim kemarau yang terjadi diprediksikan akan berlangsung lebih basah, dalam artian hujan masih akan tetap mengguyur meskipun intensitas dan frekuensinya tidak setinggi saat musim penghujan. Bagi petani sayuran hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam bercocok tanam. Pasalnya, kondisi lingkungan yang hangat dan lembab menjadi salah satu faktor pemicu tingginya tingkat serangan hama penyakit pengganggu tanaman.

Begitu juga dengan petani kubis. Ongkos yang harus dikeluarkan untuk bercocok tanam di musim basah secara kumulatif lebih mahal dibandingkan saat musim kering, terutama ongkos perawatannya. Untuk menyiasati agar bisa tetap bercocok tanam, memilih varietas yang dinilai lebih adaptif dalam kondisi lingkungan yang lembab sekaligus hangat menjadi solusi terbaik.

Hal ini pula yang dilakukan oleh petani kubis seperti Pamuji. Mereka menyesuaikan kondisi lingkungan dengan bercocok tanam varietas yang sesuai. Mereka menanam varietas yang berbeda untuk ditanam di musim yang berbeda pula. Sehingga sepanjang tahun bisa terus bercocok tanam komoditas keluarga Brassicae ini, sekalipun di musim penghujan.

Selama musim basah, petani kubis di Blitar lebih banyak menggunakan varietas Grand 22 lantaran lebih adaptif. “Kubis ini lebih tahan penyakit saat musim hujan dan hasilnya juga bagus,” ujar Pamuji.

Kendala utama bercocok tanam kubis di musim yang basah menurut Pamuji adalah serangan busuk daun atau petani setempat menyebutnya dengan istilah kresek. Katanya, kubis yang biasa ia tanam di musim kering kurang tahan terhadap serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur Alternaria brassicae ini.

Kubis ini juga lebih toleran terhadap serangan Xanthomonas. Bakteri ini umumnya menyerang daun kubis dan lebih banyak terjadi saat musim hujan. Daun kubis yang terserang akan berubah menjadi kuning pada bagian tepi daun dan biasanya membentuk seperti huruf V.

Selain lebih tahan penyakit, kubis ini juga mampu menghasilkan krop atau kepala dengan berat rata-rata 1,5 hingga 2,5 kg. “Kepalanya lebih padat, sehingga tidak mudah pecah dan lebih bobot. Kalau yang lain meskipun lebih besar tapi tidak bisa padat,” terang ketua kelompok tani Wahana Citra Tani ini.
Hal itu juga dibenarkan oleh Mustangin, petani kubis lain di Gandekan. Menurutnya, kubis ini memiliki bentuk kepala yang bulat pipih, kompak, dan sangat keras. “Umur 70 hari sudah bisa dipanen dan sangat cocok untuk ditanam di musim hujan atau basah,” ujarnya.

Perawatannya kata Pamuji juga tidak rumit, sama seperti bercocok tanam kubis pada umumnya. Hanya saja, tiap kali tanam kubis pupuk yang diberikannya selalu dalam bentuk cair atau sistem kocor. “Hal ini agar pupuknya cepat diserap tanaman dan tidak banyak terbuang percuma,” terangnya.

Andalan pasar lokal
Karakteristik crop kubis Grand 22 yang bulat pipih, padat, dan keras ternyata lebih diminati pedagang, terutama pedagang yang biasa memasok pasaran lokal, seperti: Blitar, Magetan, dan Surabaya. Dari keterangan Pamuji, pedagang kubis lebih memilih kubis ini lantaran ukuran buahnya sangat sesuai dengan selera pembeli.

“Ukuran buahnya nggak terlalu besar, cocok dengan selera pembeli di pasar lokal. Yang ukurannya lebih besar justru kurang disukai. Buktinya, baik itu saat harga kubis murah ataupun mahal, kalau untuk pasaran lokal, Grand 22 lebih banyak dicari pedagang,” kata Pamuji.

Terkait hal itu, tambah Pamuji, tidak jarang petani kubis di daerahnya yang harus menanggung rugi lantaran kubis yang ditanamnya tidak sesuai permintaan pasar. “Ada yang tanam selain Grand 22, tujuannya biar bisa masuk pasar luar karena ukurannya lebih besar. Namun, begitu pasar luar tidak menerima dan dicoba untuk dijual di pasar lokal, jelas tidak laku. Akhirnya, daripada dibuang percuma, kubis itu pun dipakai untuk pakan ternak,” kisahnya.

Selain faktor ukuran, kepalanya yang padat dan keras juga menjadi ciri yang disukai pedagang. Pasalnya, kepala yang keras dan padat menjadikannya lebih tahan simpan dan sesuai untuk pengangkutan jarak jauh. (AT : Vol. 11 No. 3 Edisi XL, Juli - September 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).