INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

JAGO SEGALA KONDISI
Varietas yang adaptif dalam berbagai kondisi lingkungan dan berproduktivitas tinggi akan menjadi pilihan utama saat ini. Demikian halnya dengan varietas jagung hibrida BISI-12. Jagung ini lebih disukai lantaran mampu tumbuh optimal meskipun dalam kondisi lingkungan basah maupun kering, bahkan di lingkungan dengan kadar garam tinggi sekalipun.

Kondisi iklim yang tidak menentu nampaknya telah menjadi tantangan utama yang harus dihadapi petani dalam bercocok tanam. Tidak terkecuali komoditas pangan terpenting kedua, yakni jagung. Menteri Pertanian RI Suswono bahkan menyebutkan dampak perubahan iklim telah nyata menyebabkan penurunan produksi jagung di Indonesia.

Tahun ini kemarau yang terjadi diprediksikan akan berlangsung lebih basah, dalam artian hujan sesekali akan tetap mengguyur. Tentunya bagi petani palawija, khususnya jagung, yang biasanya selalu nyaman bercocok tanam di musim yang kering, harus ‘berjuang ekstra’ agar tanaman budidayanya tetap bisa menghasilkan.

Salah satu cara menyiasati hal itu adalah dengan menggunakan varietas yang toleran terhadap kondisi lingkungan seperti itu. Seperti yang dilakukan Suroso, petani jagung dari Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur. Ia tetap menanam jagung meskipun kondisi lingkungannya cenderung basah dan kurang ideal.

“Daerah saya ini sering terendam kalau hujan,” jelas Suroso. Dengan kondisi lingkungan seperti itu, ia pun tidak sembarangan menanam varietas jagung. Varietas yang adaptiflah yang dipilih, salah satunya adalah jagung hibrida BISI-12, produksi PT. BISI International Tbk.

Saat ditemui di ladang jagung BISI-12 miliknya yang siap panen, Suroso mengaku sangat puas dengan hasilnya. “Menurut saya, jagung ini sudah cukup baik. Apalagi ditanam dalam kondisi hujan seperti ini. Petani di sini sami nggumun (banyak yang heran-red.), kok bisa bagus, padahal sering terkena air,” terangnya.

Ia juga menyebutkan, BISI-12 lebih tahan penyakit, khususnya bulai (Downey mildew). “Tanaman saya ini, mulai dari umur nol sampai dewasa tidak ada kendala penyakit sama sekali,” imbuh Suroso.

Ada satu hal yang membuat Suroso merasa sangat cocok dengan jagung hibrida yang memiliki potensi produksi 12,4 t/ha pipil kering ini, yakni perawatannya lebih mudah dan ringan. “Yang saya suka ya ini, perawatannya lebih ringan, mudah dipupuk dan mudah dirawat. Hasilnya juga lebih bagus,” katanya.

Adaptasi lebih luas
Berdasarkan hasil riset Riset dan Pengembangan (RD) tanaman jagung PT. BISI, jagung hibrida BISI-12 merupakan salah satu varietas yang terbukti lebih adaptif dengan berbagai kondisi lingkungan, seperti kekeringan maupun basah.

Bahkan dalam kondisi tanah dengan tingkat salinitas atau kadar garam yang tinggi, jagung ini masih bisa berproduksi optimal. “Dari hasil uji tanam di lahan salin yang ada di Jenu, Tuban, BISI-12 terbukti paling toleran dibanding varietas hibrida lainnya. Hasilnya juga masih cukup tinggi, lebih dari tujuh ton per hektar pipil kering,” ujar salah seorang staf ahli tim RD jagung PT. BISI kepada Abdi Tani.

Dalam kondisi lingkungan ideal, potensi produksinya bisa mencapai 12,4 ton/ha pipil kering. Potensi produksi yang tinggi itu didukung oleh bentuk dan ukuran tongkol yang besar dan panjang, bijinya bisa mengisi penuh sampai ujung.

Janggelnya juga kecil dan bijinya menancap dalam sehingga rendemennya tinggi. Kelobotnya mampu menutup sempurna, sehingga bisa mencegah terjadinya serangan busuk tongkol, terutama saat musim hujan.

Karakteristik tanamannya kokoh, batangnya besar, dan seragam, sehingga lebih tahan roboh. Hal ini sangat memungkinkan penanaman dengan jarak tanam yang lebih rapat. Daunnya juga bisa tetap hijau (stay green) meskipun telah memasuki masa panen, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. (AT : Vol. 11 No. 3 Edisi XL, Juli - September 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).