INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

SIAP DUKUNG PROGRAM GEMASIH 800 HA
Sebagai salah satu kabupaten baru di provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Gayo Lues saat ini tengah berupaya untuk mengejar ketertinggalan pembangunan daerahnya dari daerah-daerah lain. Salah satunya melalui pengembangan sektor pertanian, khususnya tanaman pangan dengan menanam hingga 800 ha jagung lewat program Gemasih.

Menurut Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim, sektor pertanian memegang peran penting dan menjadi kunci percepatan pembangunan kabupaten yang secara resmi berdiri pada 2 Juli 2002 ini. Pasalnya, karakteristik dan topografi wilayah Gayo Lues sangat sesuai untuk pengembangan pertanian. Dari luas wilayah 5.719 km2 atau sekitar 571.958 ha, sebagian besar telah masuk dalam ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser yang dicanangkan sebagai salah satu warisan dunia, dan sekitar 20 persennya atau 105.310 ha yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian ataupun perkebunan.

Dari segenap komoditas pertanian potensial di kabupaten yang beribu kota di Blangkejeran ini, tanaman pangan masih menjadi perhatian utama pemda setempat. Karena, komoditas ini memegang peran strategis dan menjadi salah satu parameter pemenuhan kebutuhan pangan dan kesejahteraan masyarakatnya, Bupati Ibnu Hasyim menyebutnya sebagai komoditas politis yang apabila tidak terpenuhi akan mengganggu stabilitas nasional.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues, luas penanaman komoditas pangan sepanjang 2007 lalu mencapai 9.125 ha. Dimana 96 persen atau 8.850 ha merupakan luas areal penanaman padi dengan total produksi 33.946 ton, sedangkan sisanya, 275 ha, adalah areal penanaman jagung dengan total produksi sebesar 897,7 ton.

Ibnu Hasyim menyebutkan, saat ini pihaknya tengah menggalakkan sebuah program yang diberi nama Gerakan Masyarakat Petani Sejahtera (Gemasih). Program tersebut menitikberatkan pada pemanfaatan lahan tidur yang ada di kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Aceh Tenggara ini untuk ditanami komoditas jagung.

Menurutnya, luas lahan tidur yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Gayo Lues mencapai 20.000 ha yang apabila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik akan mampu mengangkat perekonomian masyarakat dan petani setempat. Selain itu, hal ini juga sebagai sarana untuk meningkatkan produksi dan produktivitas jagung di kabupaten yang berpenduduk 74.151 jiwa ini.

Hingga saat ini, lanjut Hasyim, tingkat produktivitas jagung di Gayo Lues masih sangat rendah, sekitar 3 ton/ha. “Produktivitasnya masih jauh di bawah rata-rata produktivitas jagung nasional (yang mencapai) empat hingga lima ton per hektar,” terang Hasyim saat memberikan sambutan dalam rangkaian acara panen raya jagung super hibrida BISI 816 di Blangsere, Kecamatan Kuta Panjang.

Masih tingginya penggunaan varietas jagung lokal ataupun komposit ditengarai sebagai salah satu penyebab utama rendahnya tingkat produktivitas jagung di kabupaten yang berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan ini. “Dari luasan jagung yang ditanam oleh petani kita di Gayo Lues ternyata 60 persennya masih didominasi oleh varietas lokal dan komposit,” tambah Hasyim.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Gayo Lues Amarullah Leman mengatakan, kelemahan utama varietas lokal terletak pada tingkat produksi dan produktivitas tanamannya yang sangat rendah. Selain itu, performa tanamannya juga tidak seragam, sehingga kualitas hasilnya pun terbilang rendah.

Oleh karena itu, pemerintah daerah Gayo Lues mencoba menggalakkan penggunaan varietas jagung hibrida di kalangan petani Gayo, salah satunya melalui program Gemasih tersebut. Untuk anggaran tahun 2010 ini, luas areal penanaman jagung melalui program ini diharapkan bisa terealisasi hingga 800 ha.

Menurut Leman, varietas jagung hibrida lebih dipilih lantaran memiliki karakteristik yang jauh lebih baik dibandingkan varietas lokal maupun komposit. “Performa tanamannya lebih bagus, tanaman dan buahnya seragam. Yang penting lagi, produktivitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan jagung lokal, sehingga bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi petani,” ujarnya.

Panen Perdana Jagung Super Hibrida BISI 816
Sebagai salah satu produsen benih jagung hibrida terbesar di Indonesia, PT. BISI International Tbk siap memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan jagung hibrida di Gayo Lues. Hal itu disampaikan oleh Area Manager PT. Tanindo Intertraco (anak perusahaan PT. BISI) Sumatera Bagian Utara Lukman Hadi di sela-sela acara Panen Perdana Jagung Super Hibrida BISI 816 di Desa Blangsere, Kecamatan Kuta Panjang (1/5).

“Kita siap memberikan support pembudidayaan jagung (hibrida) ini dan menjamin pemasarannya,” tegas Lukman. Dari hasil pengamatannya ke sejumlah daerah, Gayo Lues memiliki potensi yang besar untuk pengembangan tanaman jagung.

Sementara itu, dalam gelaran acara Panen Perdana Jagung Super Hibrida BISI 816 di Blangsere tersebut, Bupati Gayo Lues H. Ibnu Hasyim menyempatkan diri untuk hadir langsung dengan didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues Amarullah Leman, dan segenap unsur Muspida serta Muspika.

Panen perdana jagung super hibrida BISI 816 itu menurut Hasyim sebagai langkah awal sekaligus menjadi contoh penanaman jagung di Gayo Lues. Selain itu juga sebagai menjadi media untuk mengajak masyarakat agar turut serta membudidayakan jagung hibrida ini.

Selain itu, lanjut Hasyim, ini merupakan salah satu rangkaian dari upaya pemerintah daerah dalam menggalakkan penanaman jagung melalui program Gemasih yang dilakukan secara bertahap. “Untuk tahapan pertama seluas 200 hektar, selebihnya, 400 hektar masuk pada tahapan kedua atau pada saat memasuki masa tanam pertengahan bulan September,” jelasnya.

Dari hasil pengubinan, BISI 816 yang ditanam di lahan seluas satu hektar milik Bupati tersebut bisa menghasilkan hingga 10,5 t/ha jagung pipil kering panen. Menurut Leman, hasil tersebut sangat menggemberikan dan tentunya juga sangat menjanjikan bagi petani Gayo Lues. “Dalam program Gemasih target kita hanya 6 ton jagung per hektar. Tapi dengan contoh jagung BISI 816 ini, maka akan diperoleh kelebihan target yang cukup besar,” ujarnya.

Hasyim juga mengapresiasi performa tanaman jagung super hibrida BISI 816 tersebut. Menurutnya, selain memiliki produktivitas yang tinggi, jagung ini juga tahan terhadap serangan penyakit bulai, hawar daun, dan karat daun.

“Yang lebih penting lagi, jagung hibrida BISI 816 ini sangat adaptif dan cocok ditanam di dataran tinggi Gayo Lues. Hal ini juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dalam mengelola hutan dengan motto Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera,” terang Hasyim. (AT : Vol. 11 No. 3 Edisi XL, Juli - September 2010)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).