INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

DENGAN PENGAIRAN SUMUR DANGKAL, BISI 816 BISA CAPAI 15,4 TON PER HEKTAR
Di tengah gejolak musim yang tidak menentu, hujan berkepanjangan, jagung super hibrida BISI 816 masih bisa berproduksi optimal. Di Sragen misalnya, lahan jagung BISI 816 seluas 40 ha dengan sistem pengairan sumur dangkal bisa berproduksi hingga 15,4 ton per hektar pipil kering panen.

Pada awal Oktober lalu (8/10/10) Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (Dirjen PLA) Kementerian Pertanian RI Hilman Manan bersama Bupati Sragen Untung Wiyono melakukan panen raya jagung super hibrida BISI 816 program BLBU (Bantuan Langsung Benih Unggul) Non SLPTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) di Desa Ndari, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Jagung produk keluaran PT. BISI International Tbk itu ditanam pada lahan seluas 40 ha dengan sistem pengairan sumur dangkal.

Konsep sistem pengairan dengan memanfaatkan sumur dangkal memang sengaja diangkat sebagai salah satu upaya sosialisasi pentingnya menjaga kelestarian sumbedaya air tanah. Saat ini Bupati Sragen Untung Wiyono memang tengah getol menggalakkan program pembatasan penggunaan sumur air dalam.

“Sumur dalam pelan-pelan harus tidak ada di Sragen. Kalau sumur dangkal atau permukaan atas masih boleh. Karena hal ini (sumur dalam-red) bisa merusak bank air dan ekosistem yang ada di dalam tanah. Dampak seriusnya kita bisa kekurangan air nantinya,” terang Untung.

Sebagai langkah kongkrit untuk menjaga ketersediaan air tanah dangkal, setiap tahunnya Pemkab Sragen mengalokasikan anggaran untuk pembangunan embung-embung skala kecil maupun besar. “Kalau bisa tahun 2011 sudah tidak ada lagi sumur dalam, tapi kita bangun embung-embung skala kecil maupun besar. Itulah yang akan menjadi bank air bagi kita. Sehingga pada kedalaman 12 hingga 15 meter sudah bisa keluar airnya untuk dimanfaatkan,” lanjut Untung.

Capai 15,4 ton per hektar
Panen raya jagung BISI 816 itu menurut Untung juga sebagai salah satu bukti bahwa meskipun menggunakan sistem irigasi sumur dangkal, hal itu tidak akan mengganggu produksi dan hasil pertanian. Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan sehari sebelumnya, jagung super hibrida BISI 816 yang ditanam dengan sistem irigasi tersebut bisa berproduksi hingga 15,4 t/ha pipil kering panen.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Dirjen PLA Hilman Manan saat memberikan sambutannya. Menurutnya apa yang telah dilakukan oleh Pemkab Sragen itu bisa menjadi contoh yang baik dalam upaya mencukupi kebutuhan pangan dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya alam yang ada.

Panen raya tersebut menurut Hilman juga sebagai salah satu contoh nyata bahwa produksi pertanian tanaman pangan masih tetap bisa sejalan dengan upaya melestarikan dan menjaga keseimbangan ekosistem dan sumber daya alam, khususnya kelestarian air tanah.

Di sisi lain, tingginya hasil panen ubinan tersebut juga tidak lepas dari varietas benih jagung yang digunakan, yakni benih jagung super hibrida BISI 816. Varietas ini memang terbukti adaptif dalam segala kondisi lingkungan dengan tingkat produktivitas yang tinggi.

Menurut Sunarto, salah seorang petani yang ikut menanam BISI 816 di Plupuh mengatakan, jagung ini memang terbukti lebih unggul. Meskipun baru pertama kalinya menanam jagung hibrida yang bertagline “Rajanya Tongbes (Tongkol Besar)” ini, ia mengaku sangat puas dengan hasil yang bisa didapatkannya.

Dari 40 ha BISI 816 yang ditanam di lahan milik Kelompok Tani Makmur I, Narto sendiri menanam seluas 7.500 m2. “Saya sangat senang menanam jagung BISI 816 ini. Karena sangat menguntungkan. Hasilnya lebih meningkat, sekitar 20 persen lebih tinggi dibanding bibit jagung lainnya,” ujar petani asal Dusun Pojok, Desa Ndari, Plupuh, Sragen ini.

Dari cerita Narto, dalam satu petak lahan (sekitar 1.800 m2), biasanya ia bisa meraup sekitar Rp. 2,2 hingga 2,3 juta hasil penjualan jagung pipil kering hasil panennya. Namun setelah menanam BISI 816, tiap petaknya bisa mendapat lebih dari Rp. 3 juta, karena hasil panennya memang lebih banyak. “Kemarin dari 5.000 meter persegi saya dapat lima ton pipil kering. Biasanya hanya dapat tiga ton lebih sedikit,” imbuhnya.

Selain hasil yang lebih tinggi, rendemen hasil jagung ini juga tinggi. Karena, biji dalam tongkolnya bisa penuh sampai ujung dengan ukuran janggel kecil. “Bijinya nancep dalam,” tandas Narto. BISI 816 juga terbukti lebih tahan terhadap serangan penyakit utama pada tanaman jagung yang sering menjadi momok bagi para petani, yakni penyakit bulai (Peronosclerospora maydis).

Meningkatkan pendapatan petani
Sukses panen raya 40 ha jagung hibrida BISI 816 program BLBU non SLPTT itu, kata Untung,  setidaknya bisa menjadi pemantik rasa optimisme petani, khususnya petani Sragen, di tengah gejolak musim akhir-akhir ini. Ditambah lagi harga jagung di pasar dunia yang tercatat terus membaik, sehingga turut mendongkrak harga jual jagung dalam negeri.

Membaiknya harga jagung sudah barang tentu membuat petani semakin bergairah. Apalagi jika hasil panen yang diperoleh bisa lebih banyak dari biasanya, kocek petani pun akan semakin tebal.

Lebih lanjut Untung menyebutkan, pemerintah juga tetap berupaya untuk mengoptimalkan pasca panen petani, sehingga bisa turut menjaga kestabilan harga jual. “Pemerintah juga harus mengoptimalkan aspek pascapanennya, khususnya menyangkut harga jual. Intinya, petani yang berusaha optimal untuk menghasilkan produk berkualitas sedangkan pemerintah yang memberikan jaminan harga jual yang menguntungkan dan tidak merugikan petani. Sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani bisa terus meningkat,” ucap Untung. (AT : Vol. 12 No. 1 Edisi XLI, Januari - Maret 2011)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).