INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

BERMODAL Rp. 3 JUTA, RAUP RATUSAN JUTA RUPIAH
Meskipun baru pertama kalinya mencoba menanam Bhaskara, Margiyono merasa sangat puas dengan hasil yang bisa dia peroleh. Bagaimana tidak, dengan hanya bermodal uang Rp. 3,5 juta, petani asal Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini mampu meraup untung lebih dari Rp. 100 juta. Ia pun merasa bangga bisa mengembangkan produk-produk dari BISI yang terkenal dengan merek dagang Cap Kapal Terbang-nya.

Jumlah tanaman yang ditanamnya tidaklah banyak, hanya sekitar 3.200 batang. Namun, siapa sangka, meskipun tidak begitu banyak, cabai rawit hibrida baru dari PT. BISI International Tbk (BISI) itu mampu mengantarkan Margiyono meraup hasil hingga ratusan juta rupiah dalam sekali tanam.

Menurut Pak Yon, demikian dia biasa disapa, tren harga cabai yang melambung sangat tinggi dalam waktu relatif lama memang menjadi salah satu pemicunya. Ia pun mengaku sempat merasakan harga jual cabai tertinggi, yaitu Rp. 80.000 per kilogram. Namun, katanya, hal itu tidak akan berarti apa-apa kalau cabai yang ditanamnya tidak mampu tumbuh optimal dengan hasil yang melimpah.

“Tanamannya memang bagus, buahnya gembel (lebat-red). Sehingga saya bisa mendapat hasil lebih banyak dari biasanya. Apalagi harga cabai kan juga pas tinggi, jadi untungnya juga makin banyak,” ujar pria kelahiran Madiun itu sambil tersenyum.

Pak Yon juga mengatakan, varietas Bhaskara baginya memang lebih bagus dibandingkan varietas sejenis lainnya yang pernah ia dan petani setempat tanam. “Kalau Bhaskara, buahnya itu tidak pernah berhenti. Milik saya ini sudah 18 kali petik. Daya buahnya memang sangat bagus, tinggal petaninya mau mengoptimalkannya dengan selalu memberikan pupuk atau tidak,” terangnya.

Memang benar, saat Abdi Tani melihat langsung ke lahan, cabai Bhaskara yang dipanen dengan interval 3 – 4 hari sekali itu telah memasuki buah yang yang ketiga kalinya. Meskipun sudah berbuah hingga tiga kali, performa tanamannya masih tampak bagus dan menyenangkan.

Menurutnya, setelah pemanenan keenam atau ketujuh kalinya dan diberikan pupuk susulan lagi, trubus dan bunga baru sudah langsung muncul lagi. Hal inilah yang membuat cabai tersebut serasa tidak pernah berhenti berbuah.

“Dengan Bhaskara, untuk menghasilkan buah sebanyak delapan ons per tanaman itu sangat enteng (ringan-red). Sampai panenan ke-18 ini, saya sudah dapat dua belas kwintal kurang satu kilogram (1.199 kilogram-red),” terang petani yang juga pemilik kios pertanian di dekat rumahnya.

Selain produktivitas yang tinggi, menurutnya cabai tersebut juga lebih genjah umur panennya. “Umur 72 hari sudah petik. Tanamannya juga subur, bahkan antar kanopi tanaman saling tumpang tindih. Padahal jarak tanamnya sudah cukup lebar (60 x 40 cm)” terangnya.

Karena itulah, lanjutnya, cabai Bhaskara sangat diminati para petani, terutama yang ada di desanya. Pak Yon mengatakan, dalam kondisi musim normal, para petani di wilayahnya kebanyakan mengawali tanam pada pertengahan bulan Oktober. Dalam artian, penanamannya di akhir musim kemarau.

“Tanamnya nyanggong (menyambut-red) hujan. Kalau yang berani, akhir bulan sembilan (September-red) sudah mulai tanam. Hanya saja sebagai konsekuensi, pengairannya harus intensif selama dua minggu berturut-turut,” ujarnya.

Menurut Pak Yon, di desanya, Desa Kebonrejo, luas penanaman cabai sekitar 200 hingga 300 hektar. “Kalau di (kecamatan) Kepung sendiri sekitar 700 hingga 800 hektar. Biasanya selalu tanam serempak,” ucapnya. (AT : Vol. 12 No. 2 Edisi XLII, April - Juni 2011)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).