INFORMASI PRODUK

Darimana ANDA mendapatkan informasi produk-produk pertanian (Benih & Pestisida) ?
 

BISI apk

DENGAN SISTEM “KERING”, MASTER BISA CAPAI 12 KILOGRAM
Jika beberapa edisi yang lalu Abdi Tani sempat mengangkat kesuksesan petani mengembangkan semangka Master di kawasan pantai selatan Jawa, kali ini giliran petani di belahan pantai utara Jawa Tengah yang sukses menikmati hasil manis semangka hibrida berdaging buah kuning ini. Bahkan bobot buahnya bisa mencapai 12 kilogram.

Di salah satu kabupaten yang ada di kawasan pantura Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Kudus, terdapat sebuah desa penghasil semangka yang banyak dicari pedagang karena kualitasnya. Desa tersebut adalah Kutuk, yang berada di ujung selatan Kabupaten Kudus dan menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Undaan.

Meskipun dikenal sebagai salah satu sentra semangka di Kudus, namun penanamannya tidak sepanjang musim. Petani di Desa Kutuk hanya menanam semangka saat musim kering. “Biasanya awal bulan Mei sudah mulai persiapan pembibitan,” terang Sudarman, salah satu petani semangka sekaligus ketua kelompok tani Sido Rukun Desa Kutuk.

Lantaran hanya menanam di musim kering, maka sistem tanam semangka di desa ini lebih dikenal dengan “sistem kering”. Dengan sistem ini, petani di Desa Kutuk seperti Sudarman dan kelompoknya mampu menghasilkan buah semangka dengan kualitas berbeda dari daerah lain, baik dalam hal bentuk maupun rasanya. “Rasanya lebih manis dan lebih renyah,” kata Sudarman.

Karena itulah, semangka produksi petani Kutuk menjadi buruan banyak pedagang di pasaran. Bukan hanya semangka berdaging merah, tapi semangka berdaging buah kuning pun juga lebih diminati. Seperti saat petani Kutuk memanen semangka hibrida Master. Hasil panen semangka berdaging buah kuning ini juga sangat diminati pasar.

“Kami sudah tiga periode tanam Master. Semuanya bagus dan lancar. Terakhir saya tanam satu hektar dapat 53 juta (rupiah),” ujar Ruslan, salah satu anggota kelompok tani Sido Rukun. “Total saya bisa dapat sekitar 38 ton. Per buah, bobot rata-ratanya mencapai sembilan hingga sembilan setengah kilogram.”

Yang menarik, saat diadakan lomba, bobot buah semangka Master ada yang bisa mencapai 12 kilogram. “Di sini pernah dibuat lomba, (semangka) Master yang paling berat mencapai 12 kilogram,” tegas Ngateno, petani semangka di Desa Kutuk yang juga anggota kelompoknya Sudarman.

Manis dan tidak mudah pecah
Menurut Ruslan, semangka berdaging buah kuning biasanya memiliki karakter yang mudah pecah, lantaran kulitnya yang keras dan tidak lentur. “Tapi (semangka) Master ini tidak. Kulitnya lebih lentur sehingga tidak mudah pecah. Baik itu saat panen maupun saat di lapak,” jelasnya.

“Kulitnya memang lebih tebal, jadi lebih kuat saat pengangkutan jarak jauh. Jambalnya (daging buah-red) lebih manis dan mudah besar,” sambung Sudarman. Sudarman, yang juga biasa mengirim semangka untuk pasar Jakarta dan sekitarnya, menyebutkan bahwa ketahanan semangka Master mulai dari panen hingga di lapak-lapak pasar menjadi nilai tambah tersendiri yang menguntungkan petani dan juga pedagang.

Saat panen misalnya, menurut Sudarman, buah semangka Master bisa langsung dipetik dari tanamannya tanpa harus dilayukan terlebih dahulu untuk menghindari pecah buah. “Biasanya, buah semangka yang lain sehari sebelumnya harus dipangkas terlebih dulu agar sedikit layu dan tidak mudah pecah saat pengangkutan. Kalau Master bisa langsung petik tanpa takut pecah,” terangnya.

Demikian pula saat di pasar, semangka dengan warna kulit buah hijau kehitaman ini bisa bertahan hingga sebulan di lapak. “Sampai sebulan pun nggak ada masalah. Buahnya masih tetap bagus dan tidak busuk,” kata Sudarman yang memiliki 500 orang petani anggota.

Selain unggul dalam hal rasa dan daya simpan, semangka hibrida Master juga dinilai mudah dalam perawatan. “Perawatannya mudah. Gampang tumbuhnya, karena batang mudanya nggak mudah putus. Mulai dari pembibitan sampai tanaman tua lancar terus,” ujar Ngateno.

“Daya tumbuhnya juga bagus, 99 persen tumbuh baik dan normal. Begitu semai langsung prol tumbuh semua. Makanya petani juga senang melihatnya. Setelah ditanam di lahan pertumbuhannya juga cepat. Umur 58 hingga 60 hari sudah bisa dipanen. Bahkan, umur 55 hari sudah ditawar pedagang,” sambung Ruslan.

Ruslan juga menyebutkan, lantaran model tanamnya dengan sistem “kering” dan di musim yang juga kering, maka intensitas serangan hama penyakit relatif tidak terlalu tinggi. Sehingga biaya perawatannya lebih murah.

Hal inilah yang akhirnya membuat Sudarman dan kelompoknya selalu memilih Master saat musim tanam semangka datang. “Tahun kemarin saja kita sudah menanam 3.300 pack,” kata Sudarman. Berdasar hitung-hitungan Abdi Tani, dengan kebutuhan benih semangka sekitar 15 pack per hektar, maka dalam setahun kemarin Sudarman dan kelompoknya setidaknya telah menanam semangka hibrida Master seluas 220 hektar. (AT : Vol. 12 No. 2 Edisi XLII, April - Juni 2011)
 


PT. BISI International Tbk - PT. Tanindo Intertraco - PT. Multi Sarana Indotani (MSI).